Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Badai petir, 23.6 ° C

Hikmatul Iman: Kami Sedang Diadu Domba

Deni Yudiawan
BANDUNG, (PR).- Ajaran organisasi Hikmatul Iman diklaim telah telah menyimpang dari ajaran Islam dan dinyatakan sebagai aliran sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat dan Kabupaten Cianjur. Tak terima dicap sebagai aliran sesat, Aulia Pradipta, Ketua Yayasan Lentera, angkat bicara.

Yayasan Lentera adalah nama baru, transformasi dari Yayasan Hikmatul Iman. Sejak 2012 akhir Yayasan Lentera dibentuk yang merupakan singkatan dari Lantunan Nurani Bahtera. Yayasan ini merupakan payung dan landasan hukum pergerakan di dalam membantu memakmurkan umat. Sejak itu, nama Yayasan Himatul Iman berubah menjadi Yayasan Lentera.

Aulia memberikan klarifikasi terkait Hikmatul Iman yang dianggap sesat dan rilisnya diterima "PR", Selasa 7 Juni 2016 malam. Menurut dia, organisasinya tengah dibenturkan dengan MUI Cianjur, yang dengan mudahnya terhasut dan terprovokasi tanpa bertabayun, lalu mengeluarkan surat rekomendasi bahwa Dicky Zainal Arifin berpikiran janggal

"Kami sebagai umat Islam yang berpikir segera tahu bahwa terjadi upaya mengadu domba umat Islam agar menjadi lemah dan selalu berbenturan satu sama lain. Hal itu terbukti setelah kami konfirmasi pada Ketua MUI Cianjur waktu itu. Berdasarkan pernyataannya, beliau 'terpaksa' membuat rekomendasi tersebut agar kaum radikal itu diam (ngarah jempling)," kata Aulia dalam pernyataannya. Ia mengaku memiliki rekaman pembicaraan dan video antara Dicky Zainal Arifin dan Ustaz Lim yang waktu itu menandatangi sebagai Ketua MUI Cianjur.

"Kami juga tahu bahwa di dalam Organisasi kami ada sekelompok radikal yang diam-diam masih menghasut untuk menjadi anti toleransi, mengkafir-kafirkan mereka yang berbeda pendapat, masih anti-Pancasila dan UUD 45, serta tidak menghargai budaya dan kearifan lokal dimana Islam mengajarkan sebagai Rahmat untuk seluruh alam," lanjut Aulia.

Dikarenakan organisasi itu semakin lama semakin besar dengan simpatisan yang semakin banyak, kata dia, maka mereka mulai berubah menjadi organisasi yang lebih bisa diterima secara internasional. Maka dibentuklah Yayasan Lentera.

"Kami juga tahu sejak lama bahwa di dalam organisasi sudah ada 'api dalam sekam' dari mereka yang 'gagal paham'. Oleh sebab itu, harus ada upaya pembersihan dan pembenahan diri organisasi sebelum lebih melangkah jauh," katanya lagi.

Sesuai prediksi awal, kata Aulia, kaum gagal paham ini mulai gerah dan seiring dengan mengundurkan dirinya mereka yang gagal paham di organisasi itu. Mereka kemudian yang memanfaatkan pihak ketiga dan mengklaim organisasi mereka sebagai aliran sesat. "Pihak ketiga inilah yang jauh lebih bersemangat untuk memanas-manasi organisasi lain agar berbenturan dengan kami. Cara mereka adalah meng-croping sebagian pembicaraan dan tulisan bocoran dari kaum gagal paham, yang dianggap bisa dipergunakan untuk membuat situasi menjadi panas", katanya.

Sebagai upaya dalam menghadapi adu domba ini, mereka kemudian membuat petisi di Change.org yang berjudul: "Dukung LANTERHA (transformasi dari LSBD HI) Menghadapi Upaya Adu Domba". Hingga Selasa 7 Juni 2016 pukul 11.20 WIB, petisi itu telah menggalang 249 dukungan.***
Bagikan: