Merasa Terjajah oleh Dolar

SUNGGUH malang betul, di hari ulang tahun kemerdekaannya, Indonesia menanggung beban yang terus bertambah. Kenaikan dolar, yang sering dimaknai sebagai pelemahan nilai kurs rupiah terhadap dolar AS saat ini tembus lebih dari Rp 14.000. Padahal hingga hari ini, hiruk-pikuk peringatan kemerdekaan Indonesia masih ramai berlangsung. Berbagai perlombaan digelar, karnaval, bahkan pidato dan kobaran semangat ’45 digaungkan sembari berteriak: Merdeka! Namun kenyataan yang sesungguhnya, kita belumlah benar-benar merdeka.

Sungguh dunia tahu bahwa dalam sistem kapitalis, mata uang telah menjadi alat kolonialisme (penjajahan) yang ampuh setelah dunia jatuh ke dalam perangkap neoliberalisme. Dolar AS yang digunakan sebagai mata uang dunia telah menancapkan ketergantungan negara yang punya hajat besar bagi pembayaran internasionalnya. Dunia tahu bahwa Indonesia termasuk negara yang kaya akan utang luar negerinya.

Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri Indonesia pada kuartal pertama tahun ini mencapai 387,5 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp5.425 triliun (kurs Rp14.000 per dolar AS). Itu semua tentunya harus dibayar dengan dolar yang sedang mengamuk di negeri ini.

Selain utang, kita tahu bahwa keran impor negeri ini pun sangat terbuka lebar. Dengan banyaknya impor, pembayaran bahan baku dan barang-barang impor pun harus dibayar mahal dengan dolar. Lantas, apa kita masih tidak merasa terjajah oleh dolar?

Wahai bangsa Indonesia, pembayaran utang dan impor yang dibayar mahal dengan dolar akan berimbas pada kita semua. Karena dengan dolar semakin tinggi maka harga-harga pun akan melambung tinggi. Sembako, listrik, gas, barang-barang impor semuanya naik. Dan itu semuanya sudah kita rasakan. Maka saat ini kita lah yang menderita, terjajah di tengah-tengah hari kemerdekaan Indonesia.

Para penjajah kapitalis menginginkan negeri kita yang kaya menjadi jatuh miskin. Miskin harta, miskin ilmu dan pemikiran, sehingga terperosok ke dalam jurang penjajahan yang menjadi tujuan mereka.

 

Asti Marlanti

Jalan Kapten Sangun No 13

Tenjolaya, Cicalengka

Kabupaten Bandung