Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Didakwa Penggelapan, Maria Tegaskan Perakara Perdata

Yedi Supriadi
BANDUNG, (PRLM).- Trader forex Maria Fransisca (28), didakwa melakukan penggelapan uang miliaran rupiah. Namun Maria membantahnya bahwa kasus tersebut hanya perkara perdata bukan pidana penggelapan.

Jaksa Penuntut Umum Suharja menyatakan Maria telah mengajak korban Ivan untuk berinvestasi forek di PT Investindo sekitar tahun 2012 lalu. "Terdakwa menyatakan bahwa dirinya profesional dalam trading forex, sering untung," ujar Suharja saat ditemui di sela-sela sidang, Kamis (10/9/2015).

Menurut Suharja, Ivan saat itu belum tertarik, namun terdakwa berusaha merayu dan beberapa kali datang sambil memperlihatkan acount seolah miliknya, padahal milik orang lain.

"Saat itu dia menjanjikan 6 persen kemudian ada jaminan Bank Garansi. Bila rugi ditanggung Maria, akhirnya Ivan pun tertarik," ujarnya.

Kemudian atas ketertarikan itulah, Ivan mentransfer sejumlah dana beberapa kali hingga total keseluruhan menjadi Rp 22 miliar. Dari total Rp 22 miliar, sebanyak Rp 14 miliar dimainkan untuk trading di forek.

Dari trading tersebut ternyata bukannya untung tapi mengalami kerugian hingga Rp 9,5 miliar. Kemudian Ivan menanyakan keuntungan seperti yang telah dijanjikan sebelumnya, kemudian terdakwa pun memberikannya dengan cara dicicil.

Selanjutnya, Ivan meminta modal kembali, namun terdakwa malah menyatakan bahwa trading forex mengalami kerugian, dan uang yang dikembalikan itu sebetulnya uang modal yang tidak dipakai.

Selanjutnya, Ivan sempat akan menarik uang melalui BG yang diberikan terdakwa, namun BG itu ditolak. Akibat perbuatan terdakwa, korban Ivan mengalami kerugian hingga Rp 6,5 miliar.

"Kami mendakwakan penipuan dan penggelapan dengan pasal 372 dan 378 KUHP," ujar Suharja.

Dijelaskannya, menerapkan pasal tersebut dilakukan karena dalam perdagangan melalui forex ada aturannya, salah satunya nasabah melalui seleksi dan persyaratan ketat, modal milik sendiri, tidak boleh menjanjikan keuntungan, dan tidak boleh meminjam nama. "Tapi terdakwa melanggarnya aturan tersebut," ujarnya.

Sementara itu kuasa hukum terdakwa, Ismadi dalam eksepsinya yang dibacakan dipersidangan yang dipimpin Fontas Efendi menyatakan menolak dakwaan jaksa. Menurutnya dakwaan jaksa kabur karena terdakwa tidak memiliki niat nipu tapi melakukan bisnis trading forex berdasarkan surat perjanjian yang tujuannya mempunyai keuntungan, hanya saja dalam perjalananya mengalami kerugian. "Tidak ada dalam bisnis selalu untung," ujarnya dalam persidangan, Kamis.

Ismadi juga menyebutkan bahwa kasus ini merupakan perdata, utang piutang, bukan pidana. "Kami menyesalkan jaksa dengan sengaja tidak memuat surat perjanjian 25 lembar, padahal disita penyidik," ujarnya.

Kemudian dalam dakwaan disebutkan bahwa itu merupakan perbuatan pidana berupa penipuan tidaklah cermat. Karena jauh sebelum ada kerjasama, sudah saling mengenal dan saksi ivan pun telah mengetahui profesi terdakwa. "Dari itulah kami menganggap dakwaan kabur, perbuatan terdakwa mengelola dana berdasarkan pernanjian itu bukan pidana," ujarnya. (Yedi Supriadi/A-147)***
Bagikan: