Pikiran Rakyat
USD Jual 14.503,00 Beli 14.405,00 | Umumnya berawan, 23.9 ° C

Penyalahgunaan Hexymer Jadi Tren Baru Kasus Narkoba

Hendro Susilo Husodo
KEPALA Satnarkoba Polres Cimahi Wahyu Agung mengintrogasi pengedar dan pengguna psikotropika jenis hexymer di Mapolres Cimahi, Jalan Amir Machmud, Rabu 31 Agustus 2016. Obat jenis hexymer jadi tren baru kasus penyalahgunaan narkoba di Cimahi.*
KEPALA Satnarkoba Polres Cimahi Wahyu Agung mengintrogasi pengedar dan pengguna psikotropika jenis hexymer di Mapolres Cimahi, Jalan Amir Machmud, Rabu 31 Agustus 2016. Obat jenis hexymer jadi tren baru kasus penyalahgunaan narkoba di Cimahi.*
CIMAHI, (PR).- Penggunaan psikotropika jenis hexymer menjadi tren baru dalam kasus penyalahgunaan narkoba di Kota Cimahi belakangan ini. Dalam kurun waktu 10 hari terakhir, Satnarkoba Polres Cimahi menahan sejumlah orang dan menyita 15 ribu butir hexymer yang diedarkan tanpa surat keterangan dokter.

Kepala Satnarkoba Polres Cimahi Wahyu Agung menuturkan, pada Selasa 30 Agustus 2016 malam, jajarannya mengamankan 5 orang dan 9.000 butir hexymer yang diedarkan secara ilegal. Pada pekan sebelumnya, Satnarkoba Polres Cimahi juga menyita 6.000 butir hexymer dan menahan seorang distributornya, AM (28).

"Di wilayah Cimahi, tepatnya di sekitar lingkungan Pemkot Cimahi, banyak beredar pil jenis hexymer. Akhirnya, anggota saya melakukan penyelidikan dan kemarin malam kami amankan sejumlah anak muda yang menyalahgunakan obat keras ini," kata Wahyu di Mapolres Cimahi, Rabu 31 Agustus 2016.

Dia menyebutkan, kelima orang yang diamankan adalah AG (23), FR (22), GL (20), GN (19), dan AL (20). "Dengan harga yang terjangkau, Rp 10 ribu bisa dapat tiga butir, obat ini seringkali disalahgunakan. Hexymer banyak beredar di kalangan anak muda. Kami mendeteksi peredarannya mulai meningkat belakangan ini," katanya.

Dari kelima orang tersebut, kata Wahyu, AG merupakan distributor hexymer di kalangan anak muda di Cimahi. "Obat tersebut dibeli yang bersangkutan secara daring dari Jakarta. Setoples obat itu berisi 1.000 butir, dibelinya seharga Rp 600 ribu dan dijual lagi Rp 1 juta," katanya.

Kepada wartawan, AG mengaku telah memperjualbelikan hexymer selama sekitar 6 bulan terakhir. Dalam sebulan, dia menyatakan dapat memperoleh keuntungan Rp 4 juta dengan menjual hexymer.

"Saya belum pernah memakainya tapi tahu bahwa ini adalah obat keras. Saya beli online dari Jakarta," katanya.

Akibat perbuatannya, tersangka peredaran obat keras ilegal dapat dijerat dengan Pasal 196 jo Pasal 98 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara dan denda sebesar Rp 1,5 miliar.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Jawa Barat Rullyanto menyatakan, hexymer termasuk dalam psikotropika golongan IV yang peredarannya memerlukan resep dokter dan ditandai dengan lambang salib merah. Obat yang mengandung bahan kimia trihexyphenidyl hydrochloride itu merupakan obat pengurang ketegangan.

"Sebetulnya bukan seperti mabuk-mabukan tapi kalau dikonsumsi tidak sesuai dengan dosis, obat itu bisa menimbulkan efek seperti penggunaan narkotika. Hexymer itu biasanya buat antiparkinson, kayak untuk petinju Muhammad Ali. Ada juga buat efek antidepresi termasuk untuk menghilangkan nyeri otot," kata Rullyanto menjelaskan.***
Bagikan: