Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Badai petir, 28 ° C

Pestisida Palsu Masih Banyak Beredar

Asep Budiman
Direktur Eksekutif Croplife Indonesia, Agung Kurniawan (berbatik), menyebutkan, perang terhadap produk pestisida palsu dan ilegal merupakan tugas bersama pada lokakarya di Hotel Puteri Gunung, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 8 November 2017. Pemalsuan bukan hanya merugikan petani dan pasar produsen, melainkan juga merusak lingkungan.
Direktur Eksekutif Croplife Indonesia, Agung Kurniawan (berbatik), menyebutkan, perang terhadap produk pestisida palsu dan ilegal merupakan tugas bersama pada lokakarya di Hotel Puteri Gunung, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 8 November 2017. Pemalsuan bukan hanya merugikan petani dan pasar produsen, melainkan juga merusak lingkungan.

NGAMPRAH, (PR).- Peredaran produk pestisida palsu di tingkat petani masih tinggi sehingga menurunkan produktivitas tanaman. Pemalsuan bukan hanya merugikan petani dan pasar, melainkan juga merusak lingkungan.

Berdasarkan survei Insight Asia tentang pemalsuan pestisida di beberapa wilayah kecamatan Indonesia, sebanyak 26 persen petani pernah membeli produk pestisida palsu dari toko-toko pertanian di tingkat desa. Padahal, lebih dan 67 persen petani sudah mempunyai pengetahuan mengenai informasi pestisida palsu dan ilegal.

Direktur Eksekutif Croplife Indonesia, Agung Kurniawan, mengatakan, perang terhadap produk palsu dan ilegal merupakan tugas bersama. Diharapkan, adanya kolaborasi dengan membangun pemahaman yang sama bahwa pemalsuan bukan hanya merugikan petani dan pasar produsen, melainkan juga merusak lingkungan.

"Dari hasil investigasi, banyak faktor yang membuat produktivitas tanaman tidak maksimal salah satunya penggunaan pestisida palsu," ujar Agung dalam lokakarya di Hotel Puteri Gunung, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 8 November 2017.

Agung mengatakan, pemalsuan dan ilegalisasi produk masih menjadi pekerjaan rumah bagi berbagai sektor industri, termasuk sektor pertanian. Pemalsuan pestisida merupakan kejahatan global yang memerlukan penanganan yang lebih komprehensif oleh para penegak hukum dan aparat terkait, termasuk kolaborasi dengan pihak swasta. 

Sangat kecil



Namun, Agung menjelaskan, persentase terhadap informasi keberadaan pestisida palsu dan ilegal sangat kecil, bahkan data di kepolisian menunjukkan hanya mencapai 10 persen, sedangkan petani dan petugas penyuluh lapangan (PPL) rerata 30 persen dan Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) serta bea cukai mencapai angka 60 persen. Sebagian besar petani yang mendapati memakai produk palsu baru menyadari membeli produk palsu ketika melakukan aplikasi pada tanaman.

Namun, tidak demikian halnya dengan produk ilegal karena ironisnya ada juga petani yang dengan sadar membeli produk ilegal meskipun hanya sejumlah 3 persen. Tingkat kesadaran untuk melaporkan adanya produk palsu hanya sebesar 28 persen dan produk ilegal lebih tinggi mencapai 50 persen. 

Menurut dia, PPL merupakan salah satu tempat yang paling banyak menerima laporan, selebihnya mereka melaporkan ke toko, dinas, dan pemerintah setempat. Sejauh ini, keberadaan produsen produk palsu dan ilegal ini masih belum terdeteksi secara akurat. 

Petani di Indonesia sering menghadapi biaya produksi yang tinggi dan terancam mengalami kegagalan panen, salah satunya disebabkan oleh serangan hama dan penyakit. Dia menilai, petani masih kurang memiliki pengetahuan mengenai praktis pertanian yang baik dan praktis penggunaan pestisida yang baik.

Pengaplikasian pestisida yang tidak rasional merupakan ciri khas dari produksi pertanian di Indonesia. Selain mengakibatkan biaya produksi yang tinggi dan keuntungan yang sedikit, kata Agung, efek dari pengaplikasian pestisida yang tidak rasional dapat merugikan kesehatan pengguna dan konsumen serta merusak ekosistem lingkungan.

"Ditambah dengan permasalahan penggunaan dan pemalsuan produk pestisida, tidak tanggung-tanggung biasanya pestisida yang dipalsukan adalah pestisida yang berharga mahal dan paten yang menyebabkan kerugian petani sangat besar," ucapnya.

Pencegahan



Direktur Pupuk dan Pestisida Kementerian Pertanian, Karimila Ginting, menuturkan, berbagai langkah pencegahan telah dilakukan, di antaranya pembinaan kepada KP3 di tingkat provinsi dan kabupaten, juga kepada distrbutor dan petani. Pihaknya pun senantiada memonitor pestisida di tingkat pabrik, distributor, dan pengecer.

Ketika ada dugaan, pihaknya mengambil sampel untuk uji mutu di laboratorium. Jika ditemukan komposisinya tidak sesuai dengan bahan aktif terdaftar, dia akan meminta klarifikasi atau teguran, bahkan dilaporkan ke Bareskrim Polri.

Kanit 5 Subdit 1 Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Sugeng Irianto, menyatakan, sejak 2013, sudah 60 kasus yang diungkap, hanya kurang menimbulkan efek jera karena vonisnya kurang maksimal. Apalagi, pola dan modusnya pun bermacam-macam sehingga perlu pemahaman dinamis agar dapat menindaknya.***

Bagikan: