Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Umumnya berawan, 20.1 ° C

Jokowi Respons Kartu Kuning dari Mahasiswa Universitas Indonesia, Begini Imbasnya

Muhammad Ashari

DEPOK, (PR).- Presiden Joko Widodo mengetahui aksi mahasiswa Universitas Indonesia yang mengangkat kartu kuning kepadanya. Aksi itu tidak membuat Jokowi tersinggung. Namun, pertemuan antara BEM UI dengan presiden pun menjadi batal karena peristiwa itu.

Hal itu disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi Sapto Prabowo. "Sebenarnya sudah dijadwalkan bahwa Presiden menerima Ketua BEM selepas acara karena katanya ada yg mau disampaikan dari BEM UI. Tapi, batal karena aksi tersebut," kata Johan Budi.

Saat Dies Natalis dimulai, memang terdapat peristiwa yang cukup menarik perhatian. Saat Jokowi akan memulai pidato dan sebagian besar peserta Dies Natalis duduk di tempatnya masing-masing, Ketua BEM UI Zaadit Taqwa tampak tetap berdiri. Dia mengacungkan buku panduan suara UI seukuran kertas A4 yang berwarna kuning. Paspampres pun berhasil menggiring mahasiswa Universitas Indonesia ini ke luar dari arena Dies Natalis.

Zaadit melakukan hal itu untuk memberikan semacam peringatan. Buku kuning tersebut diibaratkan kartu kuning yang diberikan mahasiswa Universitas Indonesia kepada pemerintahan Joko Widodo yang masih diliputi sejumlah permasalahan di tahun keempatnya ini.

Ada tiga permasalahan yang diungkitnya, yaitu masalah gizi buruk di Papua, kecenderungan munculnya kembali dwi fungsi TNI/Polri terkait wacana pejabat pelaksana tugas gubernur di beberapa daerah untuk menghadapi Pilkada 2018, dan rancangan Peraturan Menristek Dikti mengenai Organisasi Mahasiswa yang diduga akan membatasi ruang gerak mahasiswa.

Dies Natalis UI ke 68 ini dihadiri oleh sejumlah pejabat pemerintahan. Di antaranya Kepala DPD Oesman Sapta Odang, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Menteri Agraria Tata Ruang Sofyan Djalil, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Perkembangan teknologi



Dalam peringatan itu, Jokowi mengatakan perkembangan teknologi telah mempengaruhi lansekap ekonomi, sosial, budaya, dan politik nasional maupun internasional. Hal tersebut menuntut adanya perubahan paradigma dalam segala bidang.

Dia mengatakan, perkembangan teknologi kini telah membuat cara berbisnis lama tutup dan cara berbisnis baru bermunculan. Kehadiran internet membuat kemapanan bisnis supermarket goyah. Begitu juga dengan geliat bisnis perjalanan yang menurun drastis karena pengaruh penjualan tiket berbasis online.

Pertumbuhan teknologi internet juga mempengaruhi dunia politik dan pemerintah dipaksa untuk menyesuaikan diri. "Pemerintahan dipaksa kerja cepat dan efisien. Pekerjaan administrasi dan akuntan juga diautomatisasikan," kata dia saat memberikan pidato dalam Dies Natalies Universitas Indonesia ke-68, Jumat, 2 Februari 2018.

Perubahan di segala bidang itu pada gilirannya menuntut adanya perubahan dalam pola pikir dan cara kerja. Perubahan seperti itu dikatakannya bisa dimulai dari perguruan tinggi.

"Saya yakin pendidikan tinggi adalah organisasi paling sempurna sebagai rujukan inovasi. Organisasi yang paling responsif dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi," katanya.

Penopang ekosistem



Joko Widodo mengharapkan agar perguruan tinggi bisa menjadi penopang ekosistem nasional dalam menanggapi revolusi industri 4.0. Perguruan tinggi harus bisa mendorong perubahan inovasi di segala bidang. Dalam revolusi industri yang baru itu, katanya, inovasi adalah kunci agar bisa beradaptasi dalam perkembangan zaman saat ini.

"Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat dan berubah sangat cepat. Kita tidak bisa mengisolasi diri dari perkembangan tersebut. Revolusi industri yang sekarang berlangsung harus diantispasi secara serius," katanya.

Menurut dia, keinginan mahasiswa dan dosen untuk berinovasi saat ini harus terus ditumbuhkan. Kurikulum dan agenda riset harus diubah serta disesuaikan dengan teknologi dan kebutuhan baru. "Jangan terjebak rutinitas. Ini saya ulang berkali-kali di mana-mana. Cara-cara baru harus dikembangkan," ujarnya.

Dia mengatakan, pemerintah saat ini tengah bekerja dalam dua hal besar, yakni investasi di bidang infrastruktur dan sumber daya manusia. Proyek-proyek infrastruktur dibangun bukan semata untuk pembangunan ekonomi, tetapi juga untuk tercapainya pembangunan yang berkeadilan.

Setelah investasi di bidang infrastruktur dilakukan, investasi terhadap SDM juga perlu dilakukan agar negara bisa maju. Indonesia dikatakannya tidak mungkin maju tanpa adanya SDM yang unggul dan kompetitif. "Di satu sisi kita bisa menyelesaikan persoalan mendasar dan memenuhi kebutuhan dasar. Tapi, di sisi lain kita butuh SDM yang mampu memenangkan kompetisi global," ujarnya.

Berkontribusi



Rektor UI Muhammad Anies mengatakan, UI meluncurkan wadah kolaborasi antar ilmu dan bidang bernama Forum Kebangsaan UI. Tujuan forum tersebut untuk menyatukan akademisi UI supaya bisa memberikan sumbangsih pemikiran dan kontribusi nyata bagi penyelesaian masalah bangsa di berbagai bidang. Wadah tersebut diluncurkan berbarengan dengan Dies Natalies UI ke 68.

Dia mengatakan, kurikulum dan metode pembelajaran yang lebih inovatif, penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran, dan inovasi menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. UI dikatakannya akan terus memperbaiki diri dan berinovasi.

Dia menyebutkan beragam inovasi yang telah dilakukan. Beberapa di antaranya, yakni inkubator bayi hemat energi, kapal plat datar, vaksin kontrasepsi untuk pria, vaksin anti karies, deterjen cuci ramah lingkungan, dan kegiatan UI Peduli. "Ini adalah bentuk kolaborasi antar ilmu di UI untuk memecahkan permasalahan bangsa," katanya.

Anis mengatakan, UI saat ini menempati peringkat 277 perguruan tinggi terbaik di dunia dan peringkat 54 di Asia. "Di masa mendatang, UI tetap akan meningkatkan prestasi ini agar mampu berkontribusi dalam menjawab permasalahan dan tantangan bangsa di tingkat nasional dan global," katanya.***

Bagikan: