Pikiran Rakyat
USD Jual 13.986,00 Beli 14.084,00 | Umumnya cerah, 33 ° C

Danau Mungil di Cipatat ini Jadi Viral di Jejaring Sosial

Hendro Susilo Husodo
ANAK-ANAK bermain di tepi danau tadah hujan di Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Senin 11 April 2016 yang kini menjadi viral setelah banyak dikunjugi dan fotonya diunggah di jejaring sosial.*
ANAK-ANAK bermain di tepi danau tadah hujan di Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Senin 11 April 2016 yang kini menjadi viral setelah banyak dikunjugi dan fotonya diunggah di jejaring sosial.*

EPON (45) sudah tak heran kalau ada orang yang tidak dikenalnya datang ke danau di tengah perkebunan tempatnya bekerja, apalagi jika orang itu masih berusia muda dan berpasangan.

Belakangan ini, areal perkebunan buah milik PT Purnawangi Majujaya seolah bukan wilayah tertutup lagi. Adalah danau tadah hujan yang ada di perkebunan itu yang menjadi penyebabnya.



"Banyak orang yang datang ke sini, terutama anak remaja. Ya, main-main saja atau cari tempat pacaran," kata Epon, salah seorang pekerja PT Purnawangi Majujaya, di perkebunan yang berada di Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Senin 11 April 2016. 



Danau tersebut biasanya ramai dikunjungi setiap Minggu dari pagi sampai sore. Tren peningkatan pengunjung dia rasakan terjadi dalam setahun terakhir. Orang yang datang bukan hanya warga kampung sekitar tetapi juga rombongan keluarga atau komunitas tertentu. Bahkan, orang Bandung dan Cianjur banyak yang sengaja datang ke sana.





"Sama orang-orang yang datang dinamai Danau Lope karena katanya bentuknya seperti hati, simbol cinta (love). Sebenarnya tidak berbentuk hati tapi memang melengkung mirip hati. Kalau dulu, orang-orang menamainya Danau Aso karena ada Pak Aso yang jaga di situ," tuturnya. 



Pengelola perkebunan buah PT Purnawangi Majujaya di Cipatat, Prasetyo tak kuasa menghalau keinginan orang untuk datang ke telaga itu. Terlebih, keberadaannya sudah tersebar melalui internet, terutama media sosial. "Padahal, danau itu bukan dibuat untuk tempat wisata tapi yang namanya orang penasaran susah dicegah," ujarnya.



Dia menjelaskan, danau itu difungsikan sebagai kolam air untuk kepentingan perkebunan. Dibangun pada Juni 2010-April 2011, kolam itu berada di atas lahan seluas satu hektare, dengan ketinggian tanah 300-400 meter di atas permukaan laut. Kolam raksasa itu berkedalaman 10 meter dan mampu menampung 50 ribu meter kubik air. 



Di dasar danau diberi lapisan membran dan terdapat bak pengontrol air yang berfungsi sebagai resapan air tanah. Di dasar danau pula, dipasangi kran besar dan pipa berukuran 4 dan 6 inci untuk menyalurkan air ke areal perkebunan. 



"Kalau kemarau panjang, perkebunan sering susah air jadi bisa memanfaatkan air di danau itu. Fungsinya memang untuk mengantisipasi kekeringan. Bagi kami, danau itu sebenarnya biasa saja. Ada orang yang menganggap danau ini menarik jadi banyak yang ingin datang," tuturnya.



Perkebunan tidak bisa mematok iuran masuk karena memang danau tadah hujan itu bukan tempat wisata. Karena pengunjung sulit dilarang, dia mengimbau kepada pengunjung yang ingin ke danau setidaknya mau meminta izin dulu. 



"Yang kami khawatirkan, tempat itu disalahgunakan atau terjadi kecelakaan pada orang yang datang. Kami kan tetap harus bertanggung jawab. Selain itu, danau juga bisa rusak kalau pengunjung seenaknya. Misalkan dia buang rokok kemudian terkena membran, lapisan danau itu bisa bolong atau rusak. Buat memperbaikinya, harus pakai listrik. Kalau minta izin, minimal kami bisa mengingatkan," paparnya.  



Dari Bandung, Danau Lope bisa ditempuh melalui Jalan Raya Cipatat. Sebelum Kantor Kecamatan Cipatat, terdapat belokan di sisi kiri. Dari situ, pengunjung mesti melintasi jalan desa hingga melewati kantor desa atau SMA Negeri 1 Cipatat. Ketika menemukan percabangan jalan, ambil jalur sebelah kiri. 



Tak jauh dari situ, ada pertigaan jalan lagi. Kantor pengelola perkebunan berada di jalan yang ke kiri, sedangkan untuk menuju ke danau jalurnya lurus. Namun, jangan ikuti terus jalur itu, karena untuk ke danau belok lagi ke arah kanan. Dari situ, pengunjung mesti melewati jalan setapak sekitar dua kilometer yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.



"Kalau sedang berbuah, jalan ke danau itu akan bagus pemandangannya. Soalnya, berbagai jenis buah kami tanam di lahan seluas 57 hektare. Dari buah naga, durian montong, jambu kristal, kelapa pandanwangi, lengkeng, rambutan, jambu air, dan masih banyak lagi. Itu bisa jadi daya tarik, tapi harus diingat, buat-buahan itu tidak boleh sembarangan diambil," kata Prasetyo.***

 

Bagikan: