Bandung Ditetapkan Sebagai Destinasi Wisata Kuliner Indonesia

JAKARTA,(PRLM).- Bandung bersama empat kota/daerah lainnya yakni Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali, ditetapkan sebagai destinasi wisata kuliner Indonesia oleh Kementerian Pariwisata. Kedepan, kota-kota itu diharapkan bisa masuk dalam situs warisan dunia UNESCO sehingga makin memberi dampak positif bagi negara.

Peluncuran Destinasi Wisata Kuliner itu berlangsung saat digelar Dialog Gastronomi Nasional di Hotel Grand Mahakam, Jakarta, Senin (23/11/2015), yang dihadiri Menteri Pariwisata Arief Yahya, Ketua Akademi Gastronomi Indonesia (AGI) Vita Datau Mesakh, dan sejumlah ahli gastronomi Indonesia.

Menurut Menpar, sektor kuliner memberikan kontribusi kepada pendapatan negara sebesar Rp 208,6 triliun dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 4,5 persen pada tahun 2013 lalu. Sementara penyerapan tenaga kerja di sektor kuliner ini mencapai 3,7 juta orang dengan rata rata pertumbuhan mencapai 26 persen.

Bahkan unit usaha yang tercipta di sektor ini mencapai 3 juta dengan rata- rata pertumbuhan 0,9 persen. "Ini menunjukkan bahawa kuliner Indonesia dapat menjadi salah sagtu penggerak ekonomi masyarakat," tegasnya.

Arief mengatakan, pada tahun 2015 ini diperkirakan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 10 juta wisman dengan perolehan devisa sekitar 10 miliar dolar AS. Dari perolehan devisa ini sekitar 30 persen berasal dari kuliner atgau sekitar 30 miliar dolar AS.

Sedangkan pada tahun 2019 mendatang target wisman mencapai 20 juta orang dengan perolehan devisa mencapai 20 miliar dolar. Dari perolah devisa ini sekitar 6 miliar dolar berasal dari kuliner.

Arief mengatakan, wisata kuliner diharapkan mampu menjadi unsur utama yang berfungsi sebagai perekat terhadap rangkaian berwisata, mengingat kepariwisataan merupakan sektor yang multiatribut dan prospektif sebagai pintu gerbang citra pariwisata Indonesia.

Bahkan dengan dinobatkannya rendang sebagai makanan terlezat di dunia, menunjukkan bahwa kuliner Indonesia memiliki data tarik yang besar dan dapat diterima masyarakat internasional. "Sudah selayaknya kulier Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menunjukan taringnya di dunia internasional, dan bisa bersaing dengan kuliner negara lain seperti Perancis, Italia, Jepang, Korea Selatan dan Thailand," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Akademi Grastronomi Indonesia (AGI) Vita Datau Mesakh mengatakan, penetapan destina kuliner ini dlihat dari enam kelayakan yakni produk dan daya tarik utama, pengemasan produk dan even, kelayakan pelayanan, kelayakan lingkungan, kelayakan bisnis serta peran pemerintah dalam pengembangan destinasi wisata kuliner.

Dikatakan, potensi perkembangan dan pertumbuhan gastronomi (seni yang berkaitan dengan makanan) di Indonesia sangat besar dan unik, apalagi sebagai penghasil rempah-rempah yang beragam sehingga memiliki aneka makanan yang berbeda di setiap daera.

Namun, globalisasi merupakan salah satu faktor yang menjadi tantangan bagi pelestarian gastronomi Indonesia karena hal itu dapat mengaburkan persepsi tentang identitas dan tempat. Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi juga merupakan peluang untuk mengangkat Indonesia di dunia internasional.

Vita menambahkan, gastronomi nasional merupakan bagian dari upaya membangun karakter bangsa yang berusaha menjaga kearifan lokal di masing-masing daerah agar tidak hilang.

Salah satu sumber penyebab sulit berkembangannya gastronomi Indonesia karena hilangnya nilai kearifan lokal yang dimiliki tiap-tiap daerah dan etnis, sementara masyarakat urban di kota-kota besar di Indonesia juga semakin jarang bersentuhan dengan identitas asal mereka.

“Pelestarian dan pengembangan serta globalisasi warisan makanan tradisional Indonesia menjadi sebuah tantangan besar. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan tersebut. Masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang besar harusnya menyadari bahwa gastronomi Indonesia tidak dibangun dalam keselarasan dan kesamaan, akan tetapi dibentuk dalam kekontrasan (harmony in contrary) karena keanekaragaman justru menjadi keunikan gastronomi Indonesia.

Dialog Gastronomi Nasional diselenggarakan dalam rangka mengenali gastronomi Indonesia, potensi pengembangannya dan identifikasi langkah-langkah pelestarian serta pengembangan gastronomi Indonesia serta usaha menglobalisasikan makanan Indonesia. Dialog itu menghadirkan narasumber yang berkompeten pada bidangnya dengan mengambil tiga tema besar yakni "Pelestarian dan Pengembangan Makanan Indonesia", "Globalisasi Makanan
Indonesia" dan "Branding Makanan Indonesia".

Dialog dilanjutkan dengan diskusi dan perumusan hasil-hasil dan ditutup dengan deklarasi Gastronomi Indonesia 2015 yang mencakup: Konsep bersama gastronomi Indonesia; Fokus Program yang akan dikembangkan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang,” ujarnya. (Satrio Widianto/A-147)***

Baca Juga

Nikmatnya Kerupuk Melarat Khas Kota Udang

CIREBON merupakan salah satu destinasi yang tepat bagi para pencinta wisata kuliner. Dari mulai camilan ringan hingga makanan berat pun banyak dijumpai di sini. Salah satu camilan khasnya adalah kerupuk melarat.

Tertambat Hati di Surakarta

PASAR tradisional bisa menjadi pilihan tujuan wisata ketika mendatangi suatu daerah.

Wajib Tanam Bawang Putih Dinilai Hanya Formalitas

JAKARTA, (PR).- Rencana Kementerian Pertanian mendorong produksi bawang putih dengan mewajibkan importir menanam 5% dari volume impor, dinilai hanya formalitas belaka.

Investigasi Jatuhnya Crane Proyek DDT Dimulai Besok

JAKARTA, (PR).- Kementerian Perhubungan menyampaikan belasungkawa dan duka cita mendalam terhadap korban jatuhnya launcher girder proyek double-double track (DDT) Kereta Api di Matraman Raya, Jatinegara, Jakarta Timur.