Sejarah Singkat Pikiran Rakyat Digital

SAAT perusahaan media di Indonesia umumnya sibuk berkutat membesarkan edisi cetaknya, Pikiran Rakyat sudah menyadari pentingnya perkembangan teknologi internet. Waktu itu, 20 tahun lalu, memang mulai bermunculan domain yang dikelola, baik oleh perusahaan maupun perseorangan.
 
Kepala Bagian Teknologi Informasi Pikiran Rakyat, Bambang Triadji, melihat perkembangan itu bukan sebagai ancaman, melainkan peluang. Maka pada tahun 1996, Bambang Triadji mengusulkan agar Pikiran Rakyat juga membuat “PR” Digital (dulu namanya “PR” Online). Gayung bersambut, usulan Bambang disetujui direksi PT Pikiran Rakyat Bandung saat itu.
 
Karena barang baru, satu per satu karyawan bagian TI ditanyai kesanggupannya membangun "PR" Digital, mulai dari nama, pemrograman hingga kesiapan infrastrukturnya. Bulan Juli 1996, dimulailah persiapan mendirikan "PR" Digital. Dengan menggunakan peranti lunak Frontpage, "PR" Digital pun diluncurkan pada September 1996.
 
Isinya masih sama dengan edisi cetak. Media ini ditangani Badan Pengelola dan Pengembangan Teknologi Informatika yang berada di bawah direktur operasional.
 
Pada akhir tahun 1990-an, setelah tampilannya diperbaiki, pengelolaan "PR" Digital diserahkan ke Pusat Data Redaksi (PDR). Penyerahan dilakukan mengingat arsip versi cetak didokumentasikan oleh bagian PDR yang berada di bawah redaksi. Dengan demikian, konten "PR" Digital bisa langsung diunggah oleh bagian PDR.
 
Semakin canggih dan maraknya pengguna telefon genggam diantisipasi dengan menyediakan konten “PR” Digital yang bisa dibaca di telefon genggam. Prosedurnya, pembaca yang ingin mengakses “PR” Digital di gawainya, harus mendaftarkan diri dulu lewat pesan singkat (SMS).
 
Memasuki tahun 2005/2006, redaksi koran Pikiran Rakyat mulai mencoba menangani "PR" Digital. Walaupun masih sedikit, isi "PR" Digital mulai dibedakan dengan koran "PR". Strukturnya juga mulai dilengkapi dengan seorang redaktur pelaksana, seorang redaktur, seorang asisten redaktur, dan seorang wartawan.
 
Bagian PDR tetap mengunggah berita-berita yang serupa dengan koran "PR" ke "PR" Digital dan mobile (handphone). Sementara redaksi "PR" Digital mulai mengedit sendiri berita kiriman wartawan selain mencari konten dari sumber lainnya.
 
Pada tahun 2009, sejalan dengan pergantian redaktur pelaksana, mulai diperkenalkan layanan E-paper, yaitu tampilan yang identik dengan koran cetak, namun baru bisa diakses pada siang hari setelah koran cetak beredar.
 
PDR yang memuat konten cetak, tetap menangani konten tersebut, namun sejak tahun itu masuk ke dalam format e-paper dan tetap memegang konten untuk dimuat di handphone (mobile) . Sedangkan konten berita di "PR" Digital sudah sepenuhnya diedit oleh redaksi "PR" Digital.
 
Sejak 1996, berbagai perubahan dilakukan seiring dengan perkembangan zaman. Layanan yang disediakan terdiri dari:
 
1. www.pikiran-rakyat.com: Portal berita dengan karakteristik breaking news, realtime, dan running news.
 
2. PR-Info: Situs informasi yang menyediakan data direktori Jawa Barat, informasi bisnis, dan informasi penting lainnya yang berkaitan dengan kegiatan dan event bisnis.
 
3. Microsite Pikiran Rakyat: Miniweb berita dan informasi mengenai produk, dalam bentuk artikel, galeri foto maupun video.
 
4. PR-epaper : Harian umum Pikiran Rakyat dalam versi digital.
 
Peristiwa yang menonjol dan menarik perhatian publik diberi porsi lebih dengan dibuatkan rubriknya, baik di koran “PR” maupun di “PR” Digital. Peristiwa olah raga besar seperti perhelatan olimpiade, piala dunia, Asian Games, SEA Games, bahkan Pekan Olahraga Nasional, dibuatkan rubriknya. Demikian juga dengan peristiwa keagamaan seperti Ramadan dan Haji.
 
Tahun 2016, “PR” bergerak lebih jauh. Sementara sebagian media cetak memilih memisahkan edisi cetak dengan edisi digitalnya, “PR” Digital mengintegrasikan keduanya. Tampilan “PR” Digital juga diubah. Dengan tampilannya yang baru, pembaca diharapkan tetap merasakan sensasi eksotis membaca koran cetak di dunia digital yang modern. Karakter media dan penanganan yang berbeda membuat isi “PR” Digital dengan koran “PR” semakin banyak bedanya tapi tetap saling melengkapi.
 
“PR” Digital juga mulai menangani secara khusus media sosialnya di Twitter, Facebook, Instagram, Youtube, dan lainnya. Pintu kerja sama dan kolaborasi dengan pihak luar juga dibuka lebar-lebar. Motto “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat” yang dipilih “PR”, terbukti relevan dan dilegitimasi kultur demokratis yang dianut warga dunia digital saat ini.
 
Sejak tahun 1996, “PR” Digital sudah menyadari bahwa perkembangan teknologi informasi bukan ancaman yang harus dicemaskan, juga bukan untuk dimusuhi. “PR” Digital memilih untuk terus adaptif menyelami jiwa dan hidup bersama semangat zamannya.***