Menyoal Kearifan ”Batu Hirup”

SIAPA menduga jika selama ini cekungan Bandung berada dalam bayang-bayang gempa tektonik berskala besar. Potensi gempa dari aktivitas Sesar Lembang telah sejak lama diteliti peneliti kebumian tentang Sesar Lembang dan dosen Institut Teknologi Bandung. Salah satu publikasi hasil penelitiannya disampaikan pada acara kuliah umum 25 Maret 2011 lalu. Mereka menyadari potensi gempa tektonik berskala besar.

Kita tidak menginginkan gempa itu terjadi. Tak ada teknologi yang bisa mencegah terjadinya gempa tektonik. Bahkan, sekadar memprediksi kapan terjadinya gempa pun, masih jauh dari kata pasti.

Hasil penelusuran referensi tentang gempa yang melanda cekungan Bandung, tidak ada keterangan bahwa aktivitas Sesar Lembang telah mengakibatkan gempa dahsyat di masa lalu. Kita bersyukur gempa selama ini masih bersifat impor dari pantai selatan Jawa. Akan tetapi, bukan berarti kita merasa aman dan mengabaikan potensi gempa dari aktivitas Sesar Lembang.

Mungkin kita bisa mengambil hikmah dari kearifan lokal zaman baheula. Para karuhun Sunda menganggap gempa sebagai aktivitas batu hirup yang sedang menggeliat di perut bumi. Batu hirup hanya bergerak sesaat di waktu yang tak terduga. Dia memerlukan ruang gerak saat terbangun. Saat ruang geraknya menyempit, batu hirup akan tetap bergerak tanpa masalah. Akan tetapi, bagi kita itu masalah besar, karena saat itu gempa sedang terjadi.

Mari kita jadikan kawasan sesar Lembang sebagai zona konservasi bagi ekosistem batu hirup. Supaya dia dapat leluasa bergerak tanpa terbebani pembangunan berskala besar. Yang ditakutkan menjadi pemicu terjadinya bencana yang kita khawatirkan selama ini.

 

Septiardi Prasetyo

Kompleks Pasanggrahan Indah

Blok 5 No. 2 Kelurahan Pasanggrahan

Kecamatan Ujung Berung

Kota Bandung