• Selasa, 09 Februari 2010
  •                     |                            
  • PR Online
  • Home
  • Pikiran Rakyat Cetak
  •                             |

PDF

  • screenshoot pr cetak

OLE-OLE

 
si kabayan

CUACA BANDUNG

Utara Timur Selatan Barat Tengah
Sumber: BMG Bandung

JADWAL SHOLAT

Bandung & Sekitarnya
Subuh 04:34 WIB
Zuhur 12:06 WIB
Asar 15:23 WIB
Magrib 18:18 WIB
Isya 19:29 WIB

TUNGGU DULU

PENGELOLA program TV I’m a Celebrity...Get Me Out of Here! versi Jerman menghadapi tuntutan hukum atas matinya tiga ikan emas. Gugatan diajukan setelah bintang idola remaja, Daniel Kueblboeck melakukan atraksi menantang menggunakan sejumlah ikan emas dan laba-laba air. Akibat atraksinya itu, tiga ikan emas mati tergencet. Meskipun acara itu memiliki "rating" cukup tinggi, Departemen Kehakiman menegaskan hal itu adalah pelanggaran karena binatang mendapat perlindungan hukum. Atraksi itu telah membuat citra buruk dan mengabaikan martabat manusia. (Ananova)***

"Puragabaya", Novel Kritik Dwifungsi ABRI

PENULIS novel "Puragabaya" Saini KM (kanan) didampingi budayawan Jakob Sumardjo hadir pada acara diskusi novel "Puragabaya" di aula Redaksi "Pikiran Rakyat" Jln. Soekarno Hatta 147 Bandung, Kamis (27/11).* DIDIN. SJ/PROTOKOL "PR"

 

NOVEL Puragabaya karya Saini KM yang terbit pada tahun 1970-an, bila dilihat secara hermeneutik merupakan novel yang mengkritik dwi fungsi ABRI pada masa pemerintahan Orde Baru. Novel tersebut sebelumnya selama tujuh tahun dimuat secara bersambung di HU Pikiran Rakyat Bandung. Pada zamannya, novel itu mengalahkan popularitas cerita silat yang ditulis orang yang mengangkat latar budaya Kerajaan Pajajaran.

Pada sisi yang lain, novel tersebut menarik dibaca, antara lain karena Saini mampu menggambarkan apa dan bagaimana silat Sunda, serta apa dan bagaimana para kesatria Sunda pada zamannya, yang mempunyai tugas semata-mata melindungi negara, dan tidak aktif dalam dunia politik. Idealisasi Saini terhadap ABRI pada saat itu pun demikian adanya, yakni hanya melindungi rakyat dan negara, dan tidak aktif dalam dunia politik lewat kekuasaan yang dikreasinya.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi novel Puragabaya yang digelar Pikiran Rakyat bekerja sama dengan penerbit buku Bentang, Yogyakarta di kantor Redaksi "PR" Jln. Soekarno-Hatta 147 Kota Bandung, Kamis (27/11).

Novel tersebut diterbitkan ulang dalam tiga jilid oleh penerbit buku Bentang, Yogyakarta, dalam kemasan baru. Ketiga buku tersebut masing-masing diberi judul Pangeran Anggadipati, Raden Bayak Sumba, dan Pertempuran Terakhir.

Pada acara yang dipandu Ahda Imran itu, hadir sebagai pembicara, Direktur Utama Pikiran Rakyat H. Syafik Umar, budayawan Prof. Drs. Jakob Sumardjo, Manajer Penerbit Buku Bentang Yogyakarta Salman Faridi, dan pengamat sastra Drs. Teddy A.M., M.Hum.

H. Syafik Umar mengatakan, pada dekade 1970-an banyak pembaca Pikiran Rakyat yang meminati novel Puragabaya karya Saini KM, sehingga dimuat secara bersambung selama tujuh tahun. Novel tersebut menarik dibaca karena Saini mampu mengolah nilai-nilai kesundaan, dalam hal ini nilai-nilai dalam silat Sunda, lebih jauhnya dalam menjalani kehidupan sebagai kesatria Sunda, yang membela rakyat dan negara tanpa pamrih.

"Di dalam novel itu ada keserakahan, dendam, dan kearifan. Apa yang diolah Saini dalam novelnya itu sungguh memikat dan tidak terasa menggurui. Ini terjadi karena Saini KM sangat paham dengan apa dan bagaimana budaya Sunda," ujar Syafik Umar.

Dalam kesempatan tersebut, Saini KM mengatakan, apa yang ditulisnya itu lebih merupakan obsesi pribadi dalam menyikapi gejolak zaman yang tengah dihadapinya saat itu. "Novel tersebut saya tulis saat usia saya masih muda. Jadi bila ditinjau pada saat ini tentulah sangat banyak kekurangannya. Saya ucapkan terima kasih kepada Pikiran Rakyat yang telah memuatnya dalam rentang waktu 7 tahun," katanya.

Sementara itu, Jakob Sumardjo mengatakan, novel tersebut bukanlah novel silat sebagaimana novel silat Cina atau novel-novel silat lainnya yang para tokohnya saling menghancurkan. "Novel silat Saini di luar novel silat yang demikian. Ini adalah novel silat Sunda di mana para kesatrianya tidak ingin menyakiti apalagi menghancurkan lawan. Selain itu, novel ini pun bukan novel sejarah. Apa sebab? Karena fakta-fakta sejarah yang ada di dalam novel tersebut pada satu sisi tidak bisa dilacak, demikian juga dalam soal puri sebagai bangunan kerajaan. Dalam tradisi Sunda, kita tidak mengenal kata puri, yang ada adalah keraton atau kadatuan," ujar Jakob Sumardjo.

Masuknya kata puri, itu disebabkan Saini terlalu terpukau oleh kebudayaan Eropa. Untuk itu, kegiatan menafsir ulang warisan budaya masa lampau yang dikerjakan Saini saat menulis novel tersebut lebih bersifat afirmasi dan belum sampai pada tingkat restorasi, apalagi negasi dan inovasi. Sikap Saini ini dapat diketahui karena generasi masa kini rata-rata mengabaikan dan terputus dengan masa lalunya sebagai bangsa.

Teddy A.M. mengatakan, apa yang ditulis Saini --terlepas dari kelemahan dan kelebihannya-- cukup memikat, karena setiap soal dipaparkannya dengan jernih, dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apa yang diungkap Teddy sejalan dengan apa yang diungkap Salman Faridi, Manajer Penerbit Buku Bentang. (Soni Farid Maulana/"PR")***

Penulis:
Back