Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 27.9 ° C

Kekuatan Empat Pasang Kandidat Pilgub Jabar 2018 Berimbang

Bambang Arifianto
PESEPEDA melintas di samping papan sosialisasi Pilkada serentak di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung.*
PESEPEDA melintas di samping papan sosialisasi Pilkada serentak di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung.*

DEPOK, (PR).- Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Aditya Perdana menilai‎, kekuatan empat pasangan kandidat Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Jawa Barat masih berimbang. Tak adanya calon yang dominan, menuntut tim masing-masing kandidat harus bekerja keras memperkenalkannya kepada masyarakat.

Aditya mengatakan, minimnya pasangan yang mendominasi terlihat dari elektabilitas sejumlah kandidat yang tak terlalu menonjol. Untuk itu, lanjutnya, perlu adanya survey kembali guna mengukur kecenderungan pemilih Jabar.

Survey menjadi penting pula untuk mengukur peta politik terkini selepas pendaftaran empat pasangan calon. Kendati beberapa kandidat lekat dengan basis dukungan warga urban atau kaum muda serta kaum muda dan masyarakat pedesaan, konstelasi politik masih terbilang cair. 

Awalnya, Aditya menganggap karakteristik pemilih Jabar masih mempertimbangkan figur yang populer. "Karena 2 atau 3, pemilihan (Pilgub sebelumnya) kecenderungan artis yang dipilih," tuturnya.

Saat ini, kondisi tersebut berbeda. Dia mencontohkan, sosok Ridwan Kamil, Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar juga sama-sama populer dan dikenal masyarakat. Aditya mengungkapkan, tim sukses mesti bekerja keras "menjual" calon yang diusung ke semua lini masyarakat. 

 

"Dia kan harus menjangkau wilayah pedesaan, pesisir, pantai," ujarnya.

Negosiasi yang tak tercapai



Aditya mengaku munculnya empat pasangan pada Pilkada Jabar di luar dugaan. Dia sempat memprediksi hanya 2 atau tiga calon yang muncul.

Munculnya pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan dari PDIP, dan Sudrajat-Ahmad Syaikhu dari Gerindra, PKS, PAN menjadi bukti adanya proses negosiasi yang tak mencapai kesepakatan antara partai dengan kandidat awal.

Seperti PDIP yang sempat digadang-gadang menjatuhkan pilihan kepada Ridwan Kamil. Negosisasi yang mentok terkait persoalan sosok wakil diduga menjadi penyebab PDIP akhirnya mengusung calon sendiri.

Begitu pula dengan Gerindra yang mulanya cenderung mendukung Deddy Mizwar. Kehadiran kandidat-kandidat itu memunculkan poros baru selain Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil yang terlebih dahulu mengemuka.

"Sebenarnya dua poros yang diincar partai, karena tidak ada kesepakatan muncul calon baru," tuturnya.

Terkait potensi politiasasi isu SARA seperti DKI Jakarta, Aditya meragukan hal tersebut terjadi dalam Pilgub Jabar. Pasalnya, latar belakang kandidat terbilang homogen.

"Satu yang pasti dari semua kandidat tidak ada yang nonpribumi, tidak relevan isu itu. Paling nanti isu yang dilontarkan isu kota, desa pesisir," ucapnya. Akan tetapi, politisasi SARA masih bisa muncul bila kompetesi antar calon berlangsung ketat.

Seperti diketahui, empat pasangan calon mendaftar dalam Pilgub Jabar. Mereka adalah Ridwan Kamil - UU Ruzhanul Ulum,  Deddy Mizwar - Dedi Mulyadi, Sudrajat - Ahmad Syaikhu, TB Hasanuddin - Anton Charliyan.***

Bagikan: