Berharap Akademisi Turut Kelola Pembangunan

BANDUNG dalam beberapa tahun ini mengalami perubahan positif yang ditunjukkan dengan banyak dibuatnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) baru, juga fasilitas-fasiltas umum lainnya. Tidak heran Kota Bandung pun berhasil mendapatkan Piala Adipura untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Selain itu, sebagai kota modern, Bandung juga memanjakan para pejalan kaki dengan melebarkan jalur pedestrian (trotoar) di berberapa jalur protokoler yang turut mempercantik kota ini. Akan tetapi, ada satu masalah yang belum terkelola dengan baik di kota ini yaitu moda transportasi masal.

Di era globalisasi sekarang ini, menuntut perpindahan baik orang maupun barang yang cepat. Menurut survei yang dilalukan oleh INRIX tahun 2017, rata-rata orang di Pulau Jawa menghabiskan waktu lebih dari 90 jam terjebak kemacetan per tahunnya. Di Kota Bandung sendiri kemacetan sudah tidak terprediksi lagi dan dapat terjadi sewaktu-waktu. Dengan 66% warganya yang menggunakan kendaraan pribadi juga sistem transportasi yang sedari awal bergantung pada angkutan kota (angkot) semakin membuat jalanan Kota Bandung dipenuhi kendaraan. Selain itu imbas dari pelebaran trotoar pun membuat badan jalan semakin mengecil sehingga memperparah kemacetan.

Moda transportasi masal menjadi salah satu jalan keluar dari penanganan kemacetan di Kota Bandung. Pemkot Bandung sendiri sebenarnya telah mewacanakan pembangunan LRT "Bandung Metro Kapsul". Namun karena satu dan lain hal, pembangunannya masih belum berjalan. Jalan keluar tercepat mengatasi kemacetan saat ini adalah pengoptimalan Trans Metro Bandung (TMB). Bus TMB dan Damri saat ini beroperasi layaknya angkot raksasa. Tidak memiliki jadwal keberangkatan yang tepat waktu, berhenti di sembarang tempat, bukan di halte atau stand plat yang tersedia dan justru memperparah kemacetan yang terjadi.

Jika saja bus-bus tersebut dapat beroperasi secara terjadwal dari pagi hingga malam, serta menaikkan/menurunkan penumpang sesuai tempatnya dan memiliki rute yang melalui jalan-jalan protokol, bukan suatu keniscayaan kemacetan Kota Bandung akan menurun. Tingkat penggunaan kendaraan pribadi menurun serta trotoar dipenuhi oleh pejalan kaki. Selain itu, jika bus dapat menjadi sarana transportasi utama di Bandung, niscaya dapat menekan jumlah angkot yang operasionalnya dapat dimanfaatkan di pinggiran kota yang tidak terjangkau oleh bus atau menjadi transportasi masyarakat dari kawasan permukimannya ke halte atau stand plat bus.

Kota Bandung yang memiliki banyak universitas terkemuka (ITB, Unpad, Unpar, Itenas, dan lain-lain) dengan staf pengajarnya yang intelektual sudah saatnya turut serta dalam tata kelola Kota Bandung baik pembangunan fisik maupun sosial kemasyarakatan. Dengan demikian menjadikan Kota Bandung lebih baik di segala bidang. Ssegala pembangunan yang dilakukan oleh Pemkot Bandung pun tidak semata-mata hanya ”kosmetika” belaka.

 

Demin

Jalan Rajawali Barat No 38

Kota Bandung