Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 22 ° C

Serunya Wisata Kuliner Jalan Cikapundung Kota Bandung

Endah Asih Lestari

SUNGAI Cikapundung kabarnya menjadi salah satu alasan mengapa Deandels memindahkan ibu Kota Bandung dari Dayeuhkolot ke Alun-alun. Dalam perkembangannya, Jalan Cikapundung yang terletak di sekitar Alun-alun Bandung dan mengapit salah satu bagian Sungai Cikapundung, menjadi jalan yang ramai, mulai pagi hingga dini hari. 

Saat petang tiba, wajah ruas Jalan Cikapundung berubah. Dari yang awalnya disibukkan oleh aktivitas perkantoran dan lalu lalang kendaraan, saat petang hingga dini hari, tenda-tenda kaki lima yang menawarkan aneka kuliner bermunculan di sepanjang sisi jalan tersebut. Jumlahnya puluhan. 

Untuk pelaku wisata kuliner atau sekadar pendamba rasa lezat, ini tentu kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Apalagi, letaknya yang benar-benar berada di tengah kota, cukup strategis didatangi. Ketika berjalan-jalan di sekitar Alun-alun kemudian perut minta diisi, coba datang ke ruas jalan sepanjang 200 meter ini. 

Di mulut jalan, tenda kuliner sop kaki, sea food, soto bening, dan kacang rebus siap ”menyambut”. Jalan sedikit ke arah dalam, varian­nya lebih banyak lagi. Mulai dari cilok yang mengusung konsep unik, olahan ceker kekinian, nasi timbel, mi ayam, bakso, cuanki, ayam bakar, hingga kuliner daerah seperti sate padang, lamang tapai, serta menu khas Pandeglang, Banten. 

”Biasanya kalau ke sini, saya mencari sate padang. Kalau sedang bosan, ya coba warung tenda yang lain. Pilihannya cukup banyak, tinggal jalan kaki dari Alun-alun Bandung,” ucap Dinda (29), warga Bandung yang sedang menyantap sate padang Datuk di Jalan Cikapundung. 

Jalan Cikapundung pada awalnya terdiri atas dua ruas, yaitu Jalan Cikapundung Timur dan Jalan Cikapundung Barat. Tahun lalu, nama Jalan Cikapundung Timur berubah menjadi Jalan Ir. Soekarno. Jadi, ketika orang menyebut nama Jalan Cikapundung, yang dimaksud adalah Jalan Cikapundung Barat. 

Secara umum, warung-warung tenda di ruas jalan tersebut tidak berukuran besar. Sehingga, kenyamanan makan menjadi faktor nomor sekian saat berwisata kuliner di ruas jalan ini. Akan tetapi, aroma masakan yang menyembul dari setiap warung tenda saat kita berjalan melewatinya, cukup menjadi ajakan ampuh bagi lidah untuk sekadar mampir dan mengecap rasa. Yuk, menjajal kuliner di Cikapundung.

 

Kuliner Khas Pandeglang Bu Sumi  degan Cara Santap yang Unik

Harga: Rp 20.000 (per porsi ulen bakar cotcol semur sapi), Rp 17.000 (per porsi nasi bakar sate ayam), Rp 21.000 (per porsi nasi bakar sate sapi)

Jam buka    : 17.00 - 24.00 

Sejak sepekan terakhir, tenda yang menjajakan kuliner khas Pandeglang mulai bisa ditemukan di ruas Jalan Cikapundung. Tepatnya, di depan trotoar eks Matahari Cikapundung yang beralih fungsi menjadi gedung parkir. 

Orang yang menjajakan yaitu pasangan suami istri Agus Supriyadi (35) dan Neng Nurmalia (30). Resep yang digunakan milik orangtua Neng Nurmalia yang berasal dari Kpampung Cimadang, Kabupaten Pandeglang. ”Kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat Bandung, ini lho kuliner khas Cimadang, Pandeglang. Mungkin banyak orang yang belum tahu,” ucap Agus. 

