Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Sebagian berawan, 23.6 ° C

Siswa Tewas Saat Berkelahi di Banjaran, Ini Kata Netty Heryawan

Novianti Nurulliah

BANDUNG,(PR).- Seorang siswa SD di Banjaran Kabupaten Bandung tewas setelah dipukuli oleh teman sebayanya. Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (TP2TP2A) ‎Jawa Barat turun tangan dalam menangani kasus ini.

TP2TP2A Jabar berkoordinasi dengan TP2TP2A Kabupaten Bandung. Terutama untuk mendampingi aspek pikologisnya. P2TP2A pun mendorong agar sekolah ramah anak, menjadi solusi untuk‎ mengindari kasus kekerasan terulang.

"Kalau kita lihat dari kekerasan yang terjadi, dari ranahnya, pelakunya, kasusnya sangat beragam. Oleh karena itulah kasus ini bagi kita semua harus menyegerakan implementasi sekolah ramah anak, sekolah sehat dan sekolah lingkungan. Hari ini yang sudah di implementasikan sekolah sehat dan sekolah lingkungan dimana sekolah berbasis ramah lingkungan ini hampir jarang. Masih sedikit," ujar Ketua TP2TP2A Jabar, Netty Prasetyani Heryawan di Gedung Sate, Senin 27 November 2017.

‎Menurut dia, kedepan sekolah ramah anak ini bukan hanya menyasar SMA, SMK Negeri yang menjadi kewenangan provinsi. Hal itu sudah menjadi permendikbud tahun 85 tahun 2015, harus diimplementasikan ke semua jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA dan MA, Semua harus menggunakan konsep ini.

"Sekolah yang ramah, pembelajaran yang ramah, mulai dilakukan di rumah, karena kita tidak menutup mata kekerasan itu masih terjadi, entah dari guru atau pendidik kepada siswa. Bahkan antar siswa, memerlukan perhatian dan tanggung jawab semua pihak. Bukan hanya pihak sekolah atau pengawas sekolah tetapi juga orang tua murid bisa turut mengambil peran yang benar dan tepat," ujar dia.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, selain menggagas pemerataan kualitas pendidikan di Jabar, tapi juga telah menggagas sekolah ramah anak. "Kita sudah menggagas, sekolah berbasis ramah anak, tidak ada kekerasan, sehingga guru akan menjadi orang tua murid saat di sekolah, " ujar dia.

Kronologis tewasnya siswa SD



Diduga dipicu permasalahan sepele, seorang siswa kelas 5 di salah satu sekolah dasar negeri di Banjaran Kabupaten Bandung berinisial AG (11), tega menghabisi nyawa siswa sekolah lain berinisial AM (11) hingga meninggal. 

Kejadian tersebut terjadi pada saat para murid itu memperingati Hari Guru Nasional di Kabupaten Bandung. Saat itu, para dari beberapa sekolah menggelar pertandingan sepak bola di lapang belakang SMK PGRI Banjaran, Sabtu, 25 November 2017, sekitar pukul 09.00 WIB.

Kejadian tragis yang merenggut nyawa AM tersebut dibenarkan Kapolsek Banjaran Susi Rachmi saat dikonfirmasi. Dibenarkan Susi, korban AM meninggal setelah dianiaya pelaku ketika tim sepakbola sekolah AM dan AG akan bermain bola.

Disinggung mengenai motif pelaku, lanjut Susi, berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun pihaknya, sebelum korban dianiaya pelaku, korban sebelumnya ditantang berkelahi oleh pelaku. Tindakan tersebut dilakukan pelaku karena sebelum perkelahian terjadi, korban yang mengendarai sepeda motor meraung-raungkan suara knalpotnya hingga terdengar suara berisik.

“Selanjutnya ketika akan bermain bola, pelaku bertemu dengan korban yang akhirnya pelaku langsung marah kepada korban atas tindakan korban dan terjadilah perkelahian tersebut,” ungkap Susi.

Masih dikatakan Susi, berdasarkan keterangan dari para saksi yang merupakan teman korban, pada saat korban ditantang berkelahi oleh pelaku, korban mengaku tidak berani meladeni pelaku. Korban pun sempat meminta maaf kepada pelaku.

Akan tetapi, lanjut Susi, permintaan maaf korban tidak digubris pelaku hingga akhirnya korban pun dipukuli pelaku. Dari hasil pra-rekonstruksi yang digelar, lanjut Susi, pelaku memukul ulu hati korban.

Setelah itu, pelaku menendang kemaluan korban. Tidak cukup di situ, pelaku memukul kembali ulu hati korban hingga akhirnya korban tersungkur.

Dalam kondisi korban yang tidak berdaya itu, pelaku memukul lagi ke arah leher korban sebanyak 3 kali dan memukul hidung korban. Kejadian tersebut, lanjut Susi, sempat dilerai teman korban dan pelaku pun lari dari lokasi tempat korban dipukuli.

Melihat kondisi temannya yang pingsan akibat perkelahian tersebut, lanjut Susi, teman korban kemudian meminta bantuan kepada guru yang tidak jauh dari lokasi perkelahian. Sebagian teman korban yang lain berusaha membantu korban.

“Setelah mengetahui kejadian tersebut, para guru kemudian langsung membawa korban ke Puskesman Nambo. Akan tetapi, nyawa korban tidak terselamatkan dan menghembuskan nafas terakhir. Pelaku sudah kami amankan untuk dimintai keterangannya,” ungkap Susi.***

Bagikan: