Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 30.6 ° C

Sidang Pratu Galang, Terdakwa Dinilai Berbohong

Yedi Supriadi
Terdakwa Marcel tengah menjawab pertanyaan jaksa pada sidang lanjutan pembunuhan anggota Kopassus Pratu Galang, di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa 22 November 2016.
Terdakwa Marcel tengah menjawab pertanyaan jaksa pada sidang lanjutan pembunuhan anggota Kopassus Pratu Galang, di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa 22 November 2016.
BANDUNG, (PR).- Jaksa Penuntut Umum sempat memarahi Marsel Gerald Akbar, terdakwa kasus pembunuhan anggota Kopassus Pratu Galang dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa 22 November 2016. Marsel dinilai berbohong dan selalu membantah terhadap dakwaan yang dibikin jaksa penuntut umum.

Dalam sidang yang dipimpin oleh hakim Kartim Khaerudin diagendakan pemeriksaan terdakwa. Jaksa Melur dengan suara lantang mengkonfirmasi kepada terdakwa soal keterangannya yang dinilai berbohong dan berbelit-belit. Bahkan soal kepergiannya ke Cianjur dengan saksi Indra berbeda pendapat.

Padahal dalam kesaksiannya Indra mengaku berangkat bersama Marcel, namun Marcel malah memberikan keterangan yang berbeda. Kemudian jaksa Melur juga menanyakan soal pekerjaannya, disatu sisi mengaku tidak bekerja, alias pengangguran, namun ternyata dia bekerja. Atas pertanyaan tersebut, Marcel hanya mengaku hilap dan lupa.

Selain itu, majelis hakim yang dipimpin Kartim Khaerudin juga mempertanyakan mengenai keterlibatan Marcel dalam kasus penganiayaan Pratu Galang hingga meninggal dunia.

Bahkan saat ditanya soal pernyataan Marcel yang menyatakan pada hari yang sama saat kejadian, dia sedang bermain game Play Station. Marcel membenarkannya. Namun majelis hakim mempertanyakan kenapa tidak dimasukan ke dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di kepolisian. Marcel hanya mengaku lupa. "Lupa pa, saya waktu itu dalam keadaan tertekan secara psikis," ujarnya.

Sementara itu, Marcel juga ternyata Ketua Geng Motor Brigez di Cihanjuang Cimahi tahun 2004-2009. Marcel mengaku bahwa dirinya tidak terlibat dalam kasus tersebut karena dirinya tidak ada di lokasi. Untuk mendukung alibinya, Marcel meminta agar CCTV di lokasi kejadian diputar di persidangan. Namun jaksa dirasakan janggal atas keterangan Marcel yang tidak logis.

"Saya tidak terlibat dalam kasus ini. Intinya menolak apa yang dicantumkan dalam dakwaan," ujarnya dengan suara lantang.

Seperti diketahui sebelumnya, jaksa penuntut umum menyebutkan Marsel warga kampung Girimulya Kelurahan Karyawangi Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung bersama Ridwan Antonius alias Dores, Eki Maulana Setiadi alias Paku, Eri Ramdhan Setiawan, melakukan pengeroyokan.

Mereka juga dibantu Rius, Arjun, Cempreng, Gelung, Endog, Gepeng, Kentung dan 20 orang kelompok motor lainnya.

Peristiwa itu terjadi pada hari Minggu 5 Juni 2016 sekitar pukul 2.40 di Jalan Jendral Sudirman Bandung.

Di jalan tersebut rombongan kelompok motor itu tengah konvoi menggunakan sepeda motor. Kemudian rombongan disalip korbang Pratu Galang Suryawan dan hampir menyerempet anggota rombongan.

Selanjutnya menurut jaksa Yudi, korban Pratu Galang di kejar lalu dipepet dan dihentikan oleh terdakwa Marsel yang berboncengan dengan Rius beserta rombongan kelompok motor. Kemudian Marcel bertengkar dengan korban. Saat itu Rius turun dari motor dan langsung memukul korban, karena melawan akhirnya secara bersama sama korban dikeroyok.

Marsel sendiri memukul berkali kali dengan tangan kosong ke arah dada dan muka, Eri Rahmdan memukul berkali kali ke muka dan menusukan pisau dua kali kepunggung korban. Rius memukul berkali-kali memakai balok. Hal yang sama juga dilakukan oleh Gepeng, Cempreng, Kentung, Gelung bersama 20 anggota kelompok motor lainnya.

Korban akhirnya jatuh dan tidak berdaya, dan mereka langsung meninggalkan korban. Berdasarkan hasil pemeriksaan RS Dustira Cimahi, korban meninggal karena luka robek dipunggung, lecet serta lebam di dahi dan pelipis.

Akibat perbuatan tersebut terdakwa diancam pasal 170 ayat 2 ke-3 KUHP tentang pengeroyokan hingga meninggal dunia. Dan pasal 351 ayat (3) KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang penganiayaan hingga meninggal dunia.

Karenanya terdakwa Marsel diancam dengan kurungan 12 tahun penjara. Sementara tiga terdakwa lainnya Ridwan Antonius, Eki Maulana, dan Eri Ramdhan belum disidangkan. Dan akan didakwa dalam berkas terpisah.

Sedangkan pelaku lainnya kabur dan kini masih dalam pencarian aparat kepolisian.***
Bagikan: