Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 27.9 ° C

Kurang Toilet, Mana Bisa Wisatawan Mancanegara Bertambah?

BANDUNG, (PR).- Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Barat (BPPD Jabar) mengungkapkan pentingnya infrastuktur dan aksesibilitas dalam meningkatkan kunjungan wisata.

Pada tahun 2017, BPPD Jabar menargetkan kenaikan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang bervakansi ke Jawa Barat. Terutama turis dari Malaysia, Singapura, Jepang, China, Belanda, Saudi Arabia, dan Mesir.

Menurut Ketua BPPD Jabar Cecep Rukmana, pemerintah dan industri harus bekerja sama meningkatkan kepariwisataan di Jawa Barat.

“Terutama masalah infrastruktur dan aksesibilitas yang belum bisa mencapai seluruh produk-produk wisata,” kata Cecep. “Kedua manajemen lalu lintas sangat menggangu terhadap kenikmatan wisatawan yang datang ke Jawa Barat,” tambahnya.

Jawa Barat memiliki potensi pariwisata terutama wisata alam. Menurut Cecep, di Jawa Barat tetap wisata alam yang akan menjadi daya tariknya. Kawah, pegunungan, air panas, dan suasana parahyangan itu yang akan menjadi daya tarik.

Cecep mengungkapkan industri kreatif menjadi suatu unggulan yang perlu didorong sehingga bisa meningkatkan pendapatan daerah. “Karena lewat indutri kreatiflah wisman-wisman bisa mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang,” Cecep menjelaskan.

Wisata budaya masih menjadi kekurangan di Jawa Barat. Menurut Cecep, yang eksis baru Saung Angklung Ujo. “Jadi kalau orang ingin berkunjung melihat budaya masih kurang sekali,” ungkapnya.

Menurut Anggota BPPD Jabar Popy Rufaidah, berdasarkan peringkat infrastruktur, Indonesia tidak menunjukkan perubahan. Sehingga pemerintah harus lebih memprioritaskan kualitas infrastuktur yang berhubungan dengan jalan dan aksesibilitas.

Menurut Popy, hal-hal yang paling mendasar harus dipenuhi dulu sebelum melakukan promosi destinasi wisata. Pertama, mengenai kebutuhan toilet bagi wisatawan. Kedua, kemudahan wisatawan untuk mendapat informasi mengenai tempat pariwisata. Lalu, yang tak kalah penting adalah akses telekomunikasi.

“Karena toilet menjadi salah satu indikator bagaimana turis mau melakukan kunjungan,” ungkap Popy. “Program toilet bersih yang dicanangkan oleh Kemenpar (Kementerian Pariwisata) perlu didukung oleh pemerintah provinsi sampai ke pemerintah kota dan kabupaten,” tambah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran tersebut. ***
Bagikan: