Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 27.9 ° C

#KlipingPR Ingin Memikat Janda, RA Mengaku Jaksa

Gugum Rachmat Gumilar

26 Juli 1989. Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 26 Juli 1989, tepat 28 tahun lalu, memuat perjuangan seorang pria untuk menaklukkan wanita pujaannya. Sayang, cara yang dia tempuh sama sekali tak patut ditiru. Akhirnya pria itu pun harus berurusan dengan pihak berwajib. Dia bahkan dituntut hukuman penjara selama satu tahun.

RA (38) mengaku-aku sebagai Kepala Hubungan Masyarakat di Kejaksaan Tinggi Jawa Barat. Tindakan itu dia lakukan sejak April 1989, beberapa bulan sebelum jaksa palsu tersebut disidang dan berita ini diterbitkan.

Dalam sidang di hadapan majelis hakim, terdakwa RA mengaku menjadi jaksa palsu untuk memeras warga. Objek pemerasannya adalah dua orang saksi dari kasus korupsi senilai Rp 1,9 miliar di Puskud Jawa Barat.

Terdakwa RA dengan mengenakan seragam kejaksaan, lengkap dengan pangkat 'Madya Wira Jaksa' mendatangi dua saksi kasus korupsi tersebut di rumah mereka masing-masing. Tempat kejadian perkara adalah Soreang dan Perumahan Margahayu Permai.

Saat mendatangi kedua korban, terdakwa RA mengaku bernama Azhar Harun dari Kejati Jawa Barat dan diperintahkan oleh Kepala Seksi Pidana Khusus Kejati untuk melakukan penangkapan. RA lantas meminta korbannya untuk membayar uang masing-masing RP 25 ribu dan Rp 15 ribu. Uang tersebut merupakan kompensasi agar penangkapan mereka ditangguhkan.

Atas tindakan pemerasan ini, RA dituntut hukuman penjara selama 12 bulan dikurangi masa kurungan. Tuntutan 12 bulan penjara, kata jaksa penuntut umum (JPU) RD Benarto, ditetapkan berdasarkan pada tindakan RA yang tidak hanya merugikan korban. Lebih dari itu, juga merusak nama lembaga kejaksaan.

Motif lain sang jaksa gadungan



Namun di sidang tersebut, terungkap pula motif lain dalam aksi ini. Dalam pengakuannya, terdakwa RA mengungkapkan bahwa tindakan itu juga dia lakukan untuk memikat seorang wanita bernama Lis. Lis merupakan seorang janda yang dikenalnya di Pengadilan Negeri Bale Bandung.

"Sejak saat itu saya tertarik, dan untuk mendapatkannya saya berpura-pura sebagai jaksa," kata terdakwa dalam sidang.

Untuk mendapatkan pakaian seragam serta atribut kepangkatan, RA membelinya di sebuah toko di Jakarta. Dia rela mengeluarkan modal Rp 15.000 agar terlihat layaknya jaksa sungguhan.***

Bagikan: