Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Sebagian berawan, 20.4 ° C

Kasus Penusukan Pengemudi Ojek Online Murni Kriminal

Joko Pambudi
KAPOLRESTABES Bandung Hendro Pandowo didampingi Kasat Reskrim Yoris Marzuki menunjukkan barang bukti kasus penusukan pengemudi ojek online di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa Kota Bandung, Selasa 26 Desember 2017.*
KAPOLRESTABES Bandung Hendro Pandowo didampingi Kasat Reskrim Yoris Marzuki menunjukkan barang bukti kasus penusukan pengemudi ojek online di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa Kota Bandung, Selasa 26 Desember 2017.*

BANDUNG, (PR).- Kasus penusukan dengan korban Rochmat Sarjono (42), seorang pengemudi ojek online dipastikan tidak berkaitan dengan operasional armada transportasi tersebut. Kejadian yang dimaksud merupakan tindakan kriminal murni, dilatarbelakangi persoalan antara kelompok juru parkir dengan pengguna jalan.

"Ini bukan keributan antara ojek online dengan ojek konvensional. Ini murni tindakan kriminal," ujar Kapolrestabes Bandung Hendro Pandowo. Ia didampingi Kasat Reskrim Yoris Marzuki saat menggelar konferensi pers di Mapolrestabes Bandung, Selasa 26 Desember 2017.

Seperti diberitakan​ sebelumnya, seorang pengemudi ojek online, Rochmat Sarjono (42), diduga menjadi korban penganiayaan di Jalan Supratman Kota Bandung, Senin 25 Desember 2017 sekitar pukul 21.00 WIB. Dia mengalami luka tusuk di bagian pinggang, kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Santo Yusup untuk mendapatkan perawatan medis.

Dari total pelaku berjumlah empat orang, tiga di antaranya diamankan beberapa saat kemudian, sedangkan satu orang masih dalam pengejaran. Sebagai reaksi atas peristiwa yang sama, sejumlah perwakilan pengemudi transportasi berbasis aplikasi sempat datang ke Mapolrestabes Bandung untuk meminta pengusutan kasus secara tuntas.

Pelaku penusukan



Setelah meminta keterangan dari sejumlah saksi serta olah tempat kejadian perkara, tiga orang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah AD, AS, dan AL. Barang bukti yang diamankan polisi berupa balok kayu, batu, serta pisau lipat yang digunakan saat penganiayaan.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa ketiga pelaku merupakan juru parkir yang bekerja di salah satu kedai makan di lokasi tersebut. Sesaat sebelum kejadian, mereka tengah memarkirkan kendaraan.

Sempat terjadi persoalan karena ada salah satu pengguna motor yang enggan berhenti untuk memberi jalan bagi kendaraan yang tengah diparkir. Buntutnya, penganiayaan terjadi hingga korban dilarikan ke rumah sakit, dengan luka di bagian pinggang kiri, wajah memar serta tangan lecet.

Hendro mengatakan, saat ini petugas masih melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk dengan menangkap seorang tersangka lain yang masih buron. Mereka dijerat dengan Pasal 170 KUHP dengan ancaman di atas 5 tahun penjara. "Satu orang lagi berinisial E sedang dalam pengejaran," katanya.

Kejadian spontan



Salah seorang pelaku, AD, mengaku bahwa insiden tersebut tidak direncanakan. Penganiayaan semata-mata terjadi karena perselisihan, bukan karena korban merupakan pengemudi ojek online.

Tanpa dikomandoi, penganiayaan terjadi begitu saja dengan menggunakan balok kayu serta senjata tajam. Dia juga mengaku bahwa saat kejadian, mereka tengah dalam pengaruh minuman beralkohol.

Jangan mudah terprovokasi



Sementara itu, Yan Restu Langit, perwakilan dari Himpunan Driver Bandung Raya menyampaikan apresiasi atas kinerja kepolisian dalam menangani kasus tersebut. Dia berharap pengamanan terus ditingkatkan, terutama di daerah tertentu yang rawan premanisme.

Pada saat yang sama, dia juga mengimbau seluruh pengemudi ojek online untuk tidak mudah terprovokasi jika mendapat informasi tertentu. "Kroscek dulu, jangan mudah terprovokasi oleh informasi hoax. Jangan main hakim sendiri, laporkan kepada yang berwajib," ujarnya.***

Bagikan: