Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Cerah berawan, 20.2 ° C

Beri Pengatahuan Hukum, Jaksa Masuk Pesantren

Yedi Supriadi

BANDUNG, (PR).- Kejaksaan Tinggi Jabar memiliki program baru guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hukum. Sebelumnya program Jaksa Masuk Sekolah, pada bulan Ramadan ini Kejaksaan Tinggi Jabar membuat program Jaksa Masuk Pesantren.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jabar, Setia Untung Arimuladi menargetkan sekitar 100 pesantren yang ada di Jabar. Mereka akan mendapat pengetahuan soal hukum secara langsung.

"Tidak ada target khusus tapi misalkan 1 kejari ada 4 pesantren yang disinggahi berarti ada 100 pesantren. Dengan asumsi 25 kejari dikali 4 ditambah Kejati bisa lebih," katanya saat melakukan kunjungan ke salah satu pesantren tertua di Kota Bandung, Pesantren Sukamiskin, Jalan A. Yani, Kota Bandung, Kamis, 8 Juni 2017. Selain silaturahmi, Kejati memberikan program pengenalan hukum kepada para santri.

"Kegiatan ini merupakan kegiatan jaksa masuk pesantren di saat umat muslim menjalankan Ramadan. Kita memanfaatkan tenaga jaksa di Kejati dan 25 Kejari Kabupaten / Kota di Jabar untuk masuk ke pondok pesantren mengenalkan tentang hukum," kata Untung disela-sela acara.

Rentan melanggar hukum



Untung mengatakan remaja sangat rentan terhadap perilaku menyimpang dan melanggar hukum lantaran masih dalam masa pertumbuhan dan mencari jati diri.

"Makanya kita beri materi ringan, temanya sosialisasi hukum berkaitan materi narkoba, kenakalan remaja yang lainnya artinya program taat hukum minimal para santri mengenal hukum agar tidak melakukan pelanggaran hukum. Masa kritis pertumbuhan mereka itu sekarang disaat mencari jati diri, di pondok pesantren juga banyak ujian dengan kenakalan remaja ini," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Untung memberikan sumbangan untuk biaya operasional dan al quran kepada pesantren yang telah berdiri sejak 1881.

Menurut Untung program tahun ini memang dikhususkan untuk menyasar remaja dan anak muda sebagai target sosialisasi lantaran sangat rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif.

"Program ini memang baru tahun sekarang, kedepan mudah-mudahan bisa diteruskan dan mayoritas penduduk bisa mendapat informasi dengan adanya jaksa masuk sekolah dan pesantren," katanya.

Ia berharap, generasi penerus ini bisa menjadi tunas bangsa yang bisa mengisi pembangunan dan menentukan jati diri. Tidak terlibat pelanggaran hukum, justru memahami hukum.***

Bagikan: