Dampak Kenaikan BBM Terhadap Nasib Rakyat

UNTUK yang kesekian kalinya, masyarakat Indonesia khususnya kembali medapatkan kado pahit dari pemerintah yaitu kenaikan harga BBM per 1 Juli 2018 lalu. Kenaikannya pun dilakukan oleh pemerintah secara diam-diam, tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu. Meskipun kenaikan harga BBM yang naik adalah BBM non subsidi, tidak menutup kemungkinan harga-harga barang dan jasa pun mengalami kenaikan, yang berujung pada beban hidup masyarakat menjadi semakin berat.

Pada saat yang sama, nilai kurs rupiah terhadap dolar terus melemah. Bahkan per 3 Juli 2018, dolar Amerika mencapai Rp 14.500 per dolar. Dampak yang memberatkan perekonomian dan kehidupan masyarakat kecil menengah, di antaranya kenaikan harga bahan pokok pun melambung tinggi. Sebagai contoh, akhir-akhir ini masyarakat kembali harus menerima kenyataan, harga telur ayam yang melambung tinggi. Bukan hanya telur, kebutuhan pokok lainnya juga ikut naik, seperti daging ayam dan lain-lain. Kenaikan harga-harga tersebut tentu tidak lepas dari naiknya harga BBM.

Sesungguhnya kenaikan BBM dan penghapusan subsidi di berbagai bidang merupakan akibat dari penerapan sistem liberalisme di Indonesia. Tentu liberalisme sangat bertolak belakang dengan kebijakan Islam. Di dalam Islam, BBM merupakan harta milik umum yang pengelolaannya haruslah dilakukan oleh negara yang dibutuhkan semua orang. Maka setiap individu rakyat, memiliki hak untuk memperoleh manfaat dari harta tersebut.

 

Rusmiyanti

Kampung Bojong Cijerah

RT 5 RW 13 Dayeuhkolot

Kabupaten Bandung