Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Langit umumnya cerah, 22.1 ° C

Perhatikan Hal Ini Sebelum Naik Gunung

Gita Pratiwi A
SEJUMLAH pendaki di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, beberapa waktu lalu.*
SEJUMLAH pendaki di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, beberapa waktu lalu.*

BANDUNG, (PR).- Dua pendaki Indonesia kecelakaan di gunung, harus menjadi yang terakhir. Seperti diberitakan, pada hari yang sama, mahasiswa UI jatuh dari Puncak Gunung Slamet dan seorang karyawan asal Tasikmalaya terserang hipotermia di Pegunungan Jayawijaya, Papua.

Kepala Sekolah Pendaki Gunung Wanadri, Martin Rimbawan mengungkapkan keprihatinannya. Menurut Martin, siapa pun bisa mengalami kecelakaan serupa jika tidak memerhatikan hal penting dalam pendakian. Jangankan pemula yang mencoba mendaki, seseorang yang telah berkali-kali ke gunung yang sama bisa celaka jika menyepelekan hal ini.

“Bukan masalah expert atau enggak. Sangat penting mengumpulkan data soal tempat tujuan, dan informasi di sana. Seperti iklim, suhu, ketinggian, cuaca, sampai aspek budaya, suku, flora, dan fauna,” kata Martin saat dihubungi melalui telefon, Senin, 18 April 2016.

Setelahnya, pendaki harus memetakan berapa lama operasi pendakian direncanakan. Untuk menyediakan kebutuhan logistik. Kemudian memutuskan, apa banyak bekalnya tepat sesuai jumlah hari pendakian, atau dilebihkan. Berdasarkan pengalaman Martin yang juga pelari lintas gunung ini, ia selalu membawa cadangan paket bekal setara satu hari pendakian.


Saat ke Gunung Gede misalnya, perkiraan mendaki maksimal dua hari. Bekal yang dibawa dipersiapkan untuk tiga hari pendakian.


“Cadangan itu untuk antisipasi. Kemudian, pertimbangkan peralatan pendakian seperti apa yang sesuai dengan musim kemarau atau hujan, dan perkirakan suhu terekstrem di sana,” ujarnya.

Setelah mengetahui data dan informasi, ketersediaan alat menunjang, maka perjalanan dapat dilakukan. Namun, yang paling penting dari seluruh persiapan itu, ialah memastikan kondisi fisik dan kesehatan prima.

Menurut salah satu penakluk tujuh puncak tertinggi di dunia itu, banyak pendaki meninggal di gunung kurang mempertimbangkan kesiapan-kesiapan tersebut.

Di sisi lain, pemilihan jadwal pendakian saat hari libur misalnya, memang sah-sah saja, tapi pemilihan kelompok mendaki juga tidak kalah penting. Akibatnya, komunikasi yang kurang terjalin membuat pendaki tersesat. Ini alasannya.***

Bagikan: