Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Pengerukan Bukit Mengganggu, Pondok Pesantren Surati Bupati Bandung

Gugum Rachmat Gumilar

SOREANG, (PR).- Warga Nagreg Kendan, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung meminta aktivitas pengerukan tanah di bukit dekat kediaman mereka dihentikan. Pasalnya, dengan kemiringan bukit yang sangat curam, aktivitas pengerukan bukit tersebut dikhawatirkan menimbulkan longsor. Apa lagi, lokasi bukit tepat di belakang deretan pemukiman warga di sepanjang jalur Nagreg lama.

Pipin Suhendar, warga Kampung Pamucatan, Desa Nagreg Kendan, menyebut bahwa aktivitas pengerukan bukit tersebut sudah berjalan sekira tiga bulan terakhir. Namun sampai saat ini warga merasa tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah terkait pengerukan itu, apa lagi dimintai izin.

“Di bukit itu bukan hanya tanah, tapi batu juga. Nanti yang kebagian (longsor) ya masyarakat juga. Belum lagi dengan kerusakan jalan akibat truk pengangkut, khususnya di Kampung Pamucatan,” kata dia, Minggu 29 Oktober 2017. Pipin menambahkan, warga juga terganggu dengan suara truk-truk pengangkut yang beraktivitas sampai hampir tengah malam.

Mengganggu program hafiz Alquran



Selain deretan pemukiman warga, di dekat area pengerukan bukit juga terdapat sebuah pondok pesantren. Pengurus pondok pesantren bahkan sempat menyurati Bupati Bandung untuk menyampaikan keluhan mereka. Selain khawatir terdapat material yang longsor ke arah asrama santri, suara dari kendaraan pengangkut yang hilir-mudik juga mengganggu aktivitas belajar mengajar. Termasuk aktivitas menghapal Alquran dari 90-an santri program hafiz.

“Setiap setengah jam sekali juga saya harus menyapu teras rumah karena debu. Jadi pada prinsipnya kami tidak setuju dengan adanya penggalian, minta ditutup saja karena tidak ada pembicaraan terlebih dahulu,” kata Hamdani, warga Kampung Pamucatan, Desa Nagreg Kendan lainnya.

Untuk menyampaikan aspirasi, warga di sekitar lokasi pengerukan bukit menggelar forum pada Sabtu, 29 Oktober 2017. Sekitar 100 warga hadir. Forum tersebut juga mengundang sejumlah pihak yang berkaitan langsung dengan aktivitas pengerukan buki. Seperti aparat dua desa yang menaungi pengerukan, pemerintah kecamatan, juga pihak perusahaan, PT Telaga Pelangi. Namun tidak ada satu pun dari kalangan berkepentingan itu yang datang memenuhi undangan warga.

“Kalau dari sisi usaha, setelah dapat untung ya sudah, tinggal pergi. Tapi kami, masyarakat Nagreg khususnya di Desa Nagreg Kendan, lahir di sini, hidup di sini. Jadi pasti merasakan efeknya sampai jangka panjang. Kami siap turun aksi jika keluhan ini tidak kunjung digubris,” kata perwakilan warga, Ali Musa Daud dalam forum tersebut. ***

Bagikan: