Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Cerah berawan, 20.2 ° C

Pengamatan Hilal di Lembang Terganggu Cuaca

Hendro Susilo Husodo
Observatorium Boscha, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.*
Observatorium Boscha, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.*

NGAMPRAH, (PR).- Tim peneliti Observatorium Bosscha melakukan pengamatan hilal atau bulan sabit muda penanda awal Ramadan di dua titik, yakni di Lembang dan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Walaupun para astronom Bosscha gagal melihat bulan sabit muda karena terganggu oleh cuaca, hilal diketahui terlihat di Jawa Timur dan di Manado.

Demikian disampaikan Kepala Observatorium Bosscha Mahasena Putra, di sela kegiatan pengamatan yang dilakukan di Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 26 Mei 2017 petang. Dia menilai, langit yang mendung mengakibatkan bulan sabit muda tak mungkin terlihat, karena terhalang oleh awan.

"Setelah matahari terbenam, (bulan sabit muda) di sini tidak teramati, karena ada di sebelah barat langitnya mendung. Jadi, ketika matahari terbenam, di sini justru tidak kelihatan. Seperti yang diketahui, dengan alat yang kami pakai, siang tadi itu bisa kelihatan. Namun, sekali lagi, yang siang itu pun bukanlah hilal yang dicari, karena yang dicari adalah yang setelah matahari terbenam," kata Seno, panggilan Mahasena Putra.

Dia menjelaskan, pengamatan hilal berdasarkan hukum Islam ialah ketika bulan sabit muda terlihat setelah matahari tenggelam melalui mata telanjang. Namun demikian, tim peneliti Bosscha turut mengamati hilal dengan menggunakan teropong yang dilengkapi filter berwarna merah, image processing, dan alat lainnya untuk meredam cahaya sehingga dapat meningkatkan kontras.

Seperti di Bosscha, kata dia, pengamatan hilal di Kupang pun terganggu oleh cuaca yang mendung. "Kalau di Kupang, alatnya itu bisa mengikuti (bulan sabit muda) sampai matahari terbenam. Namun, di Kupang itu sebetulnya mendung. Jadi, alatnya bisa melihat, tapi dengan mata telanjang tidak bisa dilihat. Artinya, hilal ya tidak terlihat, itu kesimpulannya," tuturnya.

Penetapan 1 Ramadan 1538 H



Meskipun begitu, dia mengaku dapat kabar bahwa pengamatanyang dilakukan peneliti dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di Manado berhasil melihat bulan sabit muda. "Kemudian dari Tanjung Kodok, Jawa Timur sudah ada gambar hilalnya. Kemungkinan besar sidang isbat akan memutuskan bahwa besok ssebagai awal bulan puasa. Ya, kita tunggu sajalah," tuturnya.



Dalam sidang isbat yang digelar Kementerian Agama untuk memutuskan awal Ramadan 1438 Hijriah, Seno menambahkan, kalangan astronom turut menyertakan perwakilan. "Ada Pak Moedji Raharto (mantan Kepala Bosscha). Jadi astronom juga ada di sidang isbat," ucapnya.

Hasil sidang penetapan (isbat) sepakat 1 Ramadan 1438 H jautuh pada 27 Mei 2017. Penetapan itu berdasarkan hisab dan rukyat. 

"Laporan di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Jawa Timur, dan Kepulauan Seribu, berdasarkan laporan, sekali lagi di bawah sumpah, mereka berhasil melihat hilal," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam konferensi pers, Jumat, 26 Mei 2017.

Dengan hasil pemaparan hisab dan rukyat maka sidang isbat sepakat malam ini telah memasuki 1 Ramadan. "Maka, besok Sabtu 27 mei 2017 kita mengawali puasa bulan Ramadan tahun ini," tuturnya.***

Bagikan: