Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 20.5 ° C

Misteri Wolff Schoemaker di Masjid Cipaganti

Deni Yudiawan

BANDUNG, (PR).- Masjid Cipaganti terletak di Jalan Jalan R.A.A. Wiranatakusumah, dulu bernama Jalan Cipaganti, No. 85. Saat zaman Belanda, Jalan Cipaganti bernama Nylandweg. Saat awal berdiri, Masjid Cipaganti bernama Masjid Kaum Cipaganti. Nama Charles Proper Wolff Schoemaker melekat pada masjid itu.

Masjid ini termasuk masjid tua di Kota Bandung tetapi masih terlihat sangat kokoh. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Cipaganti dilakukan pada 7 Februari 1933 (11 Syawal 1351 Hijriah) dan diresmikan pada 27 Januari 1934. Masjid ini terletak di atas lahan seluas 2.675 meter persegi.

Keindahan arsiteknya merupakan campuran antara gaya Eropa dan kebudayaan tradisional Jawa. Hal ini tergambar dari atap yang berbentuk tajug tumpang dua, serta pada kaligrafi yang terdapat di mihrab dan mimbar utama, lampu gantung, tembok ukir, dan gerbang utama. Gaya Eropa terkandung pada pemakaian kuda-kuda segitiga penyangga atap. Posisi masjid yang terletak di "tusuk sate" antara Jalan Cipaganti dan Jalan Sastra, serta pepohonan yang terdapat di sepanjang jalan yang seolah menjadi bingkai masjid jika dilihat dari Jalan Sastra. 

Ini merupakan ciri khas Masjid Cipaganti yang jarang ditemui di bangunan masjid lainnya di Pulau Jawa. Sejak awal pendiriannya, Masjid Cipaganti telah menjadi cikal bakal penyebaran dan pusat studi Islam di kawasan Bandung utara.

Schoemaker masuk Islam



Menariknya, dari keindahan yang tergambar itu ada misteri yang tersisa tentang Schoemaker, sang arsitek. Seperti diketahui, Schoemaker adalah arsitek yang membangun sebagian besar gedung bersejarah bergaya art deco di Kota Bandung. Ia juga dikenal sebagai ruhnya Bandung tempo doeloe. 

Pada beberapa literatur yang dibuat oleh pengurus Dewan Kesejahteraan Masjid, nama Schoemaker ditulis dengan nama Profesor Kemal C.P. Wolff Schoemaker. Banyak yang berpendapat bahwa nama Kemal merupakan isyarat bahwa Schoemaker sebetulnya adalah Belanda yang telah memeluk agama Islam.

Meski demikian, sebenarnya belum ada literatur lain yang membahasnya. Pengamat sejarah Bandung Ridwan Hutagalung mengungkapkan itu dalam situs Komunitas Aleut. Menurut dia, wajar saja banyak silang pendapat tentang sosok Wolff Schoemaker karena informasi tentang dia sangat minim. Ridwan mengupas informasi Wolff Schoemaker dari buku "Tropical Modernity; The Life & Work of C.P. Wolff Schoemaker" karya C.J. van Dullemen ditambah dengan beberapa buku lain sebagai bahan pendukung. 

Tulisan Ridwan Hutagalung tentang C.P. Wolff Schoemaker:



Charles Prosper Wolff Schoemaker dilahirkan di Banyubiru, Jawa Tengah, tahun 1882. Ia menjalani pendidikan di Akademi Militer di Belanda hingga lulus dengan pangkat letnan zeni militer. Sekembalinya di Hindia Belanda pada tahun 1905, Wolff Schoemaker bekerja sebagai arsitek militer untuk pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1911, Wolff keluar dari dinas militer dan dua tahun kemudian bekerja sebagai insinyur teknik pada Dienst Burgerlijk Openbare Werken atau Dinas Pekerjaan Umum Batavia. Saat menjabat sebagai direktur di Gemeentewerken Batavia, diketahui ia menjadi seorang Muslim. Tidak ada informasi mengenai faktor apa yang menyebabkannya memutuskan berpindah agama saat itu.

Tak lama setelah memeluk agama Islam, Wolff Schoemaker mendapatkan gelar Kemal dari rekan-rekan Muslimnya. Kegiatannya dalam dunia Islam dilakukannya melalui jabatannya sebagai wakil ketua pada kelompok Western Islamic Association di Bandung. Ia juga bergabung dengan organisasi Persatoean Oemmat Islam setelah masa perang kemerdekaan. Melalui sebuah surat panjang, ia bahkan menyarankan pada mantan muridnya yang saat itu menjadi Presiden RI Ir. Soekarno, agar mengarahkan republik yang baru berdiri ini menjadi Kesultanan Indonesia Islamyah.

Menurut pandangannya sistem demokrasi dengan dasar-dasar yang berasal dari barat itu tidak tepat untuk dijalankan di Indonesia. Beberapa pandangannya mengenai Islam dituangkannya pula dalam sebuah tulisan yang diterbitkan dalam koleksi essay yang berjudul Cultuur Islam (1937).

Pada tahun 1938 Wolff Schoemaker mendapatkan tugas untuk menggantikan kakaknya, Richard, sebagai pengajar di Technical University di Delft. Dalam perjalanan menuju Belanda itu Wolff berkesempatan untuk mampir dan tinggal sebentar di Kairo, Mesir. Setelah berada di Belanda, Wolff memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah pada akhir tahun 1938. Pada akhir tahun 1939 Wolff kembali ke Bandung dan melanjutkan tugasnya sebagai profesor di Technische Hoogeschool.

Sebagai seorang Muslim yang cukup aktif dalam kegiatan keagamaan, Wolff Schoemaker cukup disegani oleh para mahasiswa Indonesianya. Sementara kalangan mahasiswa Belanda dan orang-orang Eropa lainnya tak dapat memahami pilihan Wolff Schoemaker untuk menjadi Islam. Dalam pengantar untuk Cultuur Islam, Wolff Schoemaker menyatakan bahwa karakter yang humanis dan toleran dalam Islam memberikan peluang bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Mungkin hal itulah yang membuat Wolff Schoemaker merasa cocok dengan pilihannya. 

Wolff Schoemaker memang merupakan figur yang sangat terbuka bagi ilmu pengetahuan. Ia juga unik sehingga tidak mudah dipahami oleh lingkungannya. Tidak mudah juga untuk dapat berteman dengannya. Kebanyakan rekannya menilainya sebagai seorang yang temperamental, emosional, sekaligus juga flamboyan dan sensual.

Walaupun kegiatannya sebagai Muslim cukup menonjol, dari empat kali pernikahannya ia tidak pernah menikahi sesama Muslim. Bahkan, satu-satunya karya yang berkarakter Islam yang pernah dibuatnya hanyalah Masjid Kaum Cipaganti yang diselesaikannya pada tahun 1934. Masjid ini dibangun di Nijlandweg, di tengah-tengah kompleks permukiman bangsa Eropa di Bandung Utara pada masa pemerintahan Bupati Rd. Tg. Hassan Soemadipradja. Keanehan lainnya adalah fakta bahwa Ia dimakamkan di TPU Kristen Pandu pada tahun 1949.***

Bagikan: