Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Langit umumnya cerah, 22.1 ° C

Gagal Panen, Petani Kopi di Bandung Barat Beralih ke Hortikultura

Cecep Wijaya Sari

NGAMPRAH, (PR).- Para petani kopi di Kabupaten Bandung Barat gagal panen pada musim ini. Akibatnya, mereka beralih menanam tanaman hortikultura lantaran harga kopi stagnan.

Hal itu dikatakan Ketua Asosiasi Petani Kopi Kabupaten Bandung Barat, Kurnia di Lembang, Senin 4 September 2017. Menurut dia, pada musim ini, 90 persen tanaman kopi gagal dipanen.

"Petani hanya memanen 10 persen saja. Ya, bisa dibilang gagal panen. Ini akibat faktor cuaca yang tak bisa dihindari," ujarnya.

Kurnia mengungkapkan, di kebun kopi miliknya seluas 10 hektare, dia hanya memanen 1,5 ton biji kopi dalam bentuk ceri. Padahal dalam kondisi normal, ia bisa memanen hingga 27 ton.

Dengan kondisi itu, ia mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Sebab, ia bisa menjual 1 kilogram kopi dalam bentuk greenbean hingga Rp 65.000. Kopi itu ia jual ke berbagai daerah bahkan luar negeri melalui eksportir.

Kurnia cukup beruntung lantaran ia masih punya akses untuk menjual produk kopinya ke pasar-pasar domestik dalam bentuk bubuk kopi. Per satu kilogramnya, ia menjual seharga Rp 250.000.

Namun, petani kopi yang tak punya akses tersebut hanya bisa gigit jari. Tak ada yang bisa mereka petik dari kopi yang ditanam sejak awal musim.

"Musim panen ini berlangsung sejak Mei lalu hingga sekarang. Namun, pada rentang waktu itu banyak terjadi hujan, sehingga kopi tak bisa dipanen. Sebab, minimal harus ada kemarau 1 bulanan agar kopi bisa dipanen," kata Kurnia.

Meski demikian, lanjut dia, harga kopi saat ini cenderung stagnan. Hal itu disebabkan harga kopi mengikuti harga internasional. Harga 1 kg kopi berbentuk ceri berkisar Rp 8.000-Rp 10.000.

"Di Jawa Barat memang gagal panen. Tapi, di negara lain seperti Brazil, produksinya cukup bagus. Jadi, harga kopi tidak melonjak," kata Kurnia.

Dia menambahkan, ada ribuan petani kopi di bawah asosiasinya. Gagal panen menyebabkan sebagian besar petani kopi beralih menanam hortikultura.

"Mereka juga sudah bisa memprediksi musim ini produksi kopi bakal menurun. Makanya, mereka beralih ke hortikultura," ujarnya.

Cuaca jadi penyebab



Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat Ida Nurhamida membenarkan hal itu. Menurut dia, anjloknya produksi kopi akibat cuaca ekstrem, sehingga bunga kopi tak menjadi buah.

"Ini terjadi di sentra-sentra kopi di seluruh Jawa Barat, bukan hanya di Bandung Barat. Kalau sudah faktor alam, ya memang tidak bisa dihindari," katanya.

Anjloknya produksi kopi di Bandung Barat ini, lanjut dia, menyebabkan permintaan ekspor tak terpenuhi. Biasanya, kopi arabika asal Bandung Barat diekspor ke negara-negara Asia dan Eropa melalui eksportir di Medan dan Semarang.

"Solusinya sekarang, ya petani harus melakukan penyiangan dan penyiraman kopi dengan lebih baik lagi. Namun kalau bicara cuaca, memang tidak bisa dilawan," katanya. ***

Bagikan: