• Rabu, 10 Februari 2010
  •                     |                            
  • PR Online
  • Home
  • Pikiran Rakyat Cetak
  •                             |

PDF

  • screenshoot pr cetak

OLE-OLE

 
si kabayan

CUACA BANDUNG

Utara Timur Selatan Barat Tengah
Sumber: BMG Bandung

JADWAL SHOLAT

Bandung & Sekitarnya
Subuh 04:35 WIB
Zuhur 12:06 WIB
Asar 15:21 WIB
Magrib 18:17 WIB
Isya 19:28 WIB

TUNGGU DULU

SATU restoran tradisional di Dubai (UAE) telah menambahkan masakan baru ke dalam menunya yang dikatakan pilihan bagi pemakan daging yang sadar kesehatan, yaitu ”camel burger” (burger unta). Burger dengan seperempat pon daging unta diisi keju dan saus, demikian laporan Xpress. Asisten Manajer Ali Ahmad Esmail mengatakan, burger itu bebas lemak dan kolesterol. Bisa ditemani dengan minuman ringan atau susu unta. Tahun lalu, satu kedai makanan cepat saji di Arab Saudi juga memasukkan burger anak unta di dalam daftar menunya. (Rtr)***

Budi Daya Kelinci Lembang Ala Asep Rabbit

SEORANG petugas melakukan pengecekan di salah satu kandang kelinci, di peternakan kelinci Asep Rabbit di Jln. Raya Lembang Desa Gedong Kahuripan, Kampung Babakan Laksana, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (23/4).*ADEBAYU INDRA/"PR"

Delapan belas tahun sudah Asep Sutisna (45) yang akrab disapa Asep Rabbit, bergelut dengan peternakan kelinci. Hewan yang identik dengan sayuran wortel itu kini menjadi garapan Asep dalam breeding atau pembibitan kelinci yang berkualitas di Jalan Raya Lembang No. 119, tepatnya di Kp. Babakan Laksana, RT 4 RW 7, Desa Gedong Kahuripan, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat.

Atas ketekunan bapak dua anak ini, peternakan kelincinya menjadi rujukan penelitian jurusan peternakan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Terakhir, Asep didaulat untuk mengadakan "World Rabbit Science" 2007 lalu di Lembang. Terdapat dua puluh peserta dari berbagai negara yang memiliki minat sama dalam pembudidayaan kelinci.

Asep semula berprofesi sebagai fotografer di studio kecil miliknya. Awalnya, keakraban lelaki berambut cepak pada kelinci itu bermula dari sang anak yang menyukai dan memelihara kelinci. Kelinci yang dimiliki hanya lima ekor. Kemudian, terus bertambah karena beranak, hingga ia pun menjualnya serta membeli kembali pasangan kelinci lainnya.

"Ternyata, saya tertarik dengan beternak kelinci ini. Saya gantungkan saja kamera, yang waktu itu menjadi mata pencaharian, dan beralih untuk membudidayakan kelinci," tuturnya.

Asep tidak tinggal diam. Ia mencari sumber ilmu dalam beternak kelinci. Sampai-sampai, dia pernah pesimistis karena ada pihak yang meragukannya berhasil beternak kelinci. "Saya diperlakukan seperti itu bukannya putus asa, malah semangat saya semakin terpacu," kata dia.

Dengan terus belajar, ia pun meraih kesuksesan. Puncaknya, sebanyak seribu ekor kelinci pernah ia budi dayakan. Namun, itu dahulu. Kini, Asep membatasi kelinci miliknya menjadi lima ratus ekor. Pasalnya, peternakan miliknya hanya meliputi pembibitan. Sementara stok akhir ada di masyarakat peternak.

"Kalau terlalu banyak kelinci, saya rasa kurang efektif. Saya harus mempertimbangkan jumlah karyawan dan gajinya. Saat ini, saya mempunyai dua pegawai untuk memberi makan dan mengurus sanitasi kandang kelinci," ungkapnya.

Asep menjelaskan, lima belas jenis kelinci ia kembang biakan. Di antaranya, jenis rex, english angora, dan new zealand. Baginya, membibitkan dan mengawinkan segala jenis ras kelinci merupakan hal yang menarik.

Ras baru

"Mengawinkan kelinci itu bagaikan media lukis yang bisa dijadikan apa saja. Kami bisa menciptakan ras baru hasil dari persilangan. Di sini, ada pencatatan turunan silsilah kelincinya," ujarnya.

Kelinci-kelinci tersebut, kata Asep dihargai variatif. Untuk bibit, anak kelinci berkisar Rp 25.000,00 sampai Rp 1 juta. Sedangkan induk kelinci, harganya Rp 150.000,00 sampai Rp 6 juta. Selain menjual kelinci, Asep pun menjual pakan kelinci atau pelet racikan sendiri.

Menurut Asep, kelinci cukup prospektif untuk dijadikan ajang bisnis peternakan. Dia siap membantu bagi siapa yang berminat untuk membudidayakan kelinci. Dalam beternak kelinci, menurut dia, bukan hanya modal finansial yang diperlukan tetapi juga butuh ilmu dan teknik yang memadai. Pasalnya beternak kelinci bukan bermain matematika, di sana ada risiko yang harus diterima yaitu kematian kelinci.

"Kelinci jangan hanya dijadikan ternak alternatif. Kelinci merupakan variasi sumber protein. Saya berharap di Indonesia dapat membangun pusat pembibitan dengan didirikan suatu yayasan. Dengan demikian, swasembada daging bisa terpenuhi," tuturnya. (Novianti Nurulliah/"PR")***

Penulis:
Back