Selasa, 25 Februari 2020
Advertorial

Menko Kemaritiman Apresiasi Pengelolaan Situ Cisanti

- 28 Agustus 2019, 18:26 WIB
MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan bersama Plh. Sekretaris Daerah Jawa Barat Daud Achmad, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, meninjau titik 0 KM Sungai Citarum di Situ Cisanti, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Rabu 28 Agustus 2019.*/DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

BANDUNG, (PR).- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan bersama Plh. Sekretaris Daerah Jawa Barat Daud Achmad, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, meninjau titik 0 KM Sungai Citarum di Situ Cisanti, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Rabu 28 Agustus 2019.

Dalam kunjungan kerjanya tersebut, Luhut melakukan penanaman pohon macadamia sekaligus meninjau penyemaian bibit dan mesin penyuling akar wangi. 

Pada kesempatan yang sama, Luhut menyarankan kepada petani Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum untuk mengganti tanaman sayuran menjadi pohon kacang macadamia ataupun sereh wangi yang punya nilai ekonomi.

"Jadi, kita akan coba secara bertahap mengurangi tanaman-tanaman seperti kentang dan sayuran lainnya ini dengan tanaman lain yang menghasilkan ekonomi juga, seperti pohon macadamia tadi dan sereh wangi," kata Luhut.

"Kita berharap nanti beberapa ribu hektare (kawasan hutan hulu sungai Citarum), bisa ditanami berbagai macam pohon," tambahnya.

Selain itu, Luhut mengapresiasi pengelolaan Situ Cisanti yang sudah baik, meski ada beberapa hal yang dinilai masih kurang. Dia juga mengatakan, pihaknya akan menyusun pemetaan pengembangan DAS Citarum dengan Presiden RI pada Senin 2 Agustus 2019 mendatang. 

"Nanti Senin kita mau rapat lagi dengan Pak Presiden untuk menyinergikan mapping dari mana yang mau dikerjakan tahun depan ini," ucapnya.

Hal senada dikatakan Daud. Menurut dia, penataan Situ Cisanti sudah jauh lebih baik, termasuk lingkungan di sekitarnya.

"Pak Luhut juga tadi menitip, masyarakat yang selama ini berkebun dan bercocok tanam, diberi alternatif di sana, dengan catatan tanamannya disesuaikan dengan program KLHK," katanya.***

Halaman:

Editor: Ari Nursanti

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X