Ada tiga menu yang dijagokan pasangan ini. Ulen bakar cotcol semur sapi, nasi bakar merah putih sate ayam, dan nasi bakar merah putih sate sapi. Bisa dibilang, ketiganya memiliki resep dan cara santap yang unik. 

Harga    : Rp 20.000 - 40.000 per porsi

Jam buka: 11.00 - 23.00 

TERDAPAT lebih dari empat penjaja sop kaki kambing dan sapi di kawasan ini. Jika ditanya siapa yang paling legendaris? Jawabannya adalah Sop Kaki milik (alm.) Oleh Gundul. 

Letaknya tepat di ruas kanan belokan Jalan Cikapundung menuju Jalan ABC. Seperti layaknya sop kaki yang dijajakan di lokasi lain, sop kaki ala Oleh Gundul terdiri atas potongan daging sapi atau kambing, usus, jeroan, otak, paru, babat, dan kaki. 

Kuah kental panas yang disiram di atas potongan-potongan tersebut, terbuat dari campuran rempah-rempah seperti bawang merah, pala, kayu manis, cengkeh, jahe, salam, dan sereh. Teksturnya kental dan rasanya gurih, karena direbus bersama daging dan susu bubuk. 

Sebelum disajikan, ditambah potongan tomat, daun bawang, emping, mentega, bawang goreng, dan secubit jeruk nipis, lidah akan ”kegirangan” dibuatnya.

 

Ceker Mietoha, Aneka Olahan Sebagai Camilan

Harga    : 25.000 - 35.000 per porsi

Jam buka: 17.00 - 24.00 

JIKA enggan menyantap makanan yang ”berat”, coba mampir ke warung tenda yang satu ini. Sesuai namanya, warung ini menawarkan aneka olahan ceker sebagai camilan. Sebut saja ceker cadas (cabe pedas), ceker dadas (tidak pedas), dan ceker kubing (berkuah geuning). 

Rasanya asam manis, dengan kepedasan yang bisa diatur sesuai selera. Ketika digigit, tulang-tulang kecil ceker yang telah melalui berbagai proses masak ini bisa dengan mudah disantap karena lunak. Proses yang dimaksud adalah setelah digoreng, ceker direndam di dalam air es agar kulit agak mekar. Setelah itu, dipresto sekitar satu jam. 

Selain sebagai camilan, ceker juga disajikan bersama mi yamin dan nasi gurih. Ada pula sayap (chicken wings) dengan bumbu serupa yang disajikan secara pedas dan tidak pedas.

 

Cilok Mantan dan Bumbu yang tak Biasa

Harga    : Rp 15.000 per porsi

Jam buka    : 17.00 - 2.00 

BELAKANGAN ini, sesuatu yang berhubungan dengan mantan, hampir selalu disikapi dengan perasaan galau karena baper (bawa perasaan). Namun, jika nama mantan yang dimaksud adalah kudapan bernama cilok, yang muncul adalah rasa lezat dan kenyang. 

Oleh Munzir (46), cilok yang dijajakan diberi nama Cilok Mantan. Eits, tapi bagaimana rasanya? Bukan rasa pedas karena bumbu kacang tapi rasa yang pernah ada.

Rasa yang pernah ada tersebut menjadi sebutan lain bagi bumbu saus padang, yang menurut Munzir paling banyak diburu. Selain itu, juga ada rasa mantan terindah atau bumbu manis pedas, rasa yang tertinggal atau bumbu lada hitam, dan rasa yang terpendam atau bumbu asam manis. Setiap porsi cilok terdiri atas 7 cilok berukuran besar, dengan pilihan bumbu tersebut.

”Yang jual cilok di Bandung ini sudah tak terhitung, maka diperlukan kreativitas lebih untuk menjualnya. Dalam hal ini adalah nama yang nyeleneh dan bumbu yang tak biasa,” kata Munzir, yang pernah menjadi chef di restoran selama belasan tahun itu.  

