Tugu Kujang Pusaka Menjadi Simbol Semangat Juang
TUGU Kujang Pusaka di pelataran parkir Kampung Naga, Desa Neglasari, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya, diresmikan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Kamis (16/4). Tugu setinggi lima meter itu terbuat dari sembilan ratus keris pusaka dari berbagai kerajaan di nusantara.* CECEP S.A./"PR"
TASIKMALAYA, (PR).-
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengharapkan, Tugu Kujang Pusaka dijadikan simbol kejujuran, kekuatan, dan keberanian untuk mempertahankan kebenaran. Tugu itu pun hendaknya tidak dipandang sebagai jimat.
"Kita khawatir kalau dipandang sebagai jimat, ada yang menyimpan sesajen esok lusa. Ini bahaya bila dinilai dari sisi akidah yang kita anut. Akan tetapi, tatkala itu dipandang sebagai simbol, boleh. Tidak ada persoalan," kata Ahmad Heryawan ketika meresmikan Tugu Kujang Pusaka di pelataran parkir Kampung Naga, Desa Neglasari, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya, Kamis (16/4).
Menurut Gubernur, kita memerlukan simbol-simbol, apa pun bentuknya, termasuk kujang yang sudah disepakati sebagai simbol tatar Sunda. "Terutama untuk membangkitkan semangat juang, semangat membangun, semangat menghadirkan kebaikan, menghilangkan kebodohan dan keterbelakangan," katanya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Tasikmalaya Drs. E.Z. Alfian, M.Pd. menjelaskan, pembangunan Tugu Kujang Pusaka itu merupakan wujud pelestarian bahasa, sastra, dan budaya daerah, dengan tujuan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Sunda tempo dulu. Selain menciptakan media pembelajaran bagi generasi masa kini dalam mempelajari sejarah kehidupan masyarakat Sunda, juga untuk menciptakan daya tarik wisata Jawa Barat, khususnya di Tasikmalaya.
Pembangunan Tugu Kujang Pusaka ini diprakarsai Kapolwil Priangan Komisaris Besar Anton Charliyan dan K.R.A.T. H. Derajat Hadiningrat dari Graha Liman Kencana Garut, dan didukung sepenuhnya oleh Pemkab Tasikmalaya.
Kujang Pusaka, menurut Alfian, dibuat di Keraton Solo, Jawa Tengah, dipimpin Mpu K.R.T. Dedi Partono Asmodipuro. Biaya pembangunan monumen itu dihimpun dari para dermawan, yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian dan pembangunan budaya Sunda.
Pada monumen tersebut dilengkapi Kujang Pusaka yang terbuat dari bahan besi "ajie", yang dilebur dari sembilan ratus keris pusaka dari berbagai kerajaan di nusantara. Dua keris, di antaranya milik Raja Padjadjaran, yakni keris Kujang Pusaka milik Prabu Surya Amiluhur (memerintah tahun 1248 M), yang dibuat oleh Mpu Windhu Srpa, dan keris Kujang Pusaka milik Prabu Sri Pamekas (memerintah tahun 1338 M), yang dibuat oleh Mpu Anjani.
Dalam kesempatan itu, sesepuh Kampung Naga Ade Suherli menyerahkan penghargaan, antara lain kepada Direktur Utama Pikiran Rakyat H. Syafik Umar, Wali Kota Tasikmalaya H. Syarif Hidayat, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Kapolwil Priangan Komisaris Besar Anton Charliyan, Wakil Bupati Tasikmalaya H.E. Hidayat, Danrem 062/Tarumanagara Kolonel Inf. Moch Rahmat, Kepala Disparbud Tasikmalaya E.Z. Alfian, Danbrigif 13/Kujang Kolonel Inf. Cucu, sesepuh Brigif Kujang Adam Damiri, Ketua Paguyuban Pasundan H. Syafei, dan K.R.A.T. H. Derajat Hadiningrat dari Graha Liman Kencana Garut. (A-14)***
Penulis: