Ada Prabu Siliwangi di Sekolah Kami

Pulang/GUGUM RACHMAT GUMILAR/PR
SEJUMLAH pelajar di Purwakarta pulang bersama usai menuntaskan jam belajar di sekolah, belum lama ini.

 

SEPERTI biasa, Selasa, 17 April 2018 siang, Jalan KK Singawinata berkali lipat lebih sibuk dari ruas jalan lain di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Deru mesin dan klakson adalah irama latar. Teriakan sopir angkot bak nyanyian. Ruas jalan ini memang berujung di pasar tradisional dan pemberhentian angkutan. Riuh dan gerah tak termaafkan.

Keriuhan Jalan KK Singawinata bertambah di jam istirahat belajar. Soalnya di ruas ini pula, berderet sekaligus tiga sekolah negeri berbeda tingkatan. Puluhan orang tua setia menunggu anaknya sambil berteduh di depan SDN; belasan siswa diam berbincang di kerimbunan muka SMPN; beberapa pengurus OSIS juga berkumpul di gerbang depan SMAN. Sementara ratusan pelajar lainnya hilir-mudik bergantian, para pedagang di seberang jalan jadi incaran.

Ketiga sekolah yang mesra berdampingan itu adalah SD Negeri Prabu Suradharmma, SMP Negeri Kahuripan Pajajaran, dan SMA Negeri Sri Baduga Maharaja. Terdengar aneh untuk nama sebuah sekolah negeri, tapi memang begitu nama sekolah-sekolah ini. 

Rerata bangunan di tiga sekolah itu pun bermodel atap julang ngapak, sebuah gaya arsitektur khas Pajajaran. Gedung yang semuanya menjulang tiga lantai, menjadikan sekolah-sekolah ini bukan hanya tampak berbudaya, namun juga gagah berwibawa.

“Sri Baduga itu nama raja zaman dulu,” kata Aldi (16), siswa SMAN, menebak-nebak.

Sri Baduga Maharaja, Kahuripan Pajajaran, maupun Prabu Suradharmma memang hanya identitas tambahan. Nama genetik tiga sekolah yang saling berdekatan itu adalah SDN 1 Nagrikidul, SMPN 1 Purwakarta, dan SMAN 1 Purwakarta. Nama-nama bernuansa Sunda baru digunakan di awal 2015. Disandangkan secara resmi oleh pemerintahan kabupaten setempat, bukan sebatas julukan apa lagi candaan.

Tentang Maharaja

Dialah pimpinan kerajaan Sunda paling masyhur sepanjang sejarah. Memerintah selama 39 tahun lamanya, terhitung 1982-1521 tanpa jeda. 

Sri Baduga Maharaja hanyalah nama depan. Lengkapnya: Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Terlalu panjang memang. Pantas jika masyarakat tatar Pasundan kala itu, sampai urang Sunda setakat kini, lebih akrab dengan julukannya: Prabu Siliwangi.

Sastrawan sekaligus pakar sejarah Sunda, Yoseph Iskandar adalah salah satu sosok yang sering menyinggung betapa beken Prabu Siliwangi di masanya. Selain mewangi sebagai pemersatu bangsa Sunda, sang Prabu juga mengaping tatar Pasundan sampai dikenal di tingkat internasional.

Dia menjadi raja Sunda pertama yang mampu membangun hubungan kenegaraan dengan bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia, mulai Asia sampai Eropa. Hubungan bilateral perdana yang dijalin adalah dengan Portugis pada kisaran 1513.

Tak habis sampai situ, bangsa-bangsa lain turut menjadi karib dekat, terutama dalam bidang perniagaan. Sebut saja Cina, Keling, Parsi, Mesir, Madinah, Cempa, Pahang, dan Kelantan. Untuk memperlancar terjalinnya hubungan antarnegara, Kerajaan Sunda juga sudah mengenal profesi pengalih bahasa. Profesi ini tertulis dalam naskah kuno Sanghyang Siksakandang Karesian dengan istilah "jurubasa damurcaya".

“Setelah membanding-bandingkan dengan para penerusnya, ternyata Dayeuh Pakuan Pajajaran (ibu kota Kerajaan Sunda), mengalami masa jaya ketika dipegang takhtanya oleh Sri Baduga Maharaja,” terang Yoseph Iskandar dalam esai Nilai Tradisional dan Sejarah Pakuan Pajajaran Menurut Naskah Kuna, diterbitkan dalam buku Seri Sundalana 13: Politik Agraria dan Pakuan Pajajaran oleh Pusat Studi Sunda.

Ratusan nama

Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, bersama Prabu Suradharmma, hanya segelintir dari tokoh kerajaan Sunda yang dihadirkan ke tengah-tengah siswa sebagai nama sekolah mereka. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Purwanto menegaskan, sejak pertama kali kebijakan ini dibuat, penamaan langsung diberikan secara serentak pada semua sekolah di bawah naungan dinas yang dia asuh. Sedikitnya ada 400-an SDN, 150-an SMPN, 17 SMAN, dan 18 SMKN. Lebih unik lagi, pencantuman di papan nama sekolah juga menyertakan tulisan beraksara daerah.

“Kecuali MTs dan sekolah sejenis yang berada di bawah lembaga lain seperti Kementerian Agama,” tutur Purwanto, Senin, 16 April 2018.

Beberapa dari ratusan tokoh Sunda yang juga dihadirkan ke sekolah, antara lain Niskala Wastukencana. Sama, dia adalah raja Sunda. Menjadi nama untuk SMAN 2 Purwakarta. 

Ada pula Maharaja Ragamulya Luhur Prabhawa untuk SMPN 3 Pasawahan, Ki Gendeng Luragung untuk SMPN 2 Plered, serta Ki Hajar Sukharesi untuk SDN 4 Nagrikidul. Sementara nama Nyi Subang Larang, istri Prabu Siliwangi, menjadi nama untuk SMKN 2 Purwakarta yang memang mayoritas muridnya adalah wanita. 

Tak mau sesedap hati, pemilihan nama-nama ini melibatkan tim ahli. Sejumlah pakar dari Universitas Padjadjaran Bandung didatangkan. Salah satunya sejarawan kondang Nina Herlina Lubis. Agar jangan sampai nama tokoh yang dipilih justru bertipikal antagonis.

“Kita akan tahu apa yang harus dilakukan ke depan karena kita tahu masa lalu kita, termasuk tahu tokoh-tokoh yang pernah hidup di tanah kita dan membesarkan bangsa kita. Oleh karenanya, anak-anak sekolah harus diperkenalkan dengan tokoh-tokoh itu, agar mengetahuinya,” kata Purwanto memaparkan latar belakang kebijakan tersebut.

Dari padu-padan antara budaya tradisional dengan kurikulum pendidikan, diharapkan bisa lahir generasi tangguh tatar Pasundan. Generasi yang unggul karena pendidikannya, sekaligus bermoral karena agama dan budayanya. 

“Walaupun mereka nantinya hidup di era digital dan sudah bicara komputer, tapi generasi ini akan paham betul karakter yang harus dibangun di dalam dirinya,” tutur Purwanto.

Apa yang dilakukan di Purwakarta, barulah langkah awal. Baru sebatas memperkenalkan nama dari tokoh-tokoh Sunda masa lama. Tahap selanjutnya adalah membuat para pelajar bangga dengan tokoh-tokoh mereka. Lebih jauh lagi, mengidolakannya dan mengambil nilai-nilai positif dari kiprahnya. Ini disebut dengan teori modeling dalam dunia pendidikan. Teori yang diperkenalkan Albert Bandura, psikolog ternama asal Kanada.  

“Salah satunya itu, pelajar mencontoh idolanya. Kejayaan yang dibangun pendahulu pada masa lalu harus menjadi spirit bagi dia untuk membangun daerahnya menjadi lebih maju,” kata Purwanto, dengan semangat menggebu.

Menelaah kiprah

Teddi Muhtadin, Dosen Sastra Sunda Universitas Padjadjaran Bandung memberi apresiasi terhadap pemberian “identitas tambahan” bagi sekolah-sekolah di Purwakarta. Menurutnya, ini merupakan langkah awal yang tepat untuk mengingatkan kembali masyarakat Sunda kiwari terhadap sejarah kejayaan tatar Pasundan era lama. Karena jangankan runtutan peristiwa beserta maknanya, nama-nama tokoh Sunda di masa lalu saja sudah banyak yang lupa.

“Ini hal positif dan bagus. Saat ini, yang banyak tahu tokoh-tokoh kerajaan Sunda mungkin hanya kalangan peneliti dan sejenisnya. Tapi kalau masyarakat umum, sudah melupakan. Masyarakat mungkin tahunya hanya Prabu Siliwangi yang memang sudah menjadi bagian budaya lisan, kalau nama tokoh-tokoh lain, sudah mereka lupa, dan ini perlu dikenalkan kembali sebagai pendidikan sejarah,” papar Teddi, Senin, 16 April 2018.

Meski mengapresiasi, Teddi juga memiliki aspirasi. Menurut dia, ada baiknya yang dihadirkan bukan sekadar nama. Lebih dari itu, siswa juga diberi penjelasan mendalam tentang kiprah dari sosok yang dicantumkan di papan muka sekolah mereka.

“Penjelasannya bisa lewat apa saja, bisa lewat film atau sejenisnya. Kenalkan pada para siswa kita terkait latar belakang, peran, dan kiprah tokoh itu dalam konteks kasundaan dan ke-Indonesiaan, sehingga pemberian nama tidak menjadi upaya pelestarian yang terkesan memaksakan,” kata Teddi, memberi inspirasi.

Kini waktunya kalian memilih, untuk kehidupan selanjutnya, agar nanti bisa sejahtera, senang, sentosa, bisa mendirikan lagi Pajajaran. Bukan Pajajaran yang sama dengan hari ini, tapi Pajajaran yang baru, yang berdiri di atas perubahan zaman.. (Terjemahan bebas dari potongan Uga Wangsit Siliwangi, pesan terakhir Prabu Siliwangi sebelum dikisahkan menghilang)***

Baca Juga

Benih Literasi dalam Dongeng Sebelum Tidur

KENZIE Wira Ardhani (6) sudah cawis dengan piama hitam bergambar Mickey Mouse saat jam dinding menunjukkan pukul 20.30 WIB, Minggu malam, 12 Agustus 2018. Lingkungan kediamannya di kawasan Kopo, Kota Bandung, juga sudah kian sepi.