Dia menyatakan, harga yang dibanderol cukup mahal untuk standar cilok yang terbuat dari campuran tepung terigu dan sagu. ”Karena untuk membuat racikan bumbunya juga mahal, tapi sesuai lah sama rasanya,” ucapnya.

 

Sate Padang Pak Datuk, Rasa Pedasnya ”Nendang”

Harga     : Rp 28.000 per porsi

Jam buka: 17.30 - 24.00 

HARUM aroma sate padang yang dibakar, lalu dicampur dengan kuah kental bertabur bawang goreng, langsung menjajah hidung ketika memasuki ruas Jalan Cikapundung. Nama kedainya, Sate Padang Pak Datuk. 

Sate padang di kawasan ini cukup legendaris, karena pertama kali dijajakan oleh Pak Datuk dari 1970 di sekitar Jalan ABC, dekat jembatan Cikapundung. Sate Padang Pak Datuk kemudian pindah ke ruas Jalan Cikapundung sejak 1980. Saat ini, sate padang ini dijual oleh generasi kedua dan ketiga. 

Ada empat jenis tusuk yang dijajakan, yaitu daging sapi bagian atas, lidah, jantung, dan usus. Satu porsi Sate Padang Pak Datuk berisi 10 tusuk sate campuran empat jenis tersebut atau sesuai selera. 

Generasi ketiga Pak Datuk, Zulkifli (41), mengatakan bahwa sate padang yang dijualnya merupakan ala Bukittinggi. Ciri khasnya adalah rasa kuah yang didominasi pedas dan agak asin, dan berwarna kuning. Benar saja, ketika dicicipi, rasanya pedas. Sangat ”nendang” untuk pecinta rasa pedas. 

Untuk sate padang, selain dari Bukittinggi, juga ada sate padang ala Pariaman dan Padang Panjang. ”Untuk Pariaman, bumbunya berwarna agak merah, dengan rasa cenderung gurih. Sedangkan untuk Padang Panjang, warnanya kuning pucat dan sedikit asin,” tuturnya. 

Sebelum dibakar, daging terlebih dahulu direbus, dipotong-potong kecil dan ditusuk. Ketika dipesan, sate dibakar untuk menimbulkan aroma harum dan tekstur lebih kenyal. Disantap bersama kuah yang hangat, nyam! Rasanya lezat dan lekoh. Cukup mengenyangkan.

 

Cuanki Cikapundung yang Renyah

Harga    : Rp 15.000,- per porsi

Jam buka    : 16.00 - 23.00 WIB 

CUANKI dikenal sebagai makanan sejenis bakso yang disajikan lengkap dengan tahu goreng atau batagor, tahu putih, dan mi kuning. Banyak orang yang menyebut cuanki merupakan kependekan dari ”cari uang jalan kaki”. Tak heran, cuanki biasa dijajakan oleh penjual yang berjalan kaki. 

Rasanya yang segar, gurih dan ”meriah”, membuat keberadaan cuanki disukai. Maka, semakin banyak pula orang yang tertarik menjajakannya. Hal itu menyebabkan cuanki tak hanya dijajakan penjualnya sambil memanggul bawaan, melainkan berjualan tetap di kios atau warung tenda. 

Seperti yang terdapat di ruas kanan Jalan Cikapundung. Penjualnya -seperti penjual cuanki kebanyakan- berasal dari Garut. Dalam seporsi cuanki, terdapat bakso, tahu besar isi adonan ikan tenggiri, tahu kecil, siomay, serta kerupuk pangsit isi adonan ikan tenggiri. 

Uniknya, begitu dipesan, penjualnya langsung menggoreng tahu, siomay, dan kerupuk pangsit saat itu juga. Baru kemudian ditambahkan kuah cuanki beraroma ikan, dan satu butir bakso. Hasilnya, tekstur tahu, kerupuk pangsit dan siomay goreng yang renyah. Tak lupa, bawang goreng dan irisan daun seledri ditaburkan untuk menguatkan aroma dan rasa. Tinggal tambahkan sambal dan kecap sesuai selera.***

Bagikan: