Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Sebagian cerah, 30 ° C

Inspeksi Produk Ekspor Sayur Dimulai dari Kebun

Hendro Susilo Husodo
KEPALA Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta, Eliza Suryati Roesli, memeriksa proses pemeriksaan sayuran yang layak ekspor pada acara peluncuran sistem inline inspection karantina produk sayuran di gudang pengepakan sayur Raja Farm di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (23/11/2017). Sistem tersebut dilakukan agar ekspor sayuran dipastikan akan terjamin kualitasnya karena pemeriksaan dilakukan dari hulu sampai hilir.
KEPALA Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta, Eliza Suryati Roesli, memeriksa proses pemeriksaan sayuran yang layak ekspor pada acara peluncuran sistem inline inspection karantina produk sayuran di gudang pengepakan sayur Raja Farm di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (23/11/2017). Sistem tersebut dilakukan agar ekspor sayuran dipastikan akan terjamin kualitasnya karena pemeriksaan dilakukan dari hulu sampai hilir.

NGAMPRAH, (PR).- Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta meluncurkan sistem in-line inspection karantina produk sayuran di gudang pengepakan sayur Raja Farm di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 23 November 2017. Dengan sistem itu, ekspor sayuran dipastikan akan terjamin kualitasnya, karena pemeriksaan dilakukan dari hulu sampai hilir.

Kepala BBKP Soekarno Hatta Eliza Suryati Roesli mengatakan, sistem in-line inspection adalah pengawalan produk ekspor pertanian dari mulai di penanaman, panen, sampai dengan pengepakan, agar terjaga kualitasnya. Sebelumnya, program serupa sudah dilaksanakan untuk ekspor buah-buahan, namun untuk produk sayur-sayuran baru dimulai kali ini.

"Prosesnya itu petugas karantina melakukan pengawalan dengan sistem in-line inspection. Jadi, sejak di kebun dilihat, apakah tanamannya sudah terkendali dari hama penyakit dan residu pestisidanya? Kemudian saat panen dilihat, apakah hasilnya sudah sesuai dengan standard? Sampai dilakukan packing, kami kawal juga," katanya.

Menurut dia, sistem tersebut diterapkan untuk mempercepat proses ekspor hasil pertanian dan memudahkan penyertifikasiannya di bandara. Dengan demikian, hasil pertanian yang tidak memenuhi persyaratan ekspor di negara tujuan dapat dicegah sejak awal. Apalagi, produk pertanian cenderung lebih rentan rusak.

"Sistem ini diterapkan pada semua hasil pertanian, karena itu memang ada perjanjiannya, ada Phyto Sanitary Certificate. Jadi, setiap komuditas pertanian yang diperdagangkan di internasional itu harus memenuhi persyaratan kesehatan tumbuhan. Phyto Sanitary Certificate itu diperlukan di seluruh negara," tuturnya.

Di sejumlah negara produk pertanian asal Indonesia, terang dia, cukup sulit diekspor karena tidak memenuhi standard negara tujuan. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian RI menerapkan sistem in-line inspekction.

"Karena ini adalah program pemerintah, jadi tidak dikutip biaya. Paling buat sertifikatnya, itu cuma Rp 5.000. Petugas melakukan pemeriksaan di kebun di sini, sampai dengan di bandara, itu dibiayai negara," ucapnya.

Ekspor buncis kenya



Direktur Raja Farm Ninik Sri Sunarmiatni mengatakan, dalam sepekan pihaknya mengekspor buncis kenya ke Singapura sebanyak 1 ton. Sebelum diekspor, pihaknya dua kali melakukan sortir buncis kenya, yakni ketika menerima dari petani dan saat pengepakan. Oleh karena itu, dia meyakini produk yang diekspor dapat terjaga.

"Sebetulnya standard kami sudah cukup baik. Kebetulan kami sudah ke Singapura untuk survey market, baik ritel modern maupun pasar basah. Secara kualitas, produk pertanian Indonesia sangat bisa bersaing dengan banyak negara. Namun, pada umumnya petani kurang aware dengan edukasi ini, kemudian seringkali ada masalah saat handling pasca panen. Jadi, saat sampai ke negara tujuan itu banyak sekali yang reject," katanya.

Buncis kenya yang diekspor ke Singapura itu disuplai oleh sekitar 170 mitra tani di Kelompok Tani Macakal. Ketua Kelompok Tani Macakal Triana menyebutkan, buncis kenya merupakan komoditas unggulan yang ditanam pada lahan seluas 18,6 hektare.

Buncis kenya yang diproduksi, kata dia, minim residu pestisida. Ke depan, dia berencana menerapkan pertanian organik.***

Bagikan: