Pikiran Rakyat
USD Jual 14.014,00 Beli 14.112,00 | Langit cerah, 18.3 ° C

Sabtu Ini, Fenomena Equinox Akan Membuat Suhu Lebih Panas

Hendro Susilo Husodo
WARGA menyeberang jalan menggunakan payung, di Jalan Wastukancana, Kota Bandung, Selasa, 19 September 2017. Udara panas di Kota Bandung menjelang musim peralihan akhir-akhir ini panas saat siang, dan dingin terasa di malam hari.*
WARGA menyeberang jalan menggunakan payung, di Jalan Wastukancana, Kota Bandung, Selasa, 19 September 2017. Udara panas di Kota Bandung menjelang musim peralihan akhir-akhir ini panas saat siang, dan dingin terasa di malam hari.*

NGAMPRAH, (PR).- Fenomena astronomi equinox, di mana matahari tepat berada di garis khatulistiwa, yang terjadi pada Sabtu, 23 September 2017 akan membuat suhu jadi lebih panas. Meski begitu, suhu di Bandung Raya diperkirakan masih akan tetap normal, seperti halnya suhu rata-rata pada September ini.

"Suhu maksimum di Bandung saat siang hari diperkirakan sekitar 31 derajat celcius. Masih normal, sama dengan rata-rata pada September," kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung Tony Agus Wijaya di Lembang, Jumat, 22 September 2017.

Seiring dengan penambahan tingkat kelembapan pada lapisan atmosfer yang berkontribusi pada pembentukan awan-awan hujan, menurut dia, suhu di wilayah Bandung Raya pada 23 September 2017 diperkirakan sekitar 18,6-30,1 derajat celcius. "Wilayah yang relatif panas berada di area yang kurang vegetasinya, yang cenderung berada di pusat kota," katanya.

Berdasarkan alat pengukur suhu udara di Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung, dia menyebutkan, suhu tertinggi di Bandung Raya yang tercatat pada September 2017 ialah 33,4 derajat celcius. "Fenomena cuaca panas dan terik merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi," ujarnya.

Dua kali dalam setahun



Lebih lanjut, dia menjelaskan, equinox adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Equinox terjadi dua kali dalam setahun, yakni sekitar 20-21 Maret dan 22-23 September. Ketika fenomena itu berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian bumi relatif hampir sama.

"Salah satu dampak yang kerap muncul akibat fenomena equinox adalah terjadinya peningkatan suhu udara. Hal ini ditandai dengan hasil monitoring suhu udara maksimum, sekitar 34-37,5 derajat celcius. Namun, itu masih dalam kisaran normal suhu maksimum yang pernah terjadi berdasarkan klimatologi 30 tahun," katanya.

Sementara itu, peneliti Observatorium Bosscha, Yatni Yulianti menerangkan, equinox merupakan peristiwa ketika matahari tepat berada di titik perpotongan dengan bidang ekuator langit. Ekuator langit adalah bidang imajiner perpanjangan ekuator bumi pada bola langit.

"Di bumi belahan utara, equinox September menandai berakhirnya musim panas dan mulai masuk musim gugur, di mana matahari akan semakin bergerak ke selatan. Di bumi utara disebut autumn equinox. Sementara di bumi belahan selatan menandai mulai masuknya musim semi. Disebutnya spring equinox," katanya.

Fenomena tersebut, menurut dia, terjadi karena sumbu rotasi bumi miring 23,5 derajat saat mengelilingi matahari. Dengan demikian, akan ada saat di mana daerah yang utara lebih dekat dengan matahari, dan di posisi yang lain menjauhi matahari. Hal itulah yang mengakibatkan terjadinya perbedaan musim di belahan bumi.

"Biasanya di daerah khatulistiwa merasakan temperatur yang sedikit naik karena pas matahari ada melintas di daerah khatulistiwa. Tetapi kenaikannya tidak akan drastis sampai menimbulkan heatwave," ujarnya.***

Bagikan: