Senin, 24 Februari 2020
Advertorial

Ridwan Kamil: Ekonomi Kreatif Jawa Barat Paling Progresif

- 15 Juli 2019, 18:59 WIB
GUBENUR Jawa Barat Ridwan Kamil saat menjadi Pembicara pada Kegiatan Sosialisasi Perpres Nomor 142 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif (Rindekraf) Nasional Tahun 2018-2025 di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin 15 Juli 2019.*/DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

JAKARTA, (PR).- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjadi Pembicara pada Kegiatan Sosialisasi Perpres Nomor 142 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif (Rindekraf) Nasional Tahun 2018-2025 di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin 15 Juli 2019.

Emil –demikian Ridwan Kamil disapa—mengatakan bahwa laju pengembangan Ekonomi Krearif (Ekraf) Jawa Barat tergolong progesif. Dia pun mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat berkomitmen untuk terus mengembangkan ekraf Jawa Barat.

Komitmen tersebut tercermin dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Barat Nomor 15 Tahun 2017 Tentang Ekonomi Kreatif dan Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 10 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Kekayaan Intelektual. 

"Masa depan kita ada pada ekonomi imajinasi, ekonomi yang hadir karena adanya kreativitas," ucapnya.

Menurut Emil, ekraf menjadi bagian utama dalam proses pembangunan di Jawa Barat. Dia pun menyatakan bahwa Jawa Barat menjadi provinsi penyumbang ekspor ekraf tersebut pada tahun 2016, yaitu sebesar 31,96 persen. 

Selain itu, kata Emil, Jawa Barat menjadi salah satu penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) di bidang ekraf terbesar, yakni 11,81 persen atau tertinggi ketiga setelah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebesar 16,12 persen, dan Bali sebesar 12,57 persen.

Berbagai komoditas ekraf berkembang di Jawa Barat. Misalnya Game Developer, seni pertunjukan, film, musik, fotografi, desain komunikasi visual, kriya keramik, kerajinan rotan, kerajinan tangan, fashion, batik, bambu, dan banyak komoditas lainnya.

Apalagi, kata Emil, Pemdaprov Jawa Barat tengah mengembangkan beberapa program unggulan seperti One Village One Company (OVOC) maupun One Pesantren One Company (OPOC). Menurutnya, kedua program tersebut akan bergerak di bidang industri kreatif. 

Emil pun mencontohkan desa yang mengembangkan esteem tourism, dan desa wisata. Kemudian, ada pesantren yang mengembangkan produk kerajinan khas di wilayahnya. Selain itu, ada pula yang mengembangkan produk kuliner dan produk furnitur bernilai seni.

Halaman:

Editor: Ari Nursanti

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X