Pikiran Rakyat
USD Jual 14.099,00 Beli 14.197,00 | Sedikit awan, 19.8 ° C

Pesan untuk Penderita Kanker, Jangan Pernah Menyerah!

Hendro Susilo Husodo
KETUA Pengurus Yayasan Priangan Cancer Care (PrCC) Dianawati Darmawan bersama para survivor kanker saat peringatan Hari Kanker Sedunia di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 4 Februari 2017.*
KETUA Pengurus Yayasan Priangan Cancer Care (PrCC) Dianawati Darmawan bersama para survivor kanker saat peringatan Hari Kanker Sedunia di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 4 Februari 2017.*

NGAMPRAH, (PR).- Para penderita kanker diminta untuk tetap semangat dan tidak menyerah, walaupun hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Untuk memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker, pengobatan secara medis tetap paling dianjurkan dibandingkan dengan pengobatan tradisilonal.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Yayasan Priangan Cancer Care (PrCC) Dianawati Darmawan di sela peringatan Hari Kanker Sedunia di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 4 Februari 2017. Dalam peringatan itu, PrCC menggelar kegiatan "Fun Run 5K, Fun Walk, and Aerobic" bekerja sama dengan Pikiran Rakyat dan Kota Baru Parahyangan. 

"Pesan saya dalam peringatan Hari Kanker Sedunia ini, kalau kita sehat maka periksakan diri secara rutin sebagai bentuk deteksi dini kanker. Kalau sampai sudah terkena kanker, saya sarankan jangan menjalani pengobatan alternatif. Kita harus menggunakan pengobatan secara medis, karena itu satu-satunya jalur yang paling tepat," kata Diana.

Menurut dia, ancaman akan serangan kanker pada era sekarang ini sudah semakin nyata. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. "Nah, kami di yayasan ini menginginkan agar ke depan itu orang-orang punya awareness, bahwa kanker itu sudah ada di sekitar kita," ujarnya.

Diana menjelaskan, PrCC didirikan sebagai bentuk kepedulian, simpati dan empati terhadap para penderita kanker. Selain di bidang dukungan pasien, yayasan nirlaba yang dibentuk pada 2016 tersebut juga memberikan pelayanan sosial dalam hal konseling, pendidikan, dan informasi pendanaan pengobatan.

Saat ini, katanya, ada hampir 300 orang yang berpartisipasi dalam kegiatan PrCC. Dengan menggandeng unsur akademisi, praktisi medis, maupun fasilitas kesehatan, tiga kali dalam sepekan PrCC rutin mengunjungi pasien yang sedang menjalani kemoterapi. "Kami kasih semangat, karena biasanya penderita kanker itu mentalnya drop, apalagi waktu menjalani kemoterapi kadang-kadang ada yang mau give up," tuturnya.

Dari aktivitas itu, lanjut dia, para penderita kanker kemudian tertarik untuk bergabung dengan PrCC, sehingga bisa saling menyemangati dan bertukar informasi. Bahkan, keluarga penderita kanker juga ada yang kemudian ikut jadi simpatisan. Diana menekankan, para penderita kanker harus memiliki semangat yang kuat untuk melawan penyakit tersebut, sebagai upaya memperpanjang usia hidup.  

"Saya sendiri 10 tahun lalu terkena kanker. Semua orang yang tahu kena kanker, pasti syok. Saya juga. Namun, karena waktu itu anak-anak saya masih kecil, saya pikir saya harus berjuang melawannya. Akhirnya saya menjalani pengobatan selama hampir satu tahun, sampai kepala saya gundul. Dioperasi, kemoterapi, radioterapi, semua pengobatan medis itu saya jalani. Sampai sekarang juga saya masih terus meminum obat," ucapnya.

Pembina PrCC Monty P Soemitro mengatakan, ada bahan-bahan alam tertentu yang memiliki kadar untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita kanker. Akan tetapi, bahan-bahan itu belum bisa membunuh sel-sel yang sakit karena kanker. Sel-sel yang sakit itu sementara ini baru bisa dibunuh melalui obat-obatan yang diproduksi dari luar negeri. 

"Sampai hari ini tidak ada pengobatan selain medis, baik di Eropa, Amerika, atau di Indonesia. Dulu kita bisa takut berobat secara medis, karena obat medis dianggap mahal. Namun, dengan adanya BPJS Kesehatan, yang bisa menanggung biaya 100%, seharusnya kita sudah enggak takut lagi untuk berobat. Tinggal mau atau enggak," kata Monty, yang merupakan dokter bedah onkologi di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. (Hendro Husodo)***

 

Bagikan: