Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian cerah, 30.7 ° C

Dulu Tukang Becak, Kini Jadi Doktor di STAIPI

Deni Yudiawan
RONI Nugraha tengah berbicara saat bedah bukunya "Ngungudag Guratan Takdir" di Paseh, Majalaya, Kabupaten Bandung, Sabtu 27 Mei 2017.*
RONI Nugraha tengah berbicara saat bedah bukunya "Ngungudag Guratan Takdir" di Paseh, Majalaya, Kabupaten Bandung, Sabtu 27 Mei 2017.*

KETERBATASAN bukanlah sebuah kendala. Selama ada kemauan yang keras, maka semua impian dapat diwujudkan. Bahkan, untuk sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil sekalipun. Bahkan seorang tukang becak pun dapat meraih cita-citanya meraih pendidikan hingga jenjang S3, seperti yang dijalani Roni Nugraha (40).

Roni adalah seorang doktor lulusan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD). Kini, ia mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAIPI) Bandung di Ciganitri Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Perjuangannya untuk sekolah setinggi mungkin banyak sekali menemui kendala. Ia telah beberapa kali mencoba berdagang selama kuliah S1 di STAIPI (dulu STIU, Sekolah Tinggi Ilmu Ushuludin). Setelah menyandang gelar sarjana pun, ia masih kesulitan memperoleh pekerjaan, apalagi mendapatkan hidup layak.

Roni Nugraha berasal dari Pameungpeuk, Garut selatan. Terlahir dari keluarga sangat sederhana, ia dibesarkan oleh orangtua yang sangat agamis. Orangtuanya terbilang tidak mampu, namun mereka pantang meminta-minta. Roni bahkan dilarang untuk mengurus surat miskin karena orangtuanya yakin bahwa surat miskin adalah doa bagi pemiliknya.

Alasan itu membuat Roni senantiasa bekerja keras. Selepas mendapat gelar sarjana dari jurusan Tafsir Hadits di STIU, ia memberanikan diri melanjutkan sekolah S2 di IAIN SGD. Untuk mencukupi nafkahnya dan mancari tambahan uang kuliah, ia memutuskan untuk menarik becak. Roni bisa mangkal di depan Perumahan Panyileukan di Bandung timur.

Setiap hari, Roni terus bergelut dengan takdir yang ingin dicapainya. Ia yakin bahwa takdir sudah ditetapkan Yang Maha Kuasa. Tugas manusia, kata dia, adalah mengejarnya tanpa putus asa. 

Tukang becak bukan aib



Menjadi tukang becak bukanlah sebuah aib baginya. Ia malah menjadikannya sebagai pelecut untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan meraih cita-citanya. 

Satu kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya adalah mencatat. Saat tak mendapat muatan, Roni mencatat lewat kertas apapun yang ditemuinya, termasuk bungkus rokok. Dari catatan-catatan itu, ia rangkai menjadi tulisan yang telah dimuat di berbagai media massa. Beberapa berbuah menjadi buku.

Kisah Roni itu disampaikan secara detail lewat bukunya yang berbahasa Sunda, "Ngungudag Guratan Takdir". Buku itu adalah salah satu karya dari sekitar 8 buku yang telah ditulisnya. Selama bulan Ramadan ini, pria kelahiran Garut 29 Juli 1976 itu menggelar roadshow bedah bukunya itu. Ia berbagi kisah hidupnya untuk memotivasi banyak orang tentang bagaimana menghadapi hidup menjadi lebih berkah. Setelah Majalaya dan Ciganitri Bojongsoang, Roni juga akan menggelar bedah buku di enam tempat lainnya di Kabupaten Bandung.

”Saya hanya ingin memberikan motivasi pada banyak orang bahwa tugas manusia adalah tidak putus asa. Orang bodoh akan tetap bodoh. Begitupun orang miskin akan tetap miskin. Semua tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Yang penting adalah kemauan kita untuk bisa,” ujar Roni, ayah anak tiga itu.

Jadwal bedah buku karya Roni Nugraha masih berlanjut hingga menjelang akhir Ramadan ini. Informasinya tempat bedah bukunya dapat diikuti di sini

Kisah Roni Nugraha ini dapat menjadi teladan bagi banyak orang. Itu menjadi salah satu sebab, Roni menebar bukunya agar menjadi penyemangat dan pemberi harapan bagi generasi muda untuk tidak tunduk pada kemiskinan dan keterbatasan.***

Bagikan: