Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 26.2 ° C

Cerita Mimih Setelah Lolos dari Perdagangan Manusia

Tri Joko Her Riadi
MIMIH Handayani (47) di depan warung miliknya di kawasan Cigadung, Kota Bandung, awal Desember 2016.*
MIMIH Handayani (47) di depan warung miliknya di kawasan Cigadung, Kota Bandung, awal Desember 2016.*

MIMIH Handayani (47) mempertaruhkan hidupnya ketika melarikan diri dari para penyekapnya di Pontianak, Kalimantan Barat, empat tahun lalu. Dia sekarang berjuang sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup di Kota Bandung.

Mimih Handayani berulang kali merapatkan jaket hijaunya. Sudah dua hari terakhir ibu tiga anak tersebut tidak enak badan. Semilir angin di kawasan Cigadung, Kota Bandung, awal Desember itu, dirasainya menusuk tulang.

“Kalau besok tidak membaik juga, baru saya ke dokter,” kata Mimih di bangunan kos setinggi tiga lantai, tepat di seberang sebuah pangkalan ojek.

Bangunan kos dengan belasan penghuni tersebut kini menjadi tumpuan hidup Mimih. Sejak dua tahun terakhir, dia dibayar untuk menungguinya. Pekerjaan rutinnya setiap pagi adalah menyapu dan mengepel lantai. Uang tambahan dia dapat dari penghuni kos yang meminta jasanya untuk menyeduhkan kopi atau memasakkan nasi goreng.

Selain menunggui kos, Mimih memperoleh penghasilan dari sebuah warung kelontong kecil di samping kamar kontrakannya, sekitar 200 meter dari bangunan kos yang dia tunggui. Kamar kontrakan di perkampungan padat itu seluas 2x3 meter persegi. Mimih tinggal bersama anak bungsunya yang baru saja lulus SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

Kedua usaha ini, menurut pengakuan Mimih, cukup untuk bertahan hidup. Untuk mendapatkan uang lebih yang bisa ditabung, lain lagi ceritanya. Mimih bahkan belum sanggup menebus ijazah anak bungsunya karena harus menyerahkan uang sebesar Rp 1,5 juta yang diminta sekolah.

Mimih merupakan bekas tenaga kerja wanita (TKW) yang menjadi korban praktik perdagangan manusia. Dia disekap selama satu bulan di Pontianak bersama 50-an perempuan lain dari berbagai daerah di Indonesia pada 2014 lalu. Diberi identitas palsu, Mimih tinggal menunggu giliran diselundupkan ke Malaysia untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK). Keberaniannya yang menyelamatkan dirinya dan kawan-kawannya.

Lolos dari penyekapan bukan berarti beres semua permasalahan Mimih. Dia membutuhkan waktu tak kurang dari setahun untuk menyembuhkan trauma. Dia juga mulai memikirkan ekonomi keluarga yang terus memburuk setelah perceraiannya dengan sang suami.

Mimih akhirnya membulatkan tekad memulai bisnis jasa cuci pakaian (laundry). Dari pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang dia sebut “orang Gedung Sate”, dia mendapatkan bantuan modal sebesar Rp 5 juta. Untuk membeli dua mesin cuci dan satu mesin pengering, dia mendapatkan tambahan dana dari pinjaman bank.

“Modal pertama saya ya sebenarnya asal berani saja. Mungkin nekat lebih tepatnya. Tapi kalau tidak bekerja, dari mana kami bisa makan?” ucap Mimih.

Usaha jasa cuci pakaian kini diteruskan anak sulung Mimih bersama dengan istrinya. Dua mesin cuci dan satu mesin pengering sudah diangkut ke kontrakan mereka di kawasan Kosambi. Mimih bertahan di Cigadung dengan warung kelontong dan bangunan kos yang ditungguinya.

Ketua P2TP2A Netty Prasetiyani Heryawan mengatakan, pemberdayan ekonomi itu harus dilakukan secara komprehensif. Kerja keras dilakukan dari hulu ke hilir. Jangan sampai sekembalinya ke rumah, korban justru terlilit persoalan baru. Terjerat lintah darat, misalnya.

"Pemberdayaan dilakukan dengan pemberian keterampilan, memberi kesempatan magang, membangun kepercayaan diri, dan memberi akses permodalan," kata Netty ditemui di Bandung, Selasa, 20 Desember 2016. 

P2TP2A Jabar menggandeng berbagai pihak, mulai dari dinas hingga perusahaan swasta, dalam program pemberian pelatihan dan kesempatan magang. Tahun ini mereka bekerja sama dengan salah satu produsen tepung terigu untuk menyelenggarakan kursus memasak bagi para korban yang tengah didampingi.

Selain pendampingan sosial-psikologis bagi korban, Netty menekankan pentingnya pelibatan organisasi-organisasi perempuan yang ada di masyarakat. Harapannya, kerja-kerja pemberdayaan ekonomi bisa dirasakan oleh perempuan, utamanya para perempuan yang menjadi kepala keluarga atau tumpuan keluarganya.

“Pemberdayaan ekonomi memastikan tidak ada anak-anak korban yang putus sekolah, kekurangan gizi, atau berakhir dengan menjadi pekerja jalanan,” tuturnya. 

Direktur Yayasan Bahtera Tamami Zein berpendapat, pemerintah sering tergesa-gesa dalam menangani korban perdagangan manusia. Pemberdayaan ekonomi bisa ditawarkan kepada korban sesudah mereka tuntas dengan trauma sosial-psikologis. Ketidaksabaran justru bisa berakibat fatal bagi korban.

Berdasarkan pengalaman pendampingan yang diberikan Yayasan Bahtera, dibutuhkan waktu rata-rata tak kurang dari enam bulan untuk mendampingi seorang korban perdagangan manusia. Tak jarang, waktu pendampingan berlangsung hingga dua tahun.

“Pemberdayaan ekonomi merupakan ujung pendampingan korban secara berkelanjutan. Dibutuhkan kerja keras dan keterlibatan banyak pihak untuk mewujudkannya,” tutur Tamami. (Catur Ratna Wulandari)***  

 

 

Bagikan: