Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

Kota Bandung tak Siap Hadapi Banjir

Tri Joko Her Riadi
SEORANG wisatawan asing berjalan di atas trotoar saat banjir menerjang Jalan Stasiun Barat, Kota Bandung, Minggu 13 November 2016. Banjir menggenangi jalan sehingga menghambat kendaraan yang melintas dan mengakibatkan kemacetan di sekitar kawasan tersebut.*
SEORANG wisatawan asing berjalan di atas trotoar saat banjir menerjang Jalan Stasiun Barat, Kota Bandung, Minggu 13 November 2016. Banjir menggenangi jalan sehingga menghambat kendaraan yang melintas dan mengakibatkan kemacetan di sekitar kawasan tersebut.*
BANDUNG, (PR).- Kota Bandung belum didesain agar siap menghadapi potensi bencana di tengah cuaca ekstrem. Munculnya titik-titik baru banjir, termasuk stasiun dan rumah sakit menjadi buktinya.

Hujan deras disertai angin selama sekitar tiga jam pada Minggu 13 November 2016 siang bukan saja merobohkan belasan pohon. Genangan setinggi setengah meter membuat Stasiun Bandung lumpuh. Semua jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api ditunda.

Genangan air juga dilaporkan ditemukan di Rumah Sakit Cicendo dan Rumah Sakit Umum Daerah Ujungberung. Banjir di fasilitas-fasilitas layanan publik itu merupakan yang pertama kalinya terjadi.

”Kota ini tidak siap menghadapi ancaman bencana, terutama banjir. Titik-titik banjir baru bermunculan ketika titik-titik rutin seperti Pasteur, Pagarsih, dan Gedebage belum tuntas tertangani,” ujar pakar tata kota ITB Denny Zulkaidi.

Diungkapkan Denny, kondisi cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang tahun ini turut berkontribusi terhadap rentetan bencana banjir di Kota Bandung dalam beberapa pekan terakhir. Namun, menimpakan seluruh kesalahan pada cuaca juga kurang tepat.

”BMKG sudah jauh-jauh hari memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem akhir tahun ini. Ada waktu untuk bersiap. Hal ini yang tidak dikerjakan secara optimal. Ketiadaan BPBD di kota ini membuat koordinasi antisipasi bencana tak jelas siapa bertanggung jawab,” tutur Denny.

Denny menegaskan, pentingnya penanganan masalah banjir secara integral. Penambahan ukuran gorong-gorong di Dago, misalnya, belum bakal efektif menuntaskan genangan karena sistem drainase di bawahnya belum disesuaikan kapasitasnya.

Koordinasi dengan wilayah-wilayah di Bandung Raya juga mutlak dilakukan. Pemkot Bandung tidak akan bisa menangani banjir sendirian. Menurut Denny, komitmen bersama yang beberapa hari lalu diinisiasi Pemprov Bandung merupakan langkah positif.

”Tapi ini kan baru komitmen di atas kertas, belum aksi. Nah, pelaksanaan di lapangan inilah yang musti segera dikerjakan dengan serius,” ucapnya.***
Bagikan: