Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

#KlipingPR Degup Pembangunan Pusat Bisnis Banceuy

Siska Nirmala Puspitasari
Wali Kotamadya Bandung Ateng Wahyudi (kedua dari kiri) meninjau pembangunan beton penyangga gedung berlantai delapan untuk pusat tekstil dan parkir di Jalan Cikapundung, Bandung, 21 Agustus 2017.*
Wali Kotamadya Bandung Ateng Wahyudi (kedua dari kiri) meninjau pembangunan beton penyangga gedung berlantai delapan untuk pusat tekstil dan parkir di Jalan Cikapundung, Bandung, 21 Agustus 2017.*

22 Agustus 1988. Kawasan Jalan ABC, dan Jalan Banceuy, Kota Bandung pernah menjadi salah satu kawasan perbelanjaan yang aktif dan berjaya di eranya. Meskipun saat ini geliatnya tergusur dengan menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan dan bisnis yang lebih modern, namun Jalan Banceuy dan ABC masih menjaga degupnya untuk tetap hidup.

Pembangunan Jalan Banceuy dan ABC sebagai pusat bisnis dilakukan pada tahun 1988. Harian Umum Pikiran Rakyat merekam sejarah pembangunan kawasan yang ditetapkan pemerintah Kota Bandung kala itu sebagai Central Business District (CBD), atau pusat perdagangan.

Seperti diberitakan Pikiran Rakyat, 22 Agustus 1988, untuk melengkapi dan mendukung CBD area tersebut Pemkot Bandung kala itu meningkatkan sarana lalu lintas pusat perdagangan dengan melakukan pelebaran jalan dan pengaspalan. Mulai dari Jalan Alkateri, Jalan ABC, Jalan Kautamaan Istri, Jalan Asia Afrika, Jalan Kepatihan, dan sekitarnya.

Wali Kota Bandung Ateng Wahyudi pada 21 Agustus 1988 menghadiri acara syukuran selesainya pembangunan basement dan pemasangan 120 beton penyangga gedung berlantai delapan, Pusat Tekstil dan parkir di Kompleks Banceuy Permai, Jalan ABC.

Di hadapan para calon pengisi gedung tersebut kalau itu, Ateng Wahyudi meminta agar penataan dan pengelolaan pusat perdagangan disesuaikan dengan tujuan pembangunan kota. Tidak hanya megang, indah, namun juga berfungsi untuk kelancaran roda perekonomian serta akhirnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

"Saya gembira bahwa lantai basement dan lantai dasar telah dipesan oleh para pedagang teksil dari Jopankar dan Pasar Kota Kembang. Sebab bekas Jopankar dan Pasar Kota Kembang yang terletak di antara Jalan Asia Afrikan dan Jalan Dalem Kaum, serta Jalan Kepatihan oleh Pemkot Bandung akan difungsikan kembali menjadi sarana prasarana lalu lintas," ujar Ateng Wahyudi kala itu.

Mengenai gedung parkir bertingkat, Ateng menuturkan bahwa gedung tersebut merupakan dambaan Pemkot Banduung. Hal ini karena Kota Bandung saat itu memiliki total jalan sepanjang 11.580 km, dimana 160 km di antaranya masih diguanakan untuk parkir. Pembangunan gedung parkir bertingkat kala itu diharapkan dapat mengurangi beban jalan yang digunakan sebagai tempat parkir, dan berdampak pada kelancaran lalu lintas dan transportasi Kota.

Dikatakan Ateng Wahyudi saat itu, pembangunan Gedung Pusat Tekstil dan Parkir dan di Jalan ABC adalah hal yang menggembirakan bagi pemerintah dan juga warga kota. Namun, menurut dia, hal tersebut juga sekaligus menjadi tantangan bagi aparat pemerintah untuk menghadapi perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya setelah berfungsinya gedung tersebut.

Perwakilan investor pelaksana pembangunan Gedung Pusat Tekstil dan Parkir, Suryatin dalam laporannya mengatakan pembangunan gedung tersebut ditargetkan rampung pada Agustus 1989. Adapun di bagian gedung tersebut dibangun kios-kios berukuran 2x2 meter, dan 2x3 meter yang dijual kepada para pedagang tekstil secara kredit dan sewa selama 10 tahun.***

Bagikan: