Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 23.4 ° C

Trauma, Korban di Perumahan Permata Padalarang Minta Dipindahkan

Hendro Susilo Husodo
NGAMPRAH, (PRLM).-Para korban rumah ambruk di Perumahan Permata Padalarang meminta PT Sauyunan Asri Sarana selaku pengembang bertanggung jawab atas kerusakan rumah mereka. Warga enggan menempati rumahnya lagi karena trauma rumah tersebut kembali mengalami bencana.

Diberitakan sebelumnya, tujuh rumah di perumahan yang berada di Desa Jayamekar itu rusak berat karena pergerakan tanah. Dari tujuh rumah itu, enam rumah berada di Blok E2 dengan posisi saling membelakangi. Sebanyak 11 keluarga lantas diungsikan ke rumah kosong di sekitar kompleks.

"Saya ingin ditukar dengan rumah yang lain, ingin pindah dari rumah itu. Kalau dibetulkan, saya takut terjadi lagi. Soalnya, kejadian seperti ini sudah berulang kali," kata Ade (52), salah seorang korban, di hunian sementara yang disediakan pengembang di Perumahan Permata Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (10/12/2015).

Dia berharap, rumah anaknya di Blok E2 Nomor 13 bisa ditukar dengan rumah lainnya yang bertipe sama. "Katanya disuruh menambah biaya lagi, tapi saya belum tahu berapa karena anak saya yang mengurus. Padahal, rumah yang ambruk itu sudah dipasangi pagar dan kanopi," katanya.

Pemilik rumah di Blok E2 Nomor 14, Siti (34) juga meyatakan hal serupa. "Mereka (pengembang) ingin membangun lagi rumah yang rusak berat, jadi semuanya dipindahkan lagi ke sana. Namun, kami semua tidak mau karena takut. Tanahnya itu kan labil, kami khawatir bencana kemarin terulang lagi," katanya.

Menurut dia, warga terdampak bencana akan berunding kembali dengan pihak pengembang pada pekan depan. Dalam pertemuan terakhir, terdapat usulan bahwa relokasi ke rumah baru mesti mengikuti harga rumah dan pajak yang baru. "Cicilan rumah juga berubah, disesuaikan dengan harga yang sekarang, tapi itu belum disepakati," jelasnya.

Pemilik rumah Blok E2 Nomor 15, Asep (35) juga menginginkan rumahnya ditukar ke tempat lain yang lebih aman. Walaupun rumah dia tidak ikut ambruk, lantai dan tembok rumah sudah mengalami keretakan.

"Dari waktu dulu ada rumah yang ambruk, rumah saya sudah retak karena tanahnya ikut tertarik. Kemarin ada yang ambruk lagi, retakannya jadi tambah besar. Lantai rumah saya saja sudah tidak rata, kalau dikasih air bisa terlihat. Padahal, waktu awal beli itu lantainya rata," katanya.

Sementara itu, Manager Proyek PT Sauyunan Asri Sarana Susanto menyatakan bahwa rumah-rumah yang ambruk itu bukan karena kesalahan konstruksi atau struktur bangunan. Dia berdalih, rumah ambruk terjadi karena pemilik rumah memasang toren pada tembok penahan tanah di belakang rumah.

"Torn itu berkapasitas 1.000 liter, dipasang di atas benteng pembatas rumah. Padahal, saya sudah bilang kepada seluruh konsumen. Kalau mau membangun di belakang rumah bilang dulu, nanti kami berikan nasihat teknik," katanya.

Menurut dia, perusahaan telah berbaik hati menyediakan hunian sementara bagi para korban, karena rumah-rumah yang terdampak bencana telah diserahterimakan. "Sudah diakadkan setahun lalu, jadi itu sebetulnya sudah bukan tanggung jawab kami lagi," ucapnya.

Terkait dengan permintaan para korban untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman, dia menyatakan perlu menunggu keputusan dari pihak bank yang telah dikerjasamakan.

"Namun, itu pun mesti dikonsultasikan dengan Kementerian Perumahan Rakyat, karena ini rumah subsidi yang memiliki fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan," katanya. (Hendro Husodo/A-89)***
Bagikan: