Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 26.2 ° C

Mantan Pecandu Narkoba Ini Sukses Jadi Petani Sayur

Hendro Susilo Husodo
Ade Rukmana (34), merawat tanaman tomat bersama anaknya di perkebunan sayur, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 23 November 2017 lalu. Walau sempat menjadi pecandu narkoba, kini Ade sukses dengan usaha kebun sayurnya, bahkan sayuran yang ditanamnya sudah menembus pasar internasional.*
Ade Rukmana (34), merawat tanaman tomat bersama anaknya di perkebunan sayur, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 23 November 2017 lalu. Walau sempat menjadi pecandu narkoba, kini Ade sukses dengan usaha kebun sayurnya, bahkan sayuran yang ditanamnya sudah menembus pasar internasional.*

BANDUNG, (PR).- Sempat menjalani kehidupan kelabu dalam jeratan narkoba selama bertahun-tahun, Ade Rukmana (34) mencoba bangkit dengan berlakon sebagai petani di Kampung Cijerokaso Wetan, RT 1 RW 17, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Di kampung itu, dia pun turut merangkul anak-anak muda untuk ikut mengolah pertanian.

"Sampai sekarang, stigma negatif pencandu narkoba itu masih dilekatkan oleh sejumlah orang kepada saya. Saya enggak menyalahkan, karena memang dulu itu saya pemakai. Sejak duduk di bangku SMP kelas 1, saya sudah memakai narkoba. Namun, sekarang saya ingin menunjukkan kepada orang-orang, bahwa saya benar-benar sudah berubah," kata Ade, belum lama ini.

Terlahir sebagai bungsu dari empat bersaudara, dia mengaku jadi satu-satunya anak di keluarganya yang memiliki jalan hidup menyimpang. Sewaktu SMA, dia menamatkan studi di lima sekolah karena berulang kali dikeluarkan oleh pihak sekolah.

"Cuma saya yang 'bengkok'. Makanya, saya balik lagi ke sini, kerja jadi petani, untuk memperbaiki nama baik keluarga," ucapnya.

Dia mengisahkan, upayanya untuk terbebas dari narkoba dimulai pada 2005, dengan bergabung ke komunitas rehabilitasi Rumah Cemara di Kota Bandung. Selama 1,5 tahun menjalani program rehabilitasi, Ade lalu pulang ke Cibodas, namun kembali mengonsumsi narkoba.

Dia pun kembali lagi ke Rumah Cemara, hingga akhirnya bergabung menjadi staf di Rumah Cemara selama delapan tahun.

Pulang lagi ke Cibodas, dia lantas bertekad untuk mengabdikan diri pada lingkungan sekitar. Bersama kakaknya, Ade turut membesarkan Kelompok Tani Macakal, yang menghimpun kemitraan dengan sekitar 170 petani.

Buncis Kenya



Dia pun mengetuai Serenity Farm, yakni salah satu divisi usaha dari Kelompok Tani Macakal yang khusus mengelola hasil pertanian untuk diekspor ke luar negeri.

"Serenity diambil dari serenity prayer, nama kegiatan doa kedamaian buat para pencandu di Rumah Cemara. Sejak Oktober lalu, Serenity Farm mulai memasok buncis kenya ke perusahaan eksportir sayuran, untuk diekspor ke Singapura. Dalam seminggu, kami sudah kirimkan 500 kilogram buncis kenya ke luar negeri," tuturnya.

Walaupun baru terbatas pada komoditas buncis kenya, dia berharap usaha sayuran yang dipasarkan ke luar negeri itu dapat meningkatkan animo anak muda lainnya di Cibodas untuk ikut-ikutan bergelut di sektor pertanian. Pasalnya, dengan menjual hasil pertanian ke luar negeri, praktis pendapatan para petani pun ikut meningkat.

"Mudah-mudahan imbasnya itu jadi semakin banyak anak muda di sini yang tertarik jadi petani, karena kecenderungan anak muda itu kan enggak mau kerja di pertanian. Di Serenity Farm itu kami bukan hanya ingin menghasilkan komoditas pertanian yang bersih dan sehat, tetapi juga orang-orangnya, biar enggak ada anak muda yang nongkrong mabuk-mabukan lagi," katanya.

Dipelopori lima pemuda



Ketua Kelompok Tani Macakal Triana menyebutkan, kelompok taninya dibentuk pada 2010 dengan dipelopori oleh lima pemuda. Dari 40 anggota, banyak anggota Kelompok Tani Macakal yang berusia 20-35 tahun.

Sekitar 20 petani dari 170 mitra pun merupakan pemuda yang belum menikah. Selain buncis kenya yang diekspor, sejumlah komoditas lainnya pun dipasok ke pasar-pasar modern di Bandung dan Jakarta.

"Nah, Sarenity Farm dibuat untuk mengelola hasil pertanian dari hulu ke hilir. Jadi, dari mulai produksi sampai dengan pengembangan pasarnya dikelola oleh petani. Petani tidak perlu memikirkan lagi bagaimana menjual hasil pertanian ke tengkulak, karena sekarang itu kan dinamikanya kayak begitu," tuturnya.***

Bagikan: