Pikiran Rakyat
USD Jual 14.210,00 Beli 13.910,00 | Berawan, 20 ° C

Peneliti Bosscha Nyaris Pecahkan Rekor Dunia

Hendro Susilo Husodo
PENELITI Observatorium Bosscha menyiapkan teleskop untuk pengamatan hilal atau bulan sabituda pertama di Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu, 5 Juni 2016.*
PENELITI Observatorium Bosscha menyiapkan teleskop untuk pengamatan hilal atau bulan sabituda pertama di Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu, 5 Juni 2016.*
NGAMPRAH, (PR).- Tim Observatorium Bosscha hampir menyamai rekor dunia untuk pengamatan bulan sabit dengan kerapatan elongasi (jarak antara matahari dengan bulan melalui pengukuran dari bumi) terdekat. Peneliti Bosscha berhasil melihat bulan sabit dengan elongasi 4,6 derajat, sedangkan rekor elongasi terdekat saat ini ialah 4,25 derajat.

Kepala Observatorium Bosscha Mahasena Putra mengatakan, bulan sabit dengan elongasi 4,6 derajat itu dilihat oleh Muhammad Yusuf dan Agus Jatniko, yang melakukan pengamatan dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Mereka sengaja dikirim ke Kupang, karena langit di atas Observatorium Bosscha cenderung berawan sehingga pengamatan jadi terganggu.

"Cuma ada dua tim dari sini (Bosscha) yang bertugas ke Kupang. Nah, di sana langit cerah dan tadi jam 1.04 di sana, berarti di sini jam 12.04, itu sudah terdeteksi. Namun, itu bulan sabit, bukan hilal," kata Seno, panggulan Mahasena Putra di Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu, 5 Juni 2016.

Menurut dia, bulan sabit yang terlihat di Kupang itu memiliki jarak elongasi 4,6 derajat. Sebelumnya, peneliti Bosscha belum pernah bisa melihat bulan sabit dengan jarak matahari dan bulan yang serapat itu. Hal itu pun hampir menyamai rekor elongasi terdekat yang pernah dilihat astronom di seluruh dunia.

"Rekor dunia itu bulan sabit dengan elongasi terdekat berjarak 4,25 derajat, jadi kami hampir mendekati rekor dunia. Rekor dunia itu dicatat oleh astronom Perancis, Thierry Legault ketika beberapa tahun lalu meneliti bulan sabit. Dia juga pernah ke Indonesia," kata Seno.

Dia menjelaskan, semakin rapat elongasi matahari dengan bulan maka akan semakin sulit untuk melihat bulan sabit. Soalnya, sinar matahari yang terlalu terang bakal membuat mata silau ketika melihat bulan. "Elongasi jarak matahari dengan bulan yang rapat akan susah diamati karena silau matahari. Makanya, secara tradisional untuk melihat bulan sabit itu harus menunggu matahari hilang (terbenam)," ucapnya.

Menurut Seno, bulan sabit di Kupang bisa dilihat karena teropong yang dipakai peneliti Bosscha menggunakan baffle. Bentuk teropong jadi menyerupai bazooka. "Baffle itu penting sekali, karena bisa menghalangi cahaya liar. Cahaya itu kan mengganggu, sedangkan bulan sabit sangat tipis. Jadi, dengan alat itu kontras cahayanya bisa terlihat," terangnya.***
Bagikan: