Minggu, 15 Desember 2019
Advertorial

Kunjungi Anak Disabilitas Korban Pelecehan Seksual, Atalia Praratya Beri Motivasi

- 21 Juni 2019, 07:00 WIB
KETUA Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat yang juga Ketua Umum Jabar Bergerak, Atalia Praratya Kamil, saat mengunjungi korban pelecehan seksual oknum Widyaiswara Madya UPTD Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Bandung Barat, Kamis 20 Juni 2019.*/DOK HUMAS PEMPROV JABAR

NGAMPRAH,(PR).- Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat yang juga Ketua Umum Jabar Bergerak, Atalia Praratya Kamil mengunjungi korban pelecehan seksual seorang oknum Widyaiswara Madya yang diperbantukan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Barat, SR (50).

Pelecehan diduga dilakukan saat korban, SW (15), sedang mengikuti pelatihan di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (BRSPD) Dinsos Jawa Barat. Korban merupakan anak di bawah umur penyandang disabilitas rungu dan wicara.

"Kami hadir untuk melihat sejauh mana perkembangan kasus ini. Jadi ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) ini bisa jadi sasaran empuk bagi para predator. Biasanya ini terjadi pada lingkungan terdekat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melakukan pengawasan menyeluruh bagi anak-anak kita agar terjamin keselamatannya,” kata Atalia Praratya di kediaman korban, Kab. Bandung Barat, Kamis 20 Juni 2019.


 

Atalia Praratya mengatakan, pihaknya akan terus memonitor perkembangan kasus itu. "Saya minta korban terus didampingi, dan jangan lepas dari pengawasan. Karena ABK seringkali kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi," ucapnya.

"Kedepan kita akan melakukan pendalaman lebih jauh, termasuk kita akan hadir di tempat-tempat rehabilitasi agar tahu lebih dalam bagaimana proses pendampingan yang bersih dari hal seperti ini," lanjutnya.

Untuk mencegah insiden serupa, Atalia Praratya berharap ada perbaikan dalam pembagian pendamping siswa di BRSPD selama kegiatan pelatihan. Salah satunya dengan menyamakan gender antara siswa dan pendamping.

"Saya mendapat info kalau proses pelatihan selama 8 bulan mengharuskan siswa menginap. Sementara, ada laki-laki (lawan jenis) yang bisa langsung berinteraksi. Mereka (siswa) ini rata-rata dari berbagai latar belakang, tentu ini wajib jika para pendamping adalah dari gender yang sama," katanya.

Ibu Korban, S, mengatakan bahwa anaknya menginap di mes BRSPD selama mengikuti pelatihan. Pelatihan itu dimulai pada Maret hingga awal November 2019 dan hanya boleh dijenguk orang tua dalam 2 sampai 3 bulan sekali. Namun, menjelang lebaran, anak-anak dipulangkan ke keluarga pada 26 Mei dan mulai pelatihan kembali pada 10 juni 2019.

"Saya mulai merasa ada keanehan setelah menjemput SW tanggal 26 dini hari, karena setelah pulang dari pelatihan, SW lebih suka menyendiri. Lalu SW cerita kalau dia diberi pakaian dapat perhatian lebih dari SR," ucapnya.


Halaman:

Editor: Rahmad Maulana

Tags

Komentar

Terkini

X