Harga BBM Naik, Rakyat Makin Tercekik

PASCALEBARAN, masyarakat dikejutkan dengan kenaikan harga BBM. Resminya terhitung sejak Minggu, 1 Juli 2018, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga-harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan sekaligus meluncurkan gas LPG nonsubsidi.

Seperti pada umumnya apabila terjadi kenaikan harga BBM, hal ini akan memicu naiknya harga barang-barang lainnya, terutama sembako dan ongkos jasa transportasi. Tentunya hal ini akan semakin menambah beban berat hidup rakyat, yang pada bulan Juli ini pun tengah dibuat bingung oleh mahalnya biaya pendidikan. Saking bingungnya mencari solusi, baru-baru ini kita menyaksikan para mahasiswa berujuk rasa untuk memprotes semakin mahalnya uang pakal yang harus mereka bayar. Ujuk rasa ini dilakukan dengan membawa sejumlah tulisan di atas kertas karton, bertuliskan tawaran untuk memperjualbelikan sejumlah organ tubuh. Organ tubuh yang mereka tawarkan antara lain mata, ginjal, dan hati dengan harga yang dibanderol seharga puluhan juta. Unjuk rasa ini dilakukan oleh ratusan mahasiswa baru UPI di Kampus UPI Bandung, Senin, (9/7/2018).

Itulah sebagian kecil gambaran kehidupan sempit yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia saat ini. Yang diakibatkan karena penerapan sistem kapitalis sekuler. Dalam sistem kapitalis sekuler penguasa ada bukanlah untuk mengayomi rakyatnya, tetapi untuk mengayomi dan melindungi kepentingan para pemilik modal. Contoh kasus, ketika membuat kebijakan menaikkan harga BBM dan mengeluarkan LPG nonsubsidi, telah menunjukkan bahwa pemerintah kurang sensitif dan peka terhadap kesulitan hidup yang tengah dihadapi rakyatnya dan hanya membuat kebijakan yang berorientasi untuk memperoleh keuntungan materi semata.

 

Iah Robiah

Kampung Warung Lahang

RT 2 RW 2 Desa Nagrog

Kecamatan Cicalengka

Kabupaten Bandung