Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Sejumlah Tempat Wisata Ditutup, Lembang Tetap Macet

Hendro Susilo Husodo

NGAMPRAH, (PR).- Cuaca ekstrim berupa angin kencang rupanya tak menyurutkan wisatawan untuk mendatangi kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 2 Desember 2017. Walaupun sejumlah objek wisata ditutup oleh pengelolanya agar tak membahayakan pengunjung, kemacetan tetap terjadi di ruas jalan utama dan jalur alternatif di sekitar Lembang.

Seorang sopir angkot Stasiun Bandung-Lembang, Memed (62) mengeluhkan kemacetan di kawasan Lembang, karena membuat angkot sepi penumpang dan membuat biaya untuk bahan bakar semakin besar.

"Macetnya sudah lebih dari parah, terutama di depan pintu masuk Farmhouse. Ya pasti rugilah. Untuk setoran sih ada, tapi buat bawa pulang ke rumah enggak ada," tuturnya, di pinggir Jalan Raya Lembang.

Menurut Kepala Polsek Lembang Rahmat Lubis, kemacetan terjadi di hampir seluruh wilayah Lembang, namun kendaraan masih tetap bisa melaju. Dibantu oleh jajaran dari Koramil Lembang dan Pusdikajen, pengaturan lalu lintas di sejumlah titik diterapkan dengan sistem buka tutup.

"Roda masih bisa terus berputar, walaupun hanya dengan kecepatan 5 kilometer per jam. Seperti yang terjadi setiap libur panjang, di Lembang kali ini pun banyak bus dan kendaraan penumpang lainnya dari berbagai daerah. Kami menerapkan buka tutup jalan dengan jarak yang pendek, karena ruas jalan di Lembang tidak memungkinkan untuk melakukan one way panjang," katanya.

Sales & Marketing Manager The Lodge Maribaya Puji Fauziah mengatakan, The Lodge Maribaya hanya ditutup pada Kamis, 30 November 2017, sedangkan Jumat, 1 Desember 2017, dan Sabtu buka seperti biasa. Dalam sehari, diperkirakan terdapat sekitar 3.000 pengunjung ke tempat wisata alam yang terletak di Desa Cibodas itu.

"Demi keselamatan pengunjung, Kamis kami sempat tutup setengah hari ketika ada angin kencang. Saat itu, seluruh pengunjung dan karyawan diamankan ke resto tertutup. Untuk Jumat dan Sabtu, The Lodge Maribaya buka seperti biasa. The Lodge Maribaya kan tidak dikelilingi pohon besar atau berada di dalam hutan, tetapi pemandangannya ke arah hutan pohon pinus," tuturnya.

Cikole masih ditutup

Sementara itu, pemilik Grafika Cikole Lembang, Eko Suprianto menyatakan bahwa tempat wisata outbond dan hotel miliknya terpaksa ditutup sejak Kamis lalu, karena cuaca di sekitar Cikole masih cukup membahayakan. Dampak dari siklon tropis dahlia, menurut dia, menimbulkan lima pohon pinus tumbang di sekitar Grafika Cikole.

"Walaupun posisinya di luar pagar Grafika, pohonnya itu jatuh ke dalam. Ada 4 pohon roboh Kamis pagi, dan 1 pohon Kamis malam. Kemarin dan sekarang (Sabtu) sudah berkurang anginnya, tapi masih tetap mengerikan. Di atas (Cikole) itu anginnya sangat kencang, jadi operasional kami ditutup selama tiga hari. Yang ditutup itu untuk di area hutan, kalau restoran yang di depan tetap buka," katanya.

Dalam sehari, menurut dia, penutupan itu membuatnya kehilangan omzet sekitar Rp 100 juta. Sejumlah wisatawan yang sudah memesan kamar pun terpaksa dialihkan ke hotel lainnya. Eko pun belum bisa memastikan kapan Grafika Cikole Lembang buka seperti biasa, karena harus melihat kondisi alam terlebih dahulu.

"Padahal, secara umum pengunjung itu ramai banget. Tadi saya pulang dari Cikole ke Gegerkalong sampai tiga jam, padahal itu sudah memotong jalur lewat jalan-jalan desa. Untuk hunian hotel di Lembang, kami belum punya datanya, tetapi biasanya long week end itu selalu penuh. Namun, semalam itu kami mengover tamu ke hotel lain ternyata masih bisa. Jadi, kalau untuk tingkat okupansi enggak begitu padat," kata Eko, yang juga Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia KBB itu.

Utamakan keselamatan



Administratur Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan Bandung Utara Komarudin memohon maaf kepada para pengunjung berbagai tempat wisata Perhutani, karena sejak Kamis sampai Sabtu terpaksa ditutup demi keselamatan wisatawan. Selain Grafika Cikole Lembang, tempat wisata Perhutani lainnya ialah Orchid Forest, Cikole Jayagiri Resort, PAL 16, Lintas Hutan Indah Jayagiri, Gerbang Wilhelmina, Zona 235, Curug Pelangi, dan Curug Layung.

"Pada prinsipnya, kami lebih mengutamakan keselamatan jiwa. Jadi, seluruh petugas maupun Lembaga Masyarakat Desa Hutan ditarik keluar dulu. Untuk kawasan Perhutani kami kosongkan dulu dari pengunjung, karena pertimbangan keselamatan. Soalnya, anginnya ini memang luar biasa," katanya.

Menurut dia, rata-rata pohon di lahan Perhutani berumur lebih dari 40 tahun. Walaupun secara daur tebang sudah lewat, kata dia, penebangan pohon tak bisa dilakukan di kawasan hutan lindung, sesuai dengan undang-undang kehutanan. Perhutani pun baru akan menginventarisir pohon-pohon yang tumbang secara menyeluruh setelah cuaca memungkinkan.

"Sementara ini kami belum berani menerjunkan petugas untuk menginventarisir ke dalam kawasan hutan, karena cuacanya memang sangat ekstrim. Namun, kami nanti tetap harus laporkan, karena menyangkut neraca keseimbangan hutan yang harus terjaga. Kalau ada lahan yang kosong, kami programkan penanaman kembali," tuturnya.

Dari inventarisir sementara, dia menyebutkan, setidaknya ada 48 pohon yang tumbang di wilayah Perhutani. Sebanyak 32 pohon tumbang pada Kamis, dan 16 pohon tumbang pada Jumat. "Itu yang sudah teridentifikasi masuk ke dalam laporan, tetapi memang ada indikasi jumlahnya lebih dari itu. Soalnya, kawasan hutan yang di dalam kan belum kami inventarisir," ujarnya.***

Bagikan: