Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 29.9 ° C

Hakim Memvonis 4 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penggelapan Uang

Anwar Effendi
TERDAKWA penggelapan uang divonis empat tahun penjara.*
TERDAKWA penggelapan uang divonis empat tahun penjara.*
BANDUNG, (PRLM).- Mantan Kepala Cabang PT Amanah Finance Bandung, Muhammad Akhmad alias Mumu (37), terbukti melakukan penggelapan uang perusahaan sebesar Rp 61 miliar. Karena itulah, hakim Pengadilan Negeri Bandung memvonisnya 4 tahun penjara.

Berdasarkan putusan majelis hakim, terdakwa Mumu melakukan aksi ini bersama empat rekannya pada kurun 2011-2014. Demikian putusan hakim yang dibacakan pada sidang yang digelar di Ruang II Pengadilan Negeri Bandung, Selasa (1/3/2016).

Menurut hakim ketua, Saptono, uang yang digelapkan oleh para terdakwa dipakai untuk kepentingan pribadi. Di antaranya untuk membuka usaha karaoke Athena di Jalan Tamblong, Kota Bandung, membeli rumah, mobil hingga motor Harley Davidson. Pada sidang tersebut, selain terdakwa Mumu, majelis hakim juga memvonis empat terdakwa lainnya. Mereka adalah, Yossa Malkis Ibrahim (38), Wawan Kurniawan (38) dan Lukman Hakim (37), masing-masing divonis 4 tahun penjara, serta Sarah Doria Thyssen (39) divonis 3 tahun penjara.

Atas vonis majelis hakim tersebut, baik para terdakwa maupun jaksa penuntut umum (JPU) menyatakan pikir-pikir.

Menurut majelis hakim, para terdakwa bersalah melakukan penipuan dan penggelapan sehingga melanggar pasal 374 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 64 ayat (1) ke-1 KUHPidana sebagaimana dakwaan alternatif pertama primer.
Majelis hakim mengatakan, perbuatan para terdakwa dilakukan sejak 2011 hingga 2014. Modus yang dilakukan para terdakwa yaitu membuat pengajuan aplikasi fiktif dengan sumber data dari aplikasi yang pernah ditolak.

Dijelaskan hakim, pengajuan itu berawal dari utang terdakwa Mumu sebesar Rp 200 juta yang sumber uangnya diambil dari angsuran nasabah. Uang Rp 200 juta itu menurut Mumu digunakan untuk biaya hiburan bagi karyawan PT Amanah Finance dari Makassar.

Terdakwa Mumu kemudian memiliki ide mengajukan aplikasi fiktif untuk menutupi utang tersebut. Ia lalu mengajak empat terdakwa lainnya untuk membantu menjalankan ide itu. Empat terdakwa lain diberi tugas sesuai jabatannya masing-masing.

Tak hanya itu, lanjut majelis hakim, terdakwa Mumu juga memerintahkan tiga karyawan lainnya untuk ikut membantu. Mereka adalah, Dian Rahmat Kodar, Fauzi Fachmi dan Dempa Saud. Saat ini, ketiga orang tersebut masih buron. Mereka membantu untuk menginput data-data fiktif dan melakukan pengecekan.

Setelah semua data dikumpulkan, Mumu selaku Kepala Cabang PT Amanah Finance Bandung akhirnya mengajukan kepada kantor pusat. Selanjutnya, kantor pusat mengabulkan permohonan dan mencairkan uang sebesar Rp 30 miliar. Pembayaran itu dilakukan untuk 187 nasabah fiktif.

Secara berturut-turut, kantor pusat PT Amanah Finance kembali mencairkan uang sebesar Rp 26 miliar untuk 152 nasabah fiktif. Kemudian mencairkan kembali uang Rp 4,3 miliar untuk 24 nasabah fiktif. Semua uang itu kemudian ditransferkan kembali ke rekening-rekening para terdakwa.

Menurut majelis hakim, para terdakwa tanpa seizin dan sepengetahuan kantor pusat PT Amanah Finance, menggunakan uang untuk kepentingan pribadi. Masing-masing terdakwa kemudian membeli rumah, mobil hingga motor Harley Davidson. Bahkan terdakwa Yossa, menggunakan uang hasil dari pengajuan aplikasi fiktif itu untuk keperluan bisnis. Ia membuka unit usaha BMT Simpan Pinjam, usaha sekolah DJ, usaha Cendana, usaha Global hingga membuka tempat karaoke Athena di Jalan Tamblong, Kota Bandung. Semua tempat itu kini sudah disegel oleh kejaksaan. Akibat perbuatan para terdakwa selama tahun 2011 hingga 2014 itu, PT Amanah Finance mengalami kerugian hingga Rp 61 miliar. (Yedi Supriadi/A-147)***
Bagikan: