Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Badai petir, 28 ° C

Menengok Sapardi di Hari Puisi Sedunia

“Puisi ialah sebuah jendela, membuatmu takjub terhadap keragaman kemanusiaan.” Kalimat itu disampaikan Direktur Jenderal Unesco, Irina Bokova untuk peringatan Hari Puisi Sedunia 2017. 21 Maret selalu diperingati sebagai Hari Puisi Dunia sejak ketetapan Unesco tahun 1999 di Paris, Perancis.

Tujuan dari peringatan hari puisi se-dunia, menurut PBB adalah untuk melestarikan tradisi puisi terutama yang berkembang dalam tradisi lisan. Selain itu juga untuk meningkatkan minat dan pengajaran puisi, untuk memperbaiki kolaborasi antara puisi dengan berbagai bentuk seni lain seperti teater, tarian, musik dan lukisan, serta untuk mendukung penerbitan-penerbitan puisi di berbagai media. 

Lebih dari itu, tujuan utamanya tak lain agar puisi tidak dianggap sebagai bentuk seni yang usang, tapi masyarakat dapat merayakan kehadirannya dan menangkap pesan-pesan dari setiap puisi.

Sehari sebelum peringatan Hari Puisi Sedunia, netizen di Indonesia sudah diramaikan dengan ulang tahun Sapardi Djoko Damono, pada 20 Maret 2017. Sapardi yang akrab dipanggil “Eyang” oleh netizen itu kini berumur 77 tahun. 

Memperingati kelahirannya, banyak netizen menuliskan ulang karya-karya Sapardi, atau bahkan menulis puisi karangannya sendiri yang dipersembahkan untuk Sapardi. Bagi yang belum terlalu mengenal, mari tengok kembali siapa itu Sapardi Djoko Damono. Kita mulai menengok dari puisinya yang paling terkenal:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada//

Jika sedang jatuh cinta, rasanya tidak sempurna bila kita tak membacakan puisi itu kepada kekasih, atau sebagai refleksi kepada diri sendiri. Empat kalimat itu menyadarkan kita bahwa cinta adalah kerja sederhana dalam pengorbanan mulia. 

Empat kalimat sederhana sarat makna itu pun dikutip di berbagai surat cinta, disertakan di kado istimewa, hingga di tulis di kaos-kaos pencinta sastra. Itulah puisi Sapardi Djoko Damono, berjudul “Aku Ingin” yang paling lekat di ingatan masyarakat.

Dalam sebuah film dokumenter Yayasan Lontar, Sapardi berkomentar sedikit mengenai puisinya tersebut, “ini, kalimat ‘kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu’, bagi saya sampai sekarang merupakan penemuan luar biasa. Bagi saya api dan kayu itu dua unsur alam yang bercinta, yang satu menghabiskan yang lain dan menjadikannya abu. Untuk mengatakan cinta, kayu membutuhkan kata, tapi sebelum sempat menyatakan kata cinta itu dia sudah menjadi abu.”

Meski sudah berusia 77 tahun, pada Rabu, 22 Maret 2017 ini Sapardi akan memperingati hari lahirnya dengan meluncurkan sekaligus tujuh buku karangannya di Bentara Budaya Jakarta. 

“Sapardi terus saja meninjau, dan mempertimbangkan jalan kepenyairan yang telah ia tempuh. Terus saja gelisah, dan karena itu saya kira, maka ia terus menulis puisi," ujar penyair dan wartawan Asan Aspahani dalam buku “Membaca Sapardi” terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 

Kegelisahan itu memang menjadi hal yang harus selalu dirawat oleh seorang penyair. Tanpa kegelisahan, mata penyair tidak akan tajam dan mampu menyulap peristiwa menjadi kata terisi makna, dan menjadi suara-suara atas keragaman manusia seperti pemahaman Unesco. 

Dalam Sajaknya “Penyair”, Sapardi menganggap kerja seorang penyair adalah untuk mengungkap rahasia, makna dalam yang harus ditemukan dari sebuah kejadian. Ia menulis, “aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku/ satu per satu aku terbuka, bagai daun-daun pintu/ hingga akhirnya taka da apa-apa lagi yang bernama rahasia/…

Setidaknya, ada dua hal yang memengaruhi karya Sapardi. Pertama, kehidupan kecilnya di Batu Rono, Solo, banyak menjadi inspirasinya dalam menulis. Pengalaman-pengalamannya semasa kecil yang menerpa jiwa dan pemikiran Sapardi. Permainan anak-anak kecil di lingkungannya, mulai dari perahu kertas, dan layang-layang misalnya pernah ditulis jadi puisi. 

Selain itu, dari kecil hingga remaja ia pun hidup dalam dua kebudayaan berbeda, yaitu kebudayaan Belanda dan Keratonan Jawa. “Saya percaya, kebudayaan yang disusun dari dua kutub yang berbeda itu akan lebih kaya jika dibandingkan hanya dari satu kutub,” ujar Sapardi.

Kunci kedua, selain meresapi kehidupan-kehidupan sederhana di sekitarnya, Sapardi gemar membaca. Buku menjadi candu bagi Sapardi sejak SLTP. Ia sudah mulai membaca buku mulai dari bahasa Jawa hingga bahasa Inggris yang tersedia di Perpusatakaan Sekolahnya. Mulai dari buku wayang, komik, hingga penelitian ilmiah. 

“Di perpustakaan SLTP itulah saya mulai juga membaca buku-buku Pram,” kenangnya kepada Dokumentator Lontar.

dari tangan-tanganku yang sunyi/ dari jari-jemariku yang gemetar dalam sunyi/ kau dengar puisi, sorotmata yang sunyi/ yang sampai kepadamu/ santun-lembut, adalah puisi/…..” tulis Sapardi.

(Muhammad Fasha Rouf)***

Bagikan: