Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 20.6 ° C

Menyibak Ancaman Patahan Lembang dari Ketinggian Gunung Batu

Cecep Wijaya Sari
PARA peserta dari Lembang Heritage dan Heritage Lover berkumpul di puncak Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu 10 September 2017. Mereka mendapatkan penjelasan mengenai Patahan Lembang, cekungan Bandung, dan Gunung Sunda.
PARA peserta dari Lembang Heritage dan Heritage Lover berkumpul di puncak Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu 10 September 2017. Mereka mendapatkan penjelasan mengenai Patahan Lembang, cekungan Bandung, dan Gunung Sunda.

GUNUNG Batu di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat tak hanya dikenal sebagai tempat pendakian yang menantang dan areal perkemahan favorit. Namun selain itu, gunung dengan relief lava yang indah ini juga menjadi salah satu bukti keberadaan Patahan Lembang.                                                                          

Di puncak gunung setinggi 1.336 meter di atas permukaan laut ini, pengunjung bisa melayangkan pandangan ke sejumlah gunung yang mengelilingi wilayah Bandung. Di antaranya Gunung Tangkubanparahu, Papandayan, Malabar, Burangrang, dan Bukittunggul. Dari puncak ini juga, garis Patahan Lembang berupa lereng yang terjal terlihat jelas di arah timur yang berujung di Gunung Palasari dengan latar belakang Gunung Manglayang.

Gunung batu memang tempat paling populer di sepanjang Patahan Lembang yang terbentang sepanjang 22 km dari Gunung Palasari di Lembang hingga ke Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Gunung ini merupakan batuan bekas lava Gunung Sunda yang terbentuk lebih dari 500.000 tahun yang lalu.

Jika menelusuri proses pembentukannya, Gunung Batu dihasilkan dari letusan Gunung Sunda yang menyebabkan kekosongan pada kantung-kantung magma di sekitar Lembang. Hal itu mengakibatkan lempengan bumi patah menjadi dua bagian. Bagian sebelah utara bergerak turun, sementara bagian selatan terangkat. Gunung Batu merupakan bagian yang terangkat.

Latar belakang pembentukan Gunung Batu tersebut menjadi salah satu topik pembahasan dalam penjelajahan yang dilakukan komunitas Lembang Heritage dan Heritage Lover, Minggu 10 September 2017. Sekitar empat puluh peserta ikut dalam kegiatan tersebut.

Kenali Patahan Lembang



Pemandu kegiatan dari Lembang Heritage, Malia Nur Alifa mengungkapkan, kegiatan tersebut untuk mengenalkan Patahan Lembang yang harus diwaspadai karena memicu gempa bumi. Selain itu, para peserta juga diberikan penjelasan mengenai cekungan Bandung dan Gunung Sunda.

“Ketiga hal ini, yaitu Patahan Lembang, cekungan Bandung dan Gunung Sunda dapat dilihat dari atas ketinggian di Gunung Batu,” ujarnya.

Wacana tentang ancaman Patahan Lembang tersebut kembali ramai diperbincangkan sejak terjadinya gempa bumi di Kampung Muril Rahayu, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Agustus dan September 2011.

Meski hanya berkekuatan 3,3 pada skala ritcher, gempa tersebut menyebabkan sedikitnya 384 rumah warga rusak ringan hingga berat. Dalam waktu beberapa minggu, gempa-gempa kecil terus terjadi. Kondisi ini membuat warga panik dan sempat mengalami trauma untuk tinggal di dalam bangunan.

Para ahli geologi di Bandung memastikan bahwa gempa tersebut berpusat di ujung Patahan Lembang sebelah barat, yakni di Desa Jambudipa, Cisarua. Permukiman warga di Kampung Muril Rahayu tepat berada di tebing patahan ini sehingga paling banyak terkena dampak gempa. Gempa itu memperkuat bukti bahwa patahan sepanjang lebih dari 22 km itu merupakan sesar aktif yang sebelumnya masih diperdebatkan.

Tingkatkan kewaspadaan



Malia mengungkapkan, penjelasan mengenai Patahan Lembang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan kepada para peserta mengenai ancamannya. “Apalagi, sekarang di sekitar Lembang sudah banyak berdiri bangunan, sehingga masyarakat harus waspada dengan Patahan Lembang ini,” katanya.

Lebih dari itu, dia berharap agar pemerintah lebih jauh lagi meneliti mengenai Patahan Lembang. Pemerintah diharapkan aktif memberikan sosialisasi kepada warga di sekitar zona patahan. Itu penting untuk meminimalisasi dampak bencana yang mungkin saja terjadi akibat keberadaan Patahan Lembang. ***

Bagikan: