Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.505,00 | Umumnya berawan, 27.7 ° C

Festival Reak Bandung 2017, Ajang Pelestarian Seni Tradisional

Retno Heriyanto
BELASAN penawi kesenian reak asal Kebon Jayanti Kiaracondong mengalami kerasukan saat kelompok Reak Oray Hejo tampil di Festival Reak Bandung 2017 di Pasar Mingguan Kelurahan Palasari, Cibiru Kota Bandung. Minggu, 24 Desember 2017.***

BANDUNG,(PR).- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Minggu 24 Desember 2017, kembali menggelar Festival Reak Bandung 2017 di Pasar Mingguan Kelurahan Palasari, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Rangkaian festival digelar dalam rangka pelestarian dan pemanfaatan seni budaya tradsional diiukuti 20 grup kesenian reak.

Kesenian tradisional reak selama ini identik sebagai kesenian asal Ujungberung dan Cibiru. “Tapi setelah secara rutin digelar festival reak, ternyata dibeberapa wilayah Kota Bandung juga banyak grup atau kelompok kesenian reak. Bahkan kreativitasnya sangat luar biasa,” ujar Wawan Setiawan pupuhu Dapur Seni Budaya Cibiru. Dia mengungkapkan hal itu disela rangkaian Festival Reak Bandung 2017.

Kolaborasi seni



Kesenian reak identik dengan seni bengberokan (kedok) dan tarian jogol serta kuda lumping (jaranan) diiringi musik dogdog. Selain itu juga seringkali diwarnai dengan peristiwa kerasukan para penari yang mengikuti pemain bengberokan dan dogdog.

Di ajang Festival Reak Bandung 2017, kesenian reak juga dikolaborasikan dengan sejumlah kesenian lainnya. Seperti yang ditampilkan sejumlah peserta menampilkan seni badawang (boneka besar), tarian seperti halnya penari sintren dan lainnya.

Namun pendeknya waktu yang disediakan pihak penyelenggara untuk setiap grup hanya tampil 5 menit dianggap terlalu singkat. Bukan hanya peserta yang merasa kurang puas, tapi ribuan penonton yang menyemut di Lapangan Pasar Mingguan Palasari, Cibiru Kota Bandung, juga sangat menyayangkan pendeknya waktu penampilan.***

Bagikan: