Pikiran Rakyat
USD Jual 14.210,00 Beli 13.910,00 | Berawan, 20 ° C

Di Balik Lirik Iwan Abdurahman

Retno Heriyanto
MUSISI senior Iwan Abdurahman bernyanyi dan bermain gitar serta mengupas lirik dalam lagu-lagu karyanya yang tidak pernah diketahui pecintanya pada Forum Asia Afrika "Lirik, Musik, Epik Abah Iwan" di Aula Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika 77 Bandung, Kamis, 1 September 2016.*
MUSISI senior Iwan Abdurahman bernyanyi dan bermain gitar serta mengupas lirik dalam lagu-lagu karyanya yang tidak pernah diketahui pecintanya pada Forum Asia Afrika "Lirik, Musik, Epik Abah Iwan" di Aula Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika 77 Bandung, Kamis, 1 September 2016.*
BANDUNG,(PR).- Lagu bukan semata lirik yang diberi musik tetapi merupakan untaian doa dan harapan. Lagu merupakan ungkapan hati yang jujur terhadap suatu kondisi yang dialami dan dirasakan untuk disampaikan dan didengarkan. Musisi Iwan Abdurahman membeberkan makana di balik syair lagu-lagunya.

“Lagu ‘Burung Camar’, aslinya tidak seperti yang dinyanyikan oleh Vina Panduwinata yang memang pembawaannya riang. Padahal ada ironinya yang berceritakan tentang kesedihan seorang nelayan tua ditengah lautan, sementara hasil tangkapannya dinikmati oleh mereka yang memiliki uang, disitu saya mencoba mendoakan sang nelayan tua,” terang Iwan Abdurahman disela-sela lagu “Burung Camar” yang disuarakan khusus Ceu Aam (penulis Aam Amalia), pada Forum Asia Afrika “Lirik, Musik, Epik Abah Iwan” di Ruang Rapat Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika 77 Bandung, Kamis, 1 September 2016.

Sejumlah tokoh, seniman dan budayawan dari kalangan akademisi yang hadir menjadi tahu makna sebenarnya di balik lagu Burung Camar. Abah Iwan juga mengupas panjang lebar lagu Mentari yang sebelumnya instrumennya dimainkan oleh Amy Cepi (biola) Syarif Maulana (gitar) dan Dika (violin).

“Lagu ‘Mentari’ tercipta dari rasa keterhinaan saya karena kampus (UNPAD) pada tahun 1978 diduduki tentara. Saya selalu teringat akan peristiwa dimana tentara menduduki kampus dan saya ditangkap, diborgol dan dipukul popor (gagang/pegangan senjata api)lalu dibawa ke Jalan Jawa, setelah saya dilepaskan dari Jalan Jawa, saya tidak pulang ke rumah dan langsung kembali lagi ke kampus dan tentara masih ngabadega bersenjata lengkap dengan bayonetnya, karena tidak mampu melawan maka tertuang dalam syair, meskipun tembok yang tinggi mengurungku, berlapis pagar duri sekitarku, tak satu pun yang mampu menghalangiku,” terang Abah Iwan, yang pada Sabtu, 3 September 2016 genap berusia 68 tahun.

Tentang lagu “Seribu Mil Lebih Sedepa”, Abah Iwan menceritakan bahwa lagu tersebut bukan syair puisi yang kemudian diberi musik menjadi lagu. “Pada bagian,…lagi pula bukan puisi, Cuma bahana yang diam-diam, lalu bangkit dari dalam hati, lagu alam memang sunyi, sayang… saya wawancara imajiner dengan Godi (Suwarna) yang bertanya memang mana puisina? Ya, tidak ada karena puisinya berupa angin yang berhembus, suara dedaunan dan guntur dikejauhan, jadi puisinya, puisi alam yang sulit digambarkan,” terang Abah Iwan.

Budayawan Hawe Setiawan, dalam paparannya mengatakan bahwa lirik dan musik Abah Iwan, merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. “Lirik merupakan kristalisasi pengalaman Abah Iwan, sementara musik adalah penguatnya dalam menyampaikan pesan, jadi lirik dan musik Abah Iwan tidak dapat diceraikan,” ujar Hawe Setiawan.

Sementara penggiat musik dan juga dosen dari Telkom University, Syarif Maulana , mengatakan bahwa dirinya sulit untuk mengetahui barometer musik Abah Iwan, yang dikatakan sebagai musik folk atau balada. “Bahkan saat saya melakukan survey ke mahasiswa dari 83 mahasiswa hanya seorang yang tahu nama Abah Iwan, sedangkan ke 29 orang dosen hanya tiga persen yang pernah mendengar, karena tidak adanya musisi yang bisa dijadikan patokan musik Abah Iwan dan tidak banyak yang mengenal, maka Abah Iwan dan musik serta syair lagunya merupakan suatu yang mandiri,” ujar Syarif disambut gelak tawa hadirin.

Pembicara lainnya, T. Bactiar mengatakan bahwa sosok Abah Iwan sekarang ini tengah memasuki periode menerima penghargaan dari masyarakat atas karyanya. “Sebelum Abah Iwan kecil menapaki periode pembelajaran dari pengalaman nyata, disambung periode menenamkan nilai dan periode terpaan fisik yang merupakan periode emas dimana produktifitas Abah Iwan sangat tinggi,” ujar T. Bachtiar, yang mengatakan bahwa hingga saat ini sulit untuk mencari tandingan musisi sekaliber Abah Iwan.***
Bagikan: