Sup Yusup, Seniman Lawak Sunda

Sup Yusup terbaring sakit di Ruang Obserbvasi Kelas II RSUD Ujungberung Bandung akibat penyakit diabetes dan paru-parunya yang kembali kambuh.*
RETNO HY/PRLM
Sup Yusup terbaring sakit di Ruang Obserbvasi Kelas II RSUD Ujungberung Bandung akibat penyakit diabetes dan paru-parunya yang kembali kambuh.*

BANDUNG, (PRLM).- Sosok seniman senior Kota Bandung Sup Yusup (73) yang biasanya ceria bila membalas sapaan sama sekali tidak terlihat saat Walikota Bandung H. Dada Rosada beserta Wakil Walikota Ayi Vivananda dan Sekda Kota, Edi Siswadi datang menjenguk. Sudah dua pekan ini Sup Yusup terbaring sakit di Ruang Obserbvasi Kelas II RSUD Ujungberung Bandung akibat penyakit diabetes dan paru-parunya yang kembali kambuh.

Dikalangan seniman lawak, Sup Yusup dikenal sebagai sosok panutan selain Almarhum Abah Us Us dan Kang Ibing (Rd. Aang Kusmayatna Kusumadinata). “Dia sangat mudah untuk dimintai tolong dan nyaris tanpa pamrih atau meminta imbalan. Bahkan dia (Sup Yusup) akan dengan senan hati membantu dan memberi,” ujar seniman Adjie Esa Poetra, saat dimintai kometarnya tentang sosok Sup Yusup.

Sup Yusup adalah salah satu dari sekian seniman asal Kota Bandung ataupun Jawa Barat yang membawakan lawakan dengan kekhasannya yang Nyunda. Selain Sup Yusup, karakter orang Sunda yang ditampilkan dalam komedian (lawakan) diantaranya Abah Us Us, Kang Ibing,dan Yan Asmi yang ketingganya sudah meninggal. Selain itu juga ada Aom Kusman, Rudi Jamil, Sambas, Maman Widjaya, Kusye, dan lainnya.

Namun dibandingkan dengan para pelawak Nyunda lainnya, Sup Yusup memiliki karakter atau ciri tersendiri. Selain memiliki postur tubuh yang tinggi dan kumis hitam tebal, Sup Yusup juga memiliki suara yang lantang.

Diusianya yang masih belia di tahun 1960-an, Sup Yusup mulai mengenal dunia lawak atau bodoran (sunda, red) sejak bertemu dengan rekannya Sambas dan Maman Wijaya. Namun namanya mulai dikenal saat diajak bergabung oleh Abah Us Us yang dikenal sebagai Jerry Lewisnya Sunda dalam grup lawak D’Bodors.

Setelah lepas dari D’Bodors, Sup Yusup mulai hijrah ke Ibu Kota Jakarta dan membentuk lawak 4 S bersama Sofyan Hanggono, Suryana Fatah (De Kabayan) serta
Sol Saleh. Mereka cukup lama bersama-sama melawak setelah kemudian di tahun 1975an Sup Yusup dan Sol Saleh bergabung dengan Ateng dan Iskak, sementara
Sofyan Hanggono (Wawa Sofyan) dan Suryana Fatah (Abah Holiang) membentuk grup De Bodor bersama Kang Ibing, Aom Kusman dan Ujang.

Bersama Ateng dan Iskak juga nama Sup Yusup serta Sol Saleh sebagai seniman lawak Sunda melambung. Sejumlah film dibintangi keduanya, semisal pada film adalah “Ateng Bikin Pusing” (1977) sutradara Hasmanan, yang dibintangi Sup Yusup bersama Ateng, Iskak, Wolly Sutinah, Rus Pentil, Vivi Sumanti, Sol Saleh,Tatiek Suwarno,Chitra Dewi dan Johny Gudel.

Film “Ateng Sok Aksi” (1977) dengan disutradara Ahmad Jamal, dan bintang fil Ateng, Iskak, S. Bagio, Lenny Marlina, Kusno Sudjarwadi, Johny Gudel, Kardjo AC-DC, Darto Helm, Diran, Ade Irawan dan Sol Saleh. Film “Dang Ding Dong”(1978) karya Imam Tantowi yang dibintanginya bersama Ateng, Iskak serta Titiek Suwarno.

Dan masih banyak film komedi yang dibintangi Sup Yusup. Bersamaan dengan masa kejayaan TVRI dan munculnya stasiun swasta, dunia hiburan lawak semakin memudar. Demikian pula halnya dengan Sup Yusup, bersamaan dengan satu persatu rekannya sesame seniman lawak meninggal dunia (Ateng, Iskak, Darto Helm, Diran, S. Bagio dan Eddy Sud), semakin jarang manggung dan memilih kembali ke Bandung. Namun demikian dua seni tidak pernah ditinggalkannya. (A-87/das